Beli Saham Saat Pasar Jeblok? Simak Dulu Resep Jitu JPMorgan

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
02 April 2020 07:31
JPMorgan Asset Management memperingatkan investor supaya tidak terburu-buru untuk berinvestasi di saham.
Jakarta, CNBC Indonesia - JPMorgan Asset Management memperingatkan investor supaya tidak terburu-buru untuk berinvestasi di saham saat ini lantaran karena pasar saham masih rentan terhadap perkembangan negatif dari krisis coronavirus (Covid-19) yang berimbas pada perekonomian global.

"Saya belum yakin merekomendasikan posisi aset-aset overweight [saham yang harganya sudah lebih tinggi] yang berisiko karena kondisinya masih rentan terpengaruh skenario kemunduran berita soal medis [terkait corona]," kata Hugh Gimber, ahli strategi pasar global di JPMorgan Asset Management, dalam sebuah wawancara telepon, dikutip Bloomberg, Kamis (2/4/2020).

"Langkah-langkah kebijakan berhasil membantu [stabilkan pasar], tetapi apa yang sudah dilakukan [stimulus pemerintah dan bank sentral] tidak dengan sendirinya bagi kami untuk menilai pasar sudah definitif berada di bottom [level bawah] saat ini."


Pasar saham global sempat menguat pada pekan lalu dan Senin pekan ini di tengah optimisme pasar bahwa stimulus fiskal dan moneter yang dilakukan pemerintah dan bank sentral sejumlah negara bisa membatasi dampak ekonomi dari virus corona.


Gimber menegaskan saat ini belum waktu yang tepat 'menyalakan' risiko lantaran tingkat penurunan dari laba bersih perusahaan di bursa efek pun masih belum bisa diketahui, sehingga terlalu berbahaya untuk masuk ke pasar saham.

Data perdagangan mencatat, pada Rabu pagi 1 April 2020 (Selasa waktu AS, 31 Maret), bursa Wall street ditutup melemah. Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) turun 410 poin atau 1,8% menjadi 21.917,6, terbebani oleh saham American Express, yang turun lebih dari 5%. Sementara indeks S&P 500 turun 1,6% menjadi 2.584,59 dan Nasdaq Composite juga turun hampir 1% menjadi 7,700.10.


Pada pembukaan perdagangan Rabu pagi waktu AS (Rabu tadi malam), b
ursa saham AS dibuka melemah menyusul kekhawatiran makin runyamnya penyebaran virus corona. DJIA tergerus 689,78 poin (-3.15%), Nasdaq turun 237,08 poin (-3,08%) ke 7.478,03 dan S&P 500 tertekan 98,25 poin (-3,8%) ke 2.486,34.

Presiden AS Donald Trump pada Selasa malam mengatakan bahwa AS akan menghadapi "dua pekan yang sangat-sangat pedih" akibat virus corona baru. Pemerintah AS memperkirakan korban jiwa virus ini akan berkisar antara 100.000 dan 240.000 orang.

"Ini bisa menjadi neraka selama dua pekan. Bisa jadi dua pekan, dan mungkin bisa tiga pekan. Ini akan menjadi tiga pekan yang tak pernah kita saksikan sebelumnya," ujar Trump di Gedung putih sebagaimana dikutip CNBC International.

Gimber mengatakan perseroan, aset manajemen yang mengelola dana hingga US$ 1,9 triliun itu, tengah memantau sentimen penggerak pasar yakni data tenaga kerja di AS dan Eropa guna menganalisis tanda-tanda seberapa cepat ekonomi akan mampu pulih setelah langkah penguncian atau lockdown (karantina) wilayah disetop. Sentimen ini menurut Gimber bisa menjadi sinyal untuk melanjutkan pembelian saham.

Kriteria saham
Selama masa-masa sulit ini, jika ingin masuk, Gimber merekomendasikan agar investor fokus pada perusahaan dengan kualitas neraca yang kuat dan tingkat leverage (rasio utang) yang rendah baik dalam hal pemilihan saham maupun pembelian obligasi perusahaan.

"Anda ingin berinvestasi di perusahaan, [cari] yang memiliki fleksibilitas neraca yang baik agar dapat menangani tekanan jangka pendek dan berhasil keluar menjadi [perusahaan] yang paling kuat," katanya.


Di pasar obligasi, Gimber menekankan untuk memilih surat utang pemerintah dengan tenor lebih pendek daripada utang dengan jangka waktu lebih panjang karena ia melihat keuntungan atau yield (imbal hasil) lebih terbatas.

Gimber juga tertarik pada obligasi perusahaan yang mendapatkan manfaat dari stimulus yang dikeluarkan bank sentral AS, Federal Reserve, dan sejumlah bank sentral lainnya.

Dia menekankan agar investor berhati-hati pada surat utang dengan bunga atau yield tinggi (high yield) yang dikeluarkan oleh perusahaan dengan neraca yang lemah.

"Bank-bank sentral akan membantu memecahkan tantangan likuiditas bagi korporasi, tapi mereka [bank sentral] tidak bisa membantu memecahkan masalah solvabilitas [rasio kesehatan] untuk perusahaan-perusahaan yang berada di bawah tekanan," kata Gimber.

Namun, kata Gimber, tingkat spread atau selisih dari obligasi berbunga tinggi (high yield) tadi memang tak bisa dipungkiri menawarkan peluang masuk yang baik bagi investor yang ingin berinvestasi selama 1-2 tahun. Hal ini karena dalam jangka pendek, "volatilitas pergerakan harga obligasi bisa signifikan," katanya.



[Gambas:Video CNBC]




(tas/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading