The Fed Diprediksi Aktifkan QE, Yen Kembali Perkasa

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
05 March 2020 11:11
Bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) yang memangkas suku bunga secara agresif membuat dolar terpukul, dan yen menjadi perkasa.
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar yen Jepang kembali menguat melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (5/3/2020) setelah melemah akibat aksi ambil untung (profit taking) Rabu kemarin.

Sebelum diterpa aksi profit taking, mata uang Negeri Matahari Terbit ini sudah menguat lebih dari 4% sejak pekan lalu dan mendekati level terkuat 5 bulan di awal perdagangan Rabu kemarin. Pagi ini, pukul 9:15 WIB, yen menguat 0,11% di 107,4/US$ di pasar spot melansir data Refinitiv.

Bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) yang memangkas suku bunga secara agresif membuat dolar terpukul, dan yen menjadi perkasa.




Selasa malam (Rabu pagi waktu AS) The Fed secara tiba-tiba mengumumkan memangkas suku bunga acuannya atau Federal Funds Rate (FFR) sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 1-1,25% pada Selasa pagi waktu setempat. Pemangkasan yang agresif tersebut merupakan yang pertama sejak Desember 2008 atau saat krisis finansial terjadi. Kala itu The Fed memangkas suku bunga sebesar 75 bps.

Bank sentral paling powerful di dunia ini seharusnya mengadakan Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 17-18 Maret waktu AS, tetapi penyebaran wabah corona virus menjadi alasan The Fed memangkas suku bunga lebih awal dari jadwal RDG.

Dalam konferensi pers setelah pengumuman tersebut, pimpinan The Fed Jerome Powell mengatakan keputusan pemangkasan suku bunga diambil setelah para anggota dewan The Fed melihat wabah virus corona mempengaruhi outlook perekonomian.

"Besarnya efek virus corona terhadap perekonomian AS masih sangat tidak menentu dan berubah-ubah. Melihat latar belakang tersebut, anggota dewan menilai risiko terhadap outlook perekonomian telah berubah secara material. Merespon hal tersebut, kami telah melonggarkan kebijakan moneter untuk memberikan lebih banyak support ke perekonomian" kata Powell sebagaimana dilansir CNBC International.

Sinyal The Fed akan memangkas suku bunga sebenarnya sudah muncul sejak pekan lalu yang membuat dolar AS terus tertekan.

Jumat (28/2/2020) Powell mengatakan akan "bertindak sesuai kebutuhan" untuk membantu perekonomian. Usai pernyataan tersebut, pasar langsung menilai The Fed akan memangkas suku bunga secara agresif di tahun ini.

Tetapi pelaku pasar tidak menduga The Fed akan memangkas suku bunga di pekan ini, padahal jadwal RDG tinggal dua pekan lagi. Akibatnya, The Fed diprediksi akan lebih agresif lagi.



CNBC International mewartakan, para pelaku pasar memperkirakan suku bunga akan kembali di pangkas saat mengumumkan kebijakan moneter pada 18 Maret (19 Maret waktu Indonesia). Demikian juga dengan pelonggaran moneter lebih lanjut, bisa berupa program pembelian aset (quantitative easing/QE) di bulan April.

Jika hal tersebut benar terjadi, kebijakan The Fed tersebut akan serupa dengan tahun 2008 ketika terjadi krisis finansial. Dampaknya dolar tertekan melawan mata uang utama, termasuk yen

TIM RISET CNBC INDONESIA
(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading