Melemah Nyaris 2% Sejak Pekan Lalu, Yen Kian Merana

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
17 January 2020 10:25
Yen merupakan aset yang menyandang status safe haven, ketika sentimen terhadap risiko pelaku pasar membaik, maka yen menjadi tidak menarik.
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar yen Jepang kembali melemah melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (17/1/2020) masih berada di level terlemah sejak 23 Mei tahun lalu.

Setelah kesepakatan dagang fase I AS-China, kini data ekonomi dari kedua negara tersebut yang memberikan tekanan terhadap yen.

Yen merupakan aset yang menyandang status safe haven, ketika sentimen terhadap risiko pelaku pasar membaik, maka yen menjadi tidak menarik.


Pada pukul 9:40 WIB, yen diperdagangkan di level 110,19/US$ melemah tipis 0,05% di pasar spot, melansir data Refinitiv. Namun, kurs yen sudah melemah sejak awal pekan lalu, dengan total pelemahan nyaris 2%.



Kesepakatan dagang fase I ditandatangani oleh Presiden AS Donald Trump dan Wakil Perdana Menteri China Liu He pada hari Rabu (15/1/2020) di Washington.

Dalam kesepakatan dagang fase I, AS menurunkan bea masuk impor dari sebelumnya 15% menjadi 7,5% terhadap produk China senilai US$ 120 miliar. Sementara China akan membeli produk AS senilai 200 miliar dalam dua tahun ke depan.

Selain itu, semua mengenai bea masuk kedua negara masih sama. AS masih mengenakan bea masuk sebesar 25% terhadap produk China senilai US$ 250 miliar, sementara China mengenakan bea masuk terhadap produk AS senilai US 110 miliar.


Meski damai dagang belum terjadi sepenuhnya, dengan adanya kesepakatan dagang fase I setidaknya mengecilkan potensi eskalasi perang dagang, pertumbuhan ekonomi diharapkan mampu bangkit di tahun ini. Dampaknya risk appetite pelaku pasar meningkat dan yen ditinggalkan.

Sentimen pelaku pasar pagi ini juga masih cukup bagus setelah rilis data pertumbuhan ekonomi China yang tumbuh 6% di kuartal IV-2019, sama dengan pertumbuhan kuartal sebelumnya. Sepanjang tahun 2019, ekonomi China tumbuh 6,1% dan menjadi yang terendah dalam nyaris tiga dekade terakhir.

Namun pelambatan ekonomi China bukan suatu kejutan bagi pasar, hal tersebut sudah diprediksi oleh para analis setelah perang dagang dengan AS terjadi.
Pelaku pasar merespon data lain dari China, produksi industri dilaporkan tumbuh 6,9% year-on-year (YoY) di bulan Desember, lebih tinggi dari bulan sebelumnya 6,2%. Investasi aset tetap tumbuh 5,4% naik dari bulan November 5.2%, dan penjualan ritel naik 8% di Desember.

Data-data tersebut menunjukkan ekonomi Tiongkok kembali bergeliat di penghujung 2019, dengan kesepakatan dagang fase I sudah diteken momentum pertumbuhan bisa bertambah lagi.



Sementara itu dolar AS mendapat tenaga untuk menguat setelah Kamis kemarin data penjualan ritel di bulan Agustus dilaporkan tumbuh 0,3% month-on-month (MoM) pada Desember, sesuai dengan prediksi Reuters dan lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang tumbuh 0,2%.

Namun yang mengejutkan, penjualan ritel inti, yang tidak memasukkan sektor otomotif dalam perhitungan, tumbuh 0,7% MoM, jauh lebih tinggi dari prediksi Reuters 0,5% dan pertumbuhan bulan sebelumnya 0,1%. Data tersebut menjadi data bagus pertama setelah sebelumnya data tenaga kerja dan inflasi dari AS dirilis mengecewakan.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]




(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading