Analisis

'Produk Turunan' Virus Corona Bawa Emas ke Atas US$ 1.600/oz

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
19 February 2020 15:05
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dunia kembali menguat pada perdagangan Rabu (19/2/2020) setelah menembus ke atas US$ 1.600/troy ons Selasa kemarin. Logam mulia ini juga mencapai level penutupan tertinggi sejak Maret 2013.

Pada pukul 14:03 WIB, emas diperdagangkan di level US$ 1.603,77/troy ons, menguat 0,13% di pasar spot, melansir data Refinitiv.

Penguatan harga emas dipicu "produk turunan" dari wabah virus Corona yang telah menewaskan lebih dari 2.000 orang dan menjangkiti lebih dari 75.000 orang di berbagai negara.


Dari sisi makro, "produk turunan" virus corona yakni risiko terjadinya resesi, sementara dari sisi mikro penurunan pendapatan perusahaan. Setidaknya ada tiga negara yang berisiko mengalami resesi, yakni Singapura, Jerman, dan Jepang. Ketiganya memiliki hubungan erat dengan China.


Pemerintah Singapura di awal pekan ini memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini. Mengutip Reuters, Singapura memprediksi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tahun 2020 ada di kisaran -0,5%-1,5%. Padahal sebelumnya, pemerintah memproyeksikan, pertumbuhan di kisaran 0,5%-2,5%.

Setelah Singapura, Jerman juga sudah waspada. Pertumbuhan ekonomi Negeri Panser di kuartal IV-2019 stagnan alias tidak tumbuh dari kuartal sebelumnya. Pada tahun lalu, Jerman sudah nyaris mengalami resesi akibat perang dagang AS dengan China.


Selanjutnya Jepang, negara dengan nilai ekonomi terbesar ketiga di dunia, yang sudah dekat dengan resesi. Perekonomian Jepang berkontraksi tajam di kuartal IV-2019, bahkan menjadi yang terdalam sejak 6 tahun terakhir. Data dari Cabinet Office menunjukkan produk domestic bruto (PBD) kuartal IV-2019 berkontraksi 1,6% quarter-on-quarter (QoQ), menjadi yang terdalam sejak kuartal II-2014.

Sementara itu raksasa teknologi asal AS, Apple Inc. menyatakan pendapatan di kuartal II tahun fiskal 2020 akan lebih rendah dari prediksi sebelumnya akibat wabah Covid-19, yang menyebabkan gangguan suplai serta penurunan penjualan di China. Apple sebelumnya memberikan prediksi penjualan bersih akan mencapai US$ 63 miliar sampai US$ 67 miliar.

Apple Inc. merupakan perusahaan dengan kapitalisasi pasar lebih dari US$ 1,3 triliun. Sebagai perbandingan nilai perekonomian Indonesia di tahun 2018 sebesar US$ 1,042 triliun, masih di bawah kapitalisasi pasar Apple. Di tahun yang sama, nilai ekonomi AS sebagai yang terbesar di dunia sebesar US$ 20,5 triliun, itu artinya kapitalisasi pasar perusahaan pembuat iPhone ini sekitar 6,3% dari nilai ekonomi AS.

[Gambas:Video CNBC]


Tidak hanya itu melansir Investopedia yang melihat data World Bank, hanya ada 14 negara yang nilai ekonominya lebih besar dari Apple.

Maka ketika Apple mengumumkan kemungkinan penurunan pendapatan akan memberikan dampak buruk ke sentimen pelaku pasar. Apalagi banyak perusahaan yang bermitra dengan Apple di berbagai negara, sehingga bursa saham global akan terguncang.

Akibatnya pelaku pasar mengalihkan investasinya ke aset aman (safe haven) seperti emas. Harga logam mulai ini melesat naik 1,32% ke US$ 1,601,66/troy ons, pada perdagangan Selasa dan masih berlanjut hingga memasuki perdagangan sesi Eropa hari ini.


Analisis Teknikal
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading