Newsletter

Bukan Corona, Apple Guncang Bursa & Buat Harga Emas Melesat

Market - pap, CNBC Indonesia
19 February 2020 06:33
Di awal pekan, sentimen pelaku pasar sedikit membaik setelah bank sentral China sekali lagi bertindak guna meredam dampak wabah virus corona ke perekonomian.
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar finansial bergerak bervariasi pada perdagangan Selasa (18/2/2020), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat bahkan saat bursa saham utama Asia lainnya melemah. Pasar obligasi juga menguat tetapi nilai tukar rupiah melemah melawan dolar Amerika Serikat (AS).

IHSG menguat 0,33% ke 5.886,962. Sektor industri dasar memimpin penguatan IHSG pada hari ini dengan kenaikan 1,86%, disusul dengan sektor properti sebesar 1,47%. Sementara sektor finansial yang memiliki kapitalisasi pasar terbesar justru melemah 0,35%.

Melihat bursa utama Asia, indeks Nikkei Jepang, Hang Seng Hong Kong, dan Kospi Korea Selatan masing-masing berakhir anjlok sekitar 1,5%, hanya Shanghai Composite China yang berhasil berbalik menguat tipis 0,05%.




Dari pasar obligasi, yield harga surat utang negara (SUN) tenor 10 tahun turun 2,6 basis poin (bps) ke 6,548%.

Sebagai informasi, pergerakan yield obligasi berbanding terbalik dengan harganya. Ketika yield turun, berarti harga sedang naik. Sebaliknya, ketika yield naik, berarti harga sedang turun.

Sementara rupiah melemah 0,07% di level Rp 13.660/US$, seirama dengan mata uang utama Asia lainnya, kecuali yen Jepang yang menyandang status aset aman (safe haven). Fakta yen masih menguat dan mayoritas bursa utama Asia yang melemah menunjukkan sentimen pelaku pasar masih belum bagus.

Di awal pekan, sentimen pelaku pasar sedikit membaik setelah bank sentral China (People's Bank of China/PBoC) sekali lagi bertindak guna meredam dampak wabah virus corona ke perekonomian.



PBoC mengumumkan penurunan suku bunga Medium-term Lending Facility (MLF) tenor setahun dari 3,25% menjadi 3,15%. Selain itu PBoC juga akan menggelontorkan dana senilai US$ 29 miliar dalam bentuk pinjaman jangka menengah.

Penurunan tersebut dimaksudkan untuk menambah likuiditas di pasar, sehingga roda perekonomian bisa berputar. Penurunan MLF hari ini diyakini pelaku pasar sebagai pembuka jalan pemangkasan Loan Prime Rate (LPF) yang akan diumumkan Kamis pekan ini.

Bukan kali ini saja PBoC menggelontorkan stimulus, di awal bulan lalu suku bunga reverse repo tenor 7 hari diturunkan menjadi menjadi 2,4%, sementara tenor 14 hari diturunkan menjadi 2,55% guna meredam gejolak finansial akibat virus corona. Selain itu PBoC menyuntikkan likuiditas senilai 1,7 triliun yuan (US$ 242,74 miliar) melalui operasi pasar terbuka.



Namun, sentimen pelaku pasar kembali memburuk setelah wabah virus corona atau yang disebut COVID-19 sudah menunjukkan dampak ke sektor riil.

Wabah corona kini memiliki "produk turunan" dari sisi makro yakni risiko terjadinya resesi, sementara dari sisi mikro penurunan pendapatan perusahaan.
Setidaknya ada tiga negara yang berisiko mengalami resesi, yakni Singapura, Jerman, dan Jepang. Ketiganya memiliki hubungan erat dengan China.

Pemerintah Singapura Senin kemarin memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini. Mengutip Reuters, Singapura memprediksi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tahun 2020 ada di kisaran -0,5%-1,5%. Padahal sebelumnya, pemerintah memproyeksikan, pertumbuhan di kisaran 0,5%-2,5%.

Setelah Singapura, Jerman juga sudah waspada. Pertumbuhan ekonomi Negeri Panser di kuartal IV-2019 stagnan alias tidak tumbuh dari kuartal sebelumnya. Pada tahun lalu, Jerman sudah nyaris mengalami resesi akibat perang dagang AS dengan China.



Selanjutnya Jepang, negara dengan nilai ekonomi terbesar ketiga di dunia, yang sudah dekat dengan resesi. Perekonomian Jepang berkontraksi tajam di kuartal IV-2019, bahkan menjadi yang terdalam sejak 6 tahun terakhir. Data dari Cabinet Office menunjukkan produk domestic bruto (PBD) kuartal IV-2019 berkontraksi 1,6% quarter-on-quarter (QoQ), menjadi yang terdalam sejak kuartal II-2014.

Sementara itu raksasa teknologi asal AS, Apple Inc. menyatakan pendapatan di kuartal II tahun fiskal 2020 akan lebih rendah dari prediksi sebelumnya akibat wabah Covid-19, yang menyebabkan gangguan suplai serta penurunan penjualan di China. Apple sebelumnya memberikan prediksi penjualan bersih akan mencapai US$ 63 miliar sampai US$ 67 miliar.

Dengan kapitalisasi pasar yang lebih besar dari nilai ekonomi Indonesia, pernyataan dari Apple tersebut yang membuat sentimen pelaku pasar kembali memburuk dan membuat bursa saham global tertekan pada perdagangan Selasa kemarin.

[Gambas:Video CNBC]



Indeks Dow Jones Melemah 3 Hari Beruntun, Nasdaq Cetak Rekor
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading