Corona Bikin 3 Negara Terancam Resesi, Bursa Sahamnya Gimana?

Market - Yazid Muamar, CNBC Indonesia
18 February 2020 15:22
Corona Bikin 3 Negara Terancam Resesi, Bursa Sahamnya Gimana?

Jakarta, CNBC Indonesia - Virus corona atau Covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda berakhir hingga berpotensi membuat pertumbuhan ekonomi global melambat sepanjang tahun 2020.

Tiga negara maju seperti Jerman, Jepang dan Singapura berpotensi mengalami resesi dikarenakan pertumbuhan ekonominya tidak bertumbuh di kuartal IV-2019 atau sebelum virus corona mulai meluas.

Seiring perkembangan virus yang masih satu famili dengan SARS tersebut maka tantangan secara ekonomi juga akan semakin besar. Hingga Selasa (18/2/2020) siang, corona telah menewaskan 1.775 orang dan menjangkiti setidaknya 71.000 orang di berbagai negara.

Masih belum diketahui seberapa besar dampak dari virus corona ke pertumbuhan ekonomi global, yang pasti akan terjadi perlambatan karena China sebagai negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia akan mengalami perlambatan karena kehilangan momentum pertumbuhan. Hasil riset S&P memprediksi produk domestic bruto (PDB) Negeri Tiongkok akan terpangkas hingga 1,2%.



Reuters juga melakukan jajak pendapat terhadap 40 ekonom yang hasilnya pertumbuhan ekonomi China kuartal I-2019 diperkirakan hanya sebesar 4,5%. Jauh melambat dibandingkan kuartal sebelumnya yaitu 6%. Untuk pertumbuhan tahunan atau sepanjang 2020, proyeksinya 5,5%, juga jauh melambat dibandingkan tahun 2019 yang sebesar 6,1%.

Singapura sudah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonominya tahun ini di kisaran -0,5% hingga tumbuh 1,5% dari Produk Domestik Bruto (PDB) untuk tahun 2020. Padahal proyeksi pemerintah sebelumnya ada di kisaran 0,5%-2,5%.

Hal ini membuat kinerja bursa saham Straits Times (STI) menjadi kurang bergairah dengan pelemahan 1,58% sejak awal tahun hingga Selasa (18/02/2020) dengan berada di level 3.200.

Sumber: Trading Economics, GDP Singapore (Q to Q)

Selanjutnya Jepang, negara yang juga sudah dekat dengan resesi. Perekonomian Jepang turun tajam di kuartal IV-2019 dan bahkan menjadi yang terdalam sejak 6 tahun terakhir.

Data dari Cabinet Office menunjukkan produk domestic bruto (PBD) kuartal IV-2019 berkontraksi 1,6% quarter-on-quarter (QoQ), menjadi yang terdalam sejak kuartal II-2014. Jika PDB Jepang kembali berkontraksi di kuartal I-2020, maka Jepang akan mengalami resesi.


Senada dengan bursa saham Singapura, investor di Jepang mulai pesimistis. Hal ini tercermin dari indeks Nikkei 225 yang mulai alami penurunan per Selasa (18/2) hari ini dengan koreksi 0,05% (ytd) pada level 23.193.

Sumber: Trading Economics, GDP Japan (Q to Q)

Negara maju yang terakhir yang berpotensi mengalami resesi ialah Jerman. Pada tahun 2019 ekonomi Jerman nyaris mengalami resesi karena imbas dari perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China.

Sumber: Trading Economics, GDP Germany (Q to Q)

Pertumbuhan ekonomi Negeri Panser di kuartal IV-2019 stagnan alias tidak tumbuh dari kuartal sebelumnya. Pada kuartal II-2019 ekonomi Jerman sempat minus 0,2%, akan tetapi mampu terhindar dari resesi karena pada kuartal III-2019 ekonominya tumbuh 0,2%.

Dibandingkan dengan 2 negara maju di atas, investor saham di Jerman masih relatif optimis dilihat dari pertumbuhan indeks saham Xetra Dax (frankfurt) yang tumbuh 2,97% sejak awal tahun hingga Senin (17/2/2020).


Perkembangan indeks saham di Singapura, Jepang dan Jerman sejak awal tahun 2020 (ytd).

Sumber: Refinitiv (Reuters)


TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]




(yam/yam)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading