Virus Corona Lesukan Pasar, Harga Obligasi Pemerintah Flat

Market - Irvin Avriano Arief, CNBC Indonesia
17 February 2020 18:54
Virus Corona Lesukan Pasar, Harga Obligasi Pemerintah Flat
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga obligasi rupiah pemerintah menguat tipis dan cenderung flat ketika pasar keuangan domestik dan global belum ada sentimen pasar yang mampu memperjelas arah pergerakan pasar yang masih lesu akibat belum lepasnya kekhawatiran dunia terhadap virus corona.

Naiknya harga surat utang negara (SUN) itu tidak seiring dengan koreksi yang terjadi di pasar surat utang pemerintah negara lain.

Data Refinitiv menunjukkan menguatnya harga SUN itu tercermin dari empat seri acuan (benchmark) yang sekaligus menurunkan tingkat imbal hasilnya (yield).
Pergerakan harga dan yield obligasi saling bertolak belakang di pasar sekunder, sehingga ketika harga naik maka akan menekan yield turun, begitupun sebaliknya. Yield yang menjadi acuan keuntungan yang didapat investor juga lebih umum dijadikan acuan transaksi obligasi dibanding harga karena mencerminkan kupon, tenor, dan risiko dalam satu angka.


SUN adalah surat berharga negara (SBN) konvensional rupiah yang perdagangannya paling ramai di pasar domestik, sehingga dapat mencerminkan kondisi pasar obligasi secara umum. Keempat seri yang menjadi acuan pasar adalah FR0081 bertenor 5 tahun, FR0082 bertenor 10 tahun, FR0080 bertenor 15 tahun, dan FR0083 bertenor 20 tahun.

Seri acuan yang paling menguat adalah FR0083 yang bertenor 20 tahun dengan penurunan yield 1,5 basis poin (bps) menjadi 7,28%. Besaran 100 bps setara dengan 1%.

 

 

Yield Obligasi Negara Acuan 17 Feb'20

Seri

Jatuh tempo

Yield 14 Feb'20 (%)

Yield 17 Feb'20 (%)

Selisih (basis poin)

Yield wajar PHEI 17 Feb'21 (%)

FR0081

5 tahun

5.815

5.801

-1.40

5.7614

FR0082

10 tahun

6.575

6.574

-0.10

6.5463

FR0080

15 tahun

7.053

7.056

0.30

7.0311

FR0083

20 tahun

7.304

7.289

-1.50

7.284

Sumber: Refinitiv

 

 

Koreksi pasar obligasi pemerintah hari ini tercermin pada harga obligasi wajarnya, di mana indeks INDOBeX Government Total Return milik PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI/IBPA) masih menguat. Indeks tersebut naik 0,2 poin (0,07%) menjadi 279,38 dari posisi akhir pekan lalu 279,18.

Penguatan SBN hari ini juga membuat selisih (spread) yield obligasi rupiah pemerintah tenor 10 tahun dengan yield surat utang pemerintah AS (US Treasury) tenor serupa mencapai 498 bps, relatif sama dengan akhir pekan lalu. Yield US Treasury 10 tahun naik tipis dan relatif stagnan pada 1,58%.

Terkait dengan pasar US Treasury, saat ini masih terjadi inversi pada yield pasangan seri 3 bulan-5 tahun dan 2 tahun-5 tahun. Inversi adalah kondisi lebih tingginya yield seri lebih pendek dibanding yield seri lebih panjang.

Inversi tersebut membentuk kurva yield terbalik (inverted yield curve), yang menjadi cerminan investor yang lebih meminati US Treasury seri panjang dibanding yang pendek karena menilai akan terjadi kontraksi jangka pendek, sekaligus indikator adanya potensi tekanan ekonomi bahkan hingga krisis.

 

Yield US Treasury Acuan 17 Feb'20

Seri

Benchmark

Yield 14 Feb'20 (%)

Yield 17 Feb'20 (%)

Selisih (Inversi)

Satuan Inversi

UST BILL 2019

3 Bulan

1.579

1.579

3 bulan-5 tahun

16.1

UST 2020

2 Tahun

1.43

1.43

2 tahun-5 tahun

1.2

UST 2021

3 Tahun

1.399

1.399

3 tahun-5 tahun

-1.9

UST 2023

5 Tahun

1.418

1.418

3 bulan-10 tahun

-0.9

UST 2028

10 Tahun

1.588

1.588

2 tahun-10 tahun

-15.8

Sumber: Refinitiv

 

Terkait dengan porsi investor di pasar SBN, data Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu (DJPPR) terakhir menunjukkan investor asing menggenggam Rp 1.065,49 triliun SBN, atau 38,02% dari total beredar Rp 2.802 triliun berdasarkan data per 14 Februari.

Angka itu menunjukkan kepemilikan investor asing masih masuk ke pasar SUN senilai Rp 70 miliar sejak akhir pekan lalu, sedangkan sejak awal bulan masih defisit Rp 11,57 triliun.

Sejak awal tahun ini, posisi investor asing masih positif Rp 3,63 triliun dibanding posisi akhir Desember 2019 Rp 1.061,86 triliun, tetapi persentasenya masih turun dari 38,57% pada periode yang sama.

Dari pasar surat utang negara berkembang dan maju, mayoritas mengalami koreksi harga sehingga yield mayoritas obligasi negara naik.

 

 

Yield Obligasi Tenor 10 Tahun Negara Maju & Berkembang

Negara

Yield 14 Feb'20 (%)

Yield 17 Feb'20 (%)

Selisih (basis poin)

Brasil (BB-)

6.545

6.45

-9.50

China (A+)

2.901

2.93

2.90

Jerman (AAA)

-0.4

-0.402

-0.20

Prancis (AA)

-0.155

-0.16

-0.50

Inggris Raya (AA)

0.629

0.631

0.20

India (BBB-)

6.369

6.385

1.60

Jepang (A)

-0.038

-0.033

0.50

Malaysia (A-)

2.873

2.879

0.60

Filipina (BBB)

4.464

4.471

0.70

Rusia (BBB)

6.08

6.04

-4.00

Singapura (AAA)

1.67

1.66

-1.00

Thailand (BBB+)

1.225

1.16

-6.50

Amerika Serikat (AAA)

1.587

1.588

0.10

Afrika Selatan (BB+)

8.85

8.88

3.00

Sumber: Refinitiv

 

 

 

TIM RISET CNBC INDONESIA

(irv/irv)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading