Analisis

Singapura-Jerman-Jepang Terancam Resesi, Emas Bersinar Lagi?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
17 February 2020 17:04
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dunia belum banyak bergerak hingga awal perdagangan sesi Eropa Senin (17/2/2020) setelah membukukan penguatan 2 hari beruntun.

Pada pukul 15:03 WIB, emas melemah 0,28% ke US$ 1.579.86/troy ons di pasar spot, melansir data Refinitiv.

Wabah virus corona atau yang disebut Covid-19 yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda membuat harga emas menguat dua hari beruntun pada Jumat pekan lalu.


Berdasarkan data satelit pemetaan ArcGis dari John Hopkins CSSE, korban meninggal akibat virus corona atau yang disebut Covid-19 kini mencapai 1,775 orang dan telah menjangkiti lebih dari 71.000 orang di berbagai negara.

Tidak hanya itu, Covid-19 kini kembali membangkitkan "hantu" resesi, yang membuat beberapa negara ketar-ketir. Singapura, Jerman, dan Jepang menjadi negara yang terancam mengalami resesi, ketiganya memiliki hubungan yang erat dengan China.



Masih belum diketahui seberapa besar dampak virus corona ke pertumbuhan ekonomi China dan global umumnya, yang pasti akan melambat.
Hasil riset S&P memprediksi produk domestic bruto (PDB) Negeri Tiongkok akan terpangkas hingga 1,2%.

Kemudian, Reuters melakukan jajak pendapat terhadap 40 ekonom yang hasilnya pertumbuhan ekonomi China kuartal I-2019 diperkirakan sebesar 4,5%. Jauh melambat dibandingkan kuartal sebelumnya yaitu 6%. Untuk pertumbuhan ekonomi sepanjang 2020, proyeksinya adalah 5,5%. Juga jauh melambat dibandingkan realisasi 2019 yang sebesar 6,1%.

Singapura sudah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini. Mengutip Reuters, Singapura memprediksi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tahun 2020 ada di kisaran -0,5%-1,5%. Padahal sebelumnya, pemerintah memproyeksikan, ekonomi Negeri Singa ini ada di kisaran 0,5%-2,5%.

China adalah negara mitra dagang utama Singapura. Pada 2018, ekspor Singapura ke China mencapai US$ 50,4 miliar atau menyumbang 13% dari total ekspor. Belum lagi melihat dampaknya virus corona di sektor pariwisata, dimana wisatawan dari China berkontribusi sekitar 20% dari total wisatawan ke Singapura.



Setelah Singapura, Jerman juga patut waspada. Pertumbuhan ekonomi Negeri Panser di kuartal IV-2019 stagnan alias tidak tumbuh dari kuartal sebelumnya. Pada tahun lalu, Jerman sudah nyaris mengalami resesi akibat perang dagang AS dengan China.

"Tahun lalu kami menemukan seberapa sensitif ekonomi Jerman terhadap China, dan saya pikir setiap orang masih menganggap remeh bagaimana dampak ekonomi China ke Eropa" kata John Marley, konsultan senior dan spesialis manajemen risiko valuta asing di SmartCurrencyBusiness, sebagaimana dilansir Reuters.

Jerman merupakan negara yang berorientasi ekspor dan China merupakan pasar terbesar ketiganya. Pada tahun 2018, nilai ekspor Jerman ke China US$ 109,9 miliar atau menyumbang 7,1% dari total ekspor.

Melambatnya perekonomian China tentunya menurunkan permintaan dari Jerman, sehingga ekonomi Negeri Panzer juga berisiko terpukul.

Selanjutnya Jepang, negara yang sudah dekat dengan resesi. Perekonomian Jepang berkontraksi tajam di kuartal IV-2019, bahkan menjadi yang terdalam sejak 6 tahun terakhir. Data dari Cabinet Office menunjukkan produk domestic bruto (PBD) kuartal IV-2019 berkontraksi 1,6% quarter-on-quarter (QoQ), menjadi yang terdalam sejak kuartal II-2014.



Pemerintah Jepang sebelumnya sudah memperingatkan jika PDB pada periode Oktober-Desember 2019 berisiko terkontraksi akibat kenaikan pajak penjualan, adanya angina topan, serta perang dagang AS dengan China.

Kini tantangan yang dihadapi Jepang di awal 2020 lebih besar lagi akibat wabah virus corona atau yang disebut Covid-19. Perekonomian China diprediksi melambat signifikan dan tentunya menyeret pertumbuhan ekonomi global, termasuk Jepang.

Jika PDB Jepang kembali berkontraksi di kuartal I-2020, maka Jepang akan mengalami resesi.

Market Strategist dari Fullerton Research, Franky Nangoy, mengatakan risiko pelambatan ekonomi global dapat membawa emas terus menguat.

"Pandangan terbaru dari para treasury bank besar di dunia menyatakan bahwa pelaku pasar masih khawatir mengenai prospek ekonomi global selanjutnya" kata Franky dalam rilis tertulis yang diterima CNBC Indonesia, Senin (17/2/2020)

"Selama perspektif tentang ekonomi global masih tidak pasti, uptrend emas yang sudah dimulai dari Desember terlihat berlanjut" tambahnya.

Franky memprediksi dalam waktu dekat emas berpotensi menuju US$ 1.593-1.595/troy ons. Untuk jangka yang lebih panjang logam mulia ini diprediksi menguat ke US$ 1.611/troy ons, sebelum menuju US$ 1.630/troy ons.


[Gambas:Video CNBC]



Analisis Teknikal
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading