Analisis

Nasib Emas Dunia di Antara Virus Corona & Data Ekonomi AS

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
10 February 2020 17:09
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dunia menguat pada perdagangan Senin (10/2/2020) seiring dengan memburuknya sentimen pelaku pasar setelah wabah virus corona yang belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda.

Meski demikian penguatan emas masih belum besar akibat data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang dirilis cukup bagus sepanjang pekan lalu.

Pada pukul 15:18 WIB, emas menguat 0,11% ke level US$ 1.571/troy ons di pasar spot, melansir data Refinitiv.


Berdasarkan data dari ArcGis, total korban meninggal akibat virus corona kini menjadi 910 orang, dan telah menjangkiti lebih dari 40.000 orang di berbagi negara. Selain memakan banyak korban, wabah virus corona diprediksi menghambat laju pertumbuhan ekonomi global. Hasil riset S&P menunjukkan produk domestic bruto China bisa terpangkas hingga 1,2%.

Kala ekonomi China melambat, maka dunia akan terkena dampaknya, sebab China merupakan negara dengan nilai ekonomi terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat.

Dampaknya, sentimen pelaku pasar memburuk yang tercermin dari bursa saham Asia yang berguguran pada hari ini. Kala bursa saham berguguran, emas yang menyandang status aset aman (safe haven) menjadi target investasi, harganya pun naik.



Di sisi lain, sepanjang pekan lalu data ekonomi Paman Sam dirilis cukup bagus yang memberikan tekanan bagi emas.

Institute for Supply Management (ISM) melaporkan purchasing managers' index (ISM) bulan Januari naik menjadi 50,9 dari bulan sebelumnya 47,2. PMI menggunakan angka 50 sebagai ambang batas, di atas 50 berarti ekspansi, sementara di bawah berarti kontraksi.

Rilis data tersebut terbilang mengejutkan mengingat polling Reuters memprediksi kenaikan hanya ke 48,5 atau masih berkontraksi. Sementara itu dari sektor non manufaktur, ISM melaporkan peningkatan ekspansi menjadi 55,5, dari sebelumnya 55.


Kemudian Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan sepanjang Januari ekonomi AS menyerap 225.000 tenaga kerja, jauh lebih tinggi dari bulan sebelumnya 147.000 tenaga kerja. Tingkat tenaga kerja naik menjadi 3,6% naik dari bulan Desember 3,5%. Selain itu rata-rata upah per jam tumbuh 0,2% di bulan Januari dari bulan sebelumnya yang tumbuh 0,1%.

Data tenaga kerja AS merupakan salah satu acuan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) dalam menentukan kebijakan moneter. Data tenaga kerja yang cukup bagus tentunya memperkuat sikap The Fed untuk mempertahankan suku bunga di tahun ini, setelah memangkas sebanyak tiga kali pada tahun lalu.

Emas dunia merupakan aset tanpa imbal hasil juga dibanderol dengan dolar AS. Penurunan suku bunga di AS memberikan keuntungan bagi investornya karena menurunkan opportunity cost atau biaya yang ditanggung karena memilih investasi emas, dibandingkan investasi lainnya, misalnya obligasi AS.

Selain itu, penurunan suku bunga oleh The Fed juga membuat dolar AS tertekan. Di kala dolar AS melemah, maka harga emas akan menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya, sehingga permintaannya berpotensi meningkat.

Sebaliknya jika suku bunga tidak dipangkas, dolar AS berpotensi menguat dan permintaan emas berisiko menurun. Intinya harga emas cenderung tertekan jika dolar AS menguat.


[Gambas:Video CNBC]




Analisis Teknikal
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading