Pembatalan Listing NARA Heboh, Ini Penjelasan Manajemen

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
07 February 2020 16:47
Manajemen PT Nara Hotel Internasional Tbk (NARA) angkat bicara perihal ditundanya pencatatan saham.

Jakarta, CNBC Indonesia - Manajemen PT Nara Hotel Internasional Tbk (NARA) angkat bicara perihal ditundanya pencatatan saham perdana (listing) perseroan oleh regulator yang semula dijadwalkan akan berlangsung di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (07/02) hari ini. Kamis malam, BEI menegaskan listing perusahaan ditunda.

Perusahaan yang bergerak di bidang konsultasi pariwisata ini menegaskan bahwa pihaknya selalu patuh pada aturan regulator yang berlaku, termasuk ketentuan prospektus. 

"Kami sudah audiensi dengan pihak OJK dan BEI pagi ini. intinya kami tunduk pada aturan dan ketentuan OJK dan Bursa. Lebih dari itu, Nara Hotel akan berkomitmen penuh menjaga kepercayaan investor", ungkap Adrianus Daniel Sulaiman, Direktur Utama Nara Hotel, dalam siaran pers, dikutip CNBC Indonesia, Jumat (7/2/2020).

Siaran pers tersebut disampaikan oleh Komisaris Independen Nara Hotel, Hamdi Hassyarbaini yang juga mantan Direktur BEI. Hamdi, dalam pesan singkatnya, menegaskan tak ada hubungannya dengan informasi beberapa pembeli yang menyatakan saham IPO NARA tak laku dan diserap PT Magenta Kapital Sekuritas Indonesia.

"Tidak ada hubungannya, kami hanya ingin kepemilikan publik lebih besar," kata Hamdi.

Lebih lanjut, pihak Nara Hotel meyakini bahwa tata cara pemesanan pada surat penawaran umum tanggal 3 dan 4 Februari 2020, sudah memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku yaitu, setiap calon investor mengisi surat Formulir Pemesanan Pembelian Saham (FPPS) dan persyaratan administratif lainnya.

Batal Listing di Bursa, Nara Hotel Bantah IPO-nya JanggalFoto: Investor NARA mendatangi OJK (CNBC Indonesia/Monica Wareza)


Selain itu, calon investor juga memenuhi syarat pembelian saham dengan melengkapi kelengkapan administrasi dan menyetorkan sejumlah dana sesuai dengan saham yang dipesan.

Soal penundaan listing, Daniel menegaskan bahwa berdasarkan data internal, dari data DPS (daftar pemegang saham) 631 investor yang memesan, menurut pemberitaan hanya 10 orang investor yang merasa janggal dan melakukan protes ke otoritas.

"Protes mereka justru menurut kami aneh. Contoh saja mereka sudah mengisi dan menandatangani FPPS untuk pembelian 1.000 lembar saham dan telah menyetor dana sebesar nilai pemesanan. Namun begitu kami penuhi pesanan 1,000 saham tersebut mereka menolak dan bilang kami mau cuma 100 saham. Ini kan aneh," tegas Daniel.


Sementara itu, perseroan juga perlu memikirkan nasib ratusan investor lainnya yang ingin menjadi bagian dari IPO Nara Hotel.

"PT Nara Hotel Internasional tidak pernah melakukan kejanggalan atau pelanggaran aturan apapun juga. Justru kami memberikan kesempatan yang besar sesuai dengan visi dan misi OJK sesuai harapan investor. Semangat kami adalah saham kami bisa terdistribusikan dengan baik dan merata", ungkap Daniel.


Batal Listing di Bursa, Nara Hotel Bantah IPO-nya JanggalFoto: Investor NARA mendatangi OJK (CNBC Indonesia/Monica Wareza)


Daniel menegaskan pihaknya ingin mendukung program di pasar modal agar masyarakat umum memiliki kesempatan yang sama dengan investor skala besar lainnnya. Hal ini agar ekosistem pasar modal di Indonesia bisa didistribusikan kepada masyarakat secara merata dan bukan dikuasai oleh segelintir orang.

Dalam prospektus penawaran saham perdana (initial public offering/IPO) disebutkan, Nara Hotel melepas sebanyak-banyaknya 2 miliar saham baru dengan harga penawaran sebesar Rp 101/saham. Dengan demikian perusahaan akan meraih dana IPO Rp 202 miliar.

Selain itu perseroan juga merilis Waran Seri I sebanyak 35% dari total jumlah saham ditempatkan dan disetor perusahaan. Harga pelaksanaan waran yakni Rp 200 dengan masa penebusan pada 7 Agustus 2020-7 Februari 2023. Masa penawaran sudah dilakukan pada 3-4 Februari lalu.

Direktur Utama BEI Inarno Djajadi mengatakan secara detail belum bisa diinformasikan lebih jauh. Namun salah satu alasannya ialah komplain atau keluhan dari para nasabah (pembeli saham IPO).

"Ada komplain dari para nasabah yang mungkin kita musti hati hati melihatnya. Oleh karena ini ini bukan pembatalan, ini penundaan dulu [listing]. Saya juga kurang tahu detailnya apa cuma cukup pelik, kita pengen tahu dulu ini apa kira-kira komplainnya," tegas Inarno usai pencatatan saham PT Pratama Widya Tbk. (PTPW), Jumat pagi ini.

Di tempat terpisah, di Gedung OJK Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, pada Jumat (7/2), puluhan investor yang membeli saham NARA mendatangi kantor OJK. Para investor tersebut menyampaikan pengaduan terkait kejanggalan dalam proses penawaran saham perdana (initial public offering/IPO) NARA.

Salah seorang investor yang enggan disebutkan namanya, menceritakan kejanggalan proses IPO tersebut. Dia menceritakan, Magenta Kapital Sekuritas Indonesia selaku penjamin emisi (underwriter) melakukan bookbuilding saham NARA. Penawaran yang masuk cukup banyak, tapi bookbuilding tersebut secara sepihak dibatalkan oleh Magenta.

"Tapi sampai di Magenta dibatalkan. Nah kenapa? Padahal kan bookbuilding untuk pembentukan harga. Kalau nggak ada bookbuilding kan sepihak harganya," kata investor tersebut di kantor OJK kepada CNBC Indonesia.

Ini kemudian menimbulkan pertanyaan di kalangan investor. Padahal pada saat bookbuilding, dicantumkan porsi saham pooling allotment sebanyak 1%, sisanya fixed allotment. Padahal NARA siap menawarkan IPO dengan nilai Rp 202 miliar. Namun, menurut investor tersebut, hasil bookbuilding perolehannya tidak mencapai Rp 200 mliar.

"Jadi menurut saya ini Magenta nggak punya duit. Kalau punya kan yang Rp 50 miliar itu punya duit, jadi Rp 150 miliar ini (diserap) Magenta," kata investor itu lagi.

"Makanya supaya nggak ketahuan dia batalkan (bookbuilding). Buat nggak tahu dia lempar semua ke market pooling allotment. Berarti kan dia [Magenta] bisa kasih minimal 1% bisa lebih," kata investor tersebut.

Inilah yang membuat para investor tersebut meminta OJK menyelidiki kejanggalan pada saat proses bookbuilding. Sebagai informasi, saat bookbuilding, penjamin emisi saham akan menentukan harga jual (harga IPO) dengan melihat minat beli dari institusi dan investor melalui pembagian fix allotment (penjatahan pasti, biasanya untuk investor institusi) dan pooling allotment (penjatahan terpusat, biasanya untuk investor ritel).


Direktur Penilaian Keuangan Sektor Riil OJK, I Made Bagus Tirthayatra mengatakan OJK sudah menunda distribusi saham dan pencatatan saham perdana di BEI yang sedianya Jumat ini pun ditunda.

"Kita sedang tindak lanjuti, mengundang emiten dan penjamin emisi untuk klarifikasi beberapa hal. Diharapkan dalam waktu yang tak terlalu lama akan ada keputusan," katanya dalam pertemuan di OJK, Jumat ini (6/2/2020).

Namun Made menegaskan belum bisa memastikan berapa hari akan selesai. "Tapi kami concernkarena udah ada uang masuk [pembelian saham]. Tapi beberapa hari kami gak tau karena banyak pihak bersangkutan," tegasnya.

Bahkan Made memberi sinyal adanya pembatalan IPO, tak hanya menundanya. Namun hal tersebut baru bisa diputuskan setelah mendapatkan informasi dari para penjamin emisi dan investor ritel.

"[apa mungkin dibatalkan?] Ada opsi, kita akan liat dari berbagai sisi penjamin emisi dan ritel. Opsinya dibatalkan, dicabut penundaannya. Jadi apa pun yang akan diambil [keputusan] kita akan pertimbangkan investor publik."



[Gambas:Video CNBC]


(tas/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading