Tekor di Saham & Reksa Dana, Begini Porsi Investasi Asabri

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
29 January 2020 14:42
Manajemen PT Asabri (Persero) membeberkan alasan perusahaan agresif melakukan investasi.

Jakarta, CNBC Indonesia - Manajemen PT Asabri (Persero) membeberkan alasan perusahaan agresif melakukan investasi terutama di instrumen pasar modal guna menutupi adanya negatif underwriting (seleksi risiko) yang dialami perusahaan asuransi milik pensiunan TNI/Polri/Kementerian Pertahanan ini.

"Catatan dari sini, kami laporkan Asabri mulai negatif underwriting, tidak mencukupi sehingga di-cover [ditutupi] dengan investasi, sementara investasi juga kesulitan menutup itu semua," kata Direktur Utama Asabri Sonny Widjaja, dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XI di Gedung DPR, Rabu (29/1/2020).

Bagaimana sebetulnya porsi investasi Asabri selama ini?

Portofolio Investasi Asabri 2019

Instrumen


Rp Miliar

Porsi Investasi (%)

Deposito

641

7,3

Obligasi Non-SBN

464

5,2

Obligasi SBN

2.289

25,8

Reksa Dana SBN

858

9,6

Reksa Dana Non SBN

3.224

36,3

(Total Saham)

1.291

14,5

Saham BUMN

187

2,1

Saham Anak BUMN

38

0,4

Saham Non-BUMN

1.066

12

DIRE

121

1,3

KIK EBA

27

0,3

DINFRA

75

0,8

Total Dana Investasi

8.989

Sumber: Asabri, DPR


Portofolio Investasi AIP (Akumulasi Iuran Pensiun) Asabri 2019

Instrumen

Rp Miliar

Porsi (%)

Deposito

2.023

11,86

Obligasi SBN

8.311

48,72

Obligasi Non SBN

150

0,88

Reksa Dana

4.093

24

(Total Saham)

2.479

14,53

Saham BUMN

1.329

7,79

Saham Anak BUMN

374

2,19

Saham Non BUMN

776

4,54

Total Dana Investasi

17.057

Sumber: Asabri, DPR


Sonny yang juga berpangkat Letnan Jenderal TNI aktif ini menegaskan program pensiun yang dimulai pada 1989 ini kemudian mendapatkan bantuan biaya operasional dari pemerintah sejak 2016. "Sebelumnya, [pemerintah] belum kasih untuk biaya operasional," tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Direktur Investasi dan Keuangan Asabri Rony Hanityo Apriyanto mengatakan jika dihitung dari premi yang diperoleh dalam 10 tahun terakhir, sebetulnya masih bisa sesuai sehingga tidak ada defisit, malah lebih besar preminya.


Hanya saja perseroan harus melakukan pencadangan beban manfaat polis dalam 3 tahun ke depan. "Karena THT [tabungan hari tua] kewajiban kita di masa depan, present value-kan. Rata-rata hitungan setahunnya Rp 1 triliun, itu internal tapi tahun lalu kita hitung Rp 1 triliun, tapi ada koreksi auditor gak sampe segitu jadi pencadangannya Rp 349 miliar," jelas Rony.

"Kita konservatif berangkat dengan angka yang besar, kalau 2019 diaudit baru ada koreksi," katanya lagi.

Dia menjelaskan investasi Asabri untuk THT itu memang agresif mengingat investasi harus bisa menutupi kekurangan dari beban manfaat polis di masa mendatang. Namun perseroan tetap melakukan analisis yang harus terstruktur dalam investasi tersebut.

"2019 investasinya turun tajam terutama saham dan reksa dana, saham [turun] karena ada 50% [reksa dana saham kami] underlying hampir sama dengan saham yang kita punya," katanya.


"Aset turun Rp 16 triliun tapi masih sifatnya unrealised [potensi turun] itu [kami] sudah buat langkah recovery-nya."

Dia menjelaskan Asabri memiliki dua program utama yakni THT dan program pensiun. Untuk THT, tahun ini diperkirakan klaim lebih besar yakni Rp 100 miliar, tapi masih bisa ditutupi dari hasil investasi dari kupon investasi SBN dan obligasi korporasi (obligasi BUMN karya dan infrastruktur).

"[Kami] dapet kupon [obligasi] Rp 164 miliar, lalu deposito bunganya Rp 30 miliar, jadi sudah ter-cover [THT]. Sampai 3 tahun ke depan untuk kewajiban jangka pendek THT masih aman setidaknya apalagi kalau sudah ada langkah recovery."

Manajemen Asabri juga menegaskan bahwa penurunan nilai investasi Asabri terutama karena anjloknya saham dan reksa dana perseroan, terutama dari portofolio saham milik dua grup investor pasar modal yakni Heru Hidayat dan Benny Tjokrosaputro (Bentjok).


Heru adalah Komisaris Utama PT Trada Alam Minera Tbk (TRAM) yang juga memiliki beberapa saham lain, sementara Benny Tjokro adalah Dirut PT Hanson International Tbk (MYRX) dan pemilik PT Rimo Internasional Tbk (RIMO). Keduanya kini menjadi dua dari lima tersangka kasus dugaan korupsi PT Asuransi Jiwasraya (Persero).

"Total aset dari AIP [akumulasi iuran pensiun] 2018 sebesar Rp 26,9 triliun, sedangkan 2019 unaudited menjadi Rp 18,9 triliun. Penurunan [Rp 8 triliun] ini terjadi karena nilai saham dan reksa dana yang menurun khususnya paling besar karena dari dua orang itu [Heru dan Bentjok] karena dari Rp 400-500/saham tinggal 50 perak," kata Sonny.

[Gambas:Video CNBC]

 


(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading