Ilustrasi Dolar AS dan Rupiah (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Jakarta, CNBC Indonesia - Setelah pekan ini yang agak sibuk, sepertinya investor boleh mengendurkan urat-syarat menghadapi pekan depan. Tidak banyak data penting yang akan dirilis.
Sekadar kilas balik, pekan ini pasar berjalan begitu dinamis. Penyebabnya adalah Amerika Serikat (AS) dan China yang sudah resmi meneken perjanjian damai dagang Fase I di Gedung Putih pada 15 Januari.
Momentum ini menjadi kunci meningkatnya risk appetite pelaku pasar. Sepekan ini, berbagai mata uang Asia menguat di hadapan dolar AS akibat arus modal asing yang deras mengalir seiring hilangnya risiko perang dagang.
Dari dalam negeri, investor patut menantikan pengumuman suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) pada 23 Januari. Konsensus sementara yang dihimpun CNBC Indonesia memperkirakan BI 7 Day tetap bertahan di 5%.
"Kami memperkirakan suku bunga acuan akan diturunkan dua kali masing-masing 25 bps (basis poin) pada 2020. Namun penurunan ini sepertinya baru akan terjadi pada akhir kuartal I, bukan di awal, karena BI masih akan melihat berbagai data seperti pertumbuhan ekonomi dan penyaluran kredit, khususnya setelah penurunan GWM (Giro Wajib Minimum) yang efektif berlaku bulan ini," kata Helmi Arman, Ekonom Citi, dalam risetnya.
Tahun lalu, Gubernur Perry Warijyo dan kolega memangkas suku bunga acuan empat kali atau setara dengan 100 bps. Sepertinya tren ini akan terhenti untuk sementara waktu.
Tanpa penurunan suku bunga acuan, berinvestasi di aset-aset berbasis rupiah (terutama di instrumen berpendapatan tetap seperti obligasi) akan tetap menarik. Permintaan rupiah akan meningkat dan nilai tukarnya bisa menguat. Semoga...
Masih dari dalam negeri, investor juga perlu memonitor kabar dari korporasi. Mengutip Refinitiv, ada sejumlah korporasi yang akan memberi kejutan.
Pada 21 Januari, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS)Â akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). Dalam RUPSLB ini ada agenda pergantian direksi dan komisaris.
Lalu pada 22 Januari giliran PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA)Â yang melaksanakan RUPSLB. Seperti di PGAS, sepertinya akan ada perombakan di jajaran direksi dan komisaris.
Berikut proyeksi agenda korporasi pada pekan depan: Â
Tanggal
Emiten
Agenda
21 s/d 27 Januari
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI)
Rilis laporan keuangan 2019
21 Januari
PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS)
RUPSLB
22 Januari
PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA)
RUPSLB
23 Januari
PT Persada Bangun Pusaka Tbk (KONI)
RUPSLB
23 Januari
PT Keramika Indonesia Asosiasi Tbk (KIAS)
RUPSLB
23 Januari
PT Kokoh Inti Aremaba Tbk (KOIN)
RUPSLB
24 Januari
PT Leo Investment Tbk (ITTG)
RUPSLB
24 Januari
PT Bank Mandiri Tbk (BMRI)
Rilis laporan keuangan 2019
Sementara dari luar negeri, tidak banyak data penting yang akan dirilis pekan depan. Di China, akan ada rilis suku bunga acuan kredit (20 Januari) dan pertumbuhan investasi (20 Januari).
Pelaku pasar berharap data-data ekonomi China membaik, terutama setelah berdamai dengan AS. Pada kuartal IV-2019, ekonomi China tumbuh 6,1% year-on-year (YoY) dan sepanjang 2019 Produk Domestik Bruto (PDB) Negeri Panda tumbuh 6,1%.
Angka 6% berarti pertumbuhan ekonomi China pada kuartal IV-2019 sama seperti kuartal sebelumnya dan sesuai dengan konsensus pasar yang dihimpun Reuters. Namun tetap saja ini adalah laju terlemah sejak setidaknya 1992.
Seiring dengan tercapainya damai dagang, prospek ekonomi Negeri Tirai Bambu sepertinya akan membaik. China adalah perekonomian terbesar di Asia, sehingga apa yang terjadi di sana tentu akan mempengaruhi seluruh benua. Jadi wajar saja rilis data ekonomi China akan sangat berdampak terhadap pasar keuangan Benua Kuning, termasuk nasib Indonesia.
Beralih ke Jepang, pekan depan akan ada rilis produksi industri (20 Januari), pengumuman suku bunga acuan (21 Januari), neraca perdagangan (23 Januari), dan inflasi (24 Januari). Data yang perlu dicermati mungkin adalah pengumuman suku bunga acuan oleh Bank Sentral Jepang (BoJ).
Konsensus pasar yang dihimpun Reuters memperkirakan Gubernur Haruhiko Kuroda dan kolega akan mempertahankan suku bunga acuan di -0,1%. Selain itu, pasar memperkirakan proyeksi terhadap pertumbuhan ekonomi akan membaik. Sebelumnya, BoJ memperkirakan ekonomi Jepang pada tahun fiskal 2020 akan tumbuh 0,7% dan meningkat menjadi 1% pada tahun berikutnya.
 "Momentum ekonomi sepertinya terjaga sehingga BoJ akan memulai 2020 dengan mempertahankan posisi (stance) kebijakan moneter dengan perhatian khusus terhadap kondisi ekonomi terkini," kata Mari Iwashita, Chief Market Economist di Daiwa Securities, seperti diberitakan Reuters.