IHSG 2018 Jeblok, Koleksi Saham Taspen Bisa Tekor Rp 3,5 T

Market - tahir saleh & Irvin Avriano Arief, CNBC Indonesia
16 January 2020 14:20
IHSG 2018 Jeblok, Koleksi Saham Taspen Bisa Tekor Rp 3,5 T
Jakarta, CNBC Indonesia - PT Taspen (Persero) atau Dana Tabungan dan Asuransi Pegawai Negeri mengalami penurunan nilai portofolio saham yang diinvestasikan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 2018 sehingga menyebabkan adanya potensi kerugian (potential loss) pada portofolio ekuitasnya senilai Rp 3,52 triliun.

Turunnya nilai portofolio tersebut terjadi ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga terkoreksi 2,53% pada periode 2018 tersebut.

Angka potential loss Rp 3,52 triliun itu merupakan cerminan dari turunnya angka perolehan saham (atau nilai pembelian) Rp 16,57 triliun dengan nilai saham yang dihargai di pasar pada akhir tahun yang sama yakni 2018 senilai Rp 13,04 triliun.


Mengacu laporan keuangan Taspen pada 2018, rincian portofolio itu merupakan investasi untuk program Tunjangan Hari Tua (THT) PNS dengan klasifikasi tersedia untuk dijualm sehingga mengecualikan saham yang diukur pada nilai wajar.


Angka tersebut juga sudah memasukkan investasi saham di Program Pensiun senilai Rp 5,81 triliun dan investasi oleh anak usaha Rp 74,81 miliar.

Seluruh portofolio saham Taspen tersebut disajikan dalam laporan keuangan dengan klasifikasi saham perusahaan BUMN dan perusahaan swasta.






Foto: Saham Portofolio Taspen per Desember 2018



Untuk kelompok saham perusahaan BUMN, portofolio perseroan mengalami potensi penurunan nilai Rp 2,14 triliun atau dengan rerata 14,35%.

Penurunan itu terutama dibebani oleh turunnya nilai saham PT Jasa Marga Tbk (JSMR) Rp 296,94 miliar (30,31%), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) Rp 263,38 miliar (63,66%), dan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) Rp 479 miliar (14,29%-15,24%).

Saham lain adalah PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) Rp 193,76 miliar (33,53%) dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) Rp 173,06 miliar (33,19).

Di kelompok perusahaan swasta, koreksi saham yang paling membebani portofolio Taspen kala itu adalah PT Harum Energy Tbk (HRUM) Rp 414,76 miliar (81,89%), PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) Rp 266,21 miliar (47,8%), dan PT BW Plantation Tbk (BWPT) Rp 254,78 miliar (70,02%).

Saham perusahaan swasta lain adalah PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) Rp 128,93 miliar (30,85%), PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) Rp 72,02 miliar (30,8%), dan PT Steel Pipe Industry Indonesia Tbk (ISSP) Rp 69,53 miliar (71,81%).

Terkait dengan potential loss ini, CNBC Indonesia sudah mencoba menghubungi Direktur Utama Taspen Iqbal Latanro, namun hingga Kamis siang (16/1/2020), pesan singkat tak bisa menjangkau dua nomor yang bersangkutan, begitu juga dengan sambungan telepon yang tidak juga masuk dalam jangkauan.

Foto: Menilik Strategi Penempatan Investasi Dana Kelolaan Taspen (CNBC Indonesia TV)

Dalam perbincangan dengan CNBC Indonesia pada program Closing Bell Jumat 10 Januari 2020, Iqbal memang sudah berkali-kali menegaskan bahwa perseroan selalu menjalankan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance/GCG), termasuk dalam hal investasi.

"Taspen menerima premi kurang lebih Rp 8 triliun per tahun, tapi harus membayar klaim Rp 11 triliun per tahun, ada gap besar. Ditutup dari mana? Investasi. Kita punya arahan investasi Kementerian Keuangan, distribusikan ke SBN, obligasi pemerintah termasuk, lalu ada saham, ada deposito, dan investasi langsung," kata Iqbal dalam perbincangan tersebut.


Perseroan, katanya, diperbolehkan untuk berinvestasi langsung, salah satunya dengan mendirikan anak perusahaan yang bisnis intinya berkaitan dengan Taspen. 

"Tapi selama ini [anak usaha] masuk core business, misal kami punya Taspen Life, yang top up asuransi untuk PNS yang bisa [manfaatnya] lebih besar. Kami juga punya PT Bank Mandiri Taspen, untuk penyaluran pembayaran," jelas mantan Dirut PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau Bank BTN itu.

Adapun saham, kata Iqbal, porsinya kecil. 

Dalam laporan keuangan 2018, Iqbal menjelaskan bahwa nilai investasi konsolidasian sampai dengan 31 Desember 2018 sebesar Rp 216,75 triliun, atau mencapai 94,05% dari RKAP Tahun 2018.

Komposisi penempatan investasi 2018 yakni:

- Obligasi Rp 126,02 triliun atau 58,15%
- Sukuk Rp 28,35 triliun atau 13,08%
- Deposito Rp 26,61 triliun atau 12,28%
- Reksa dana Rp 15,10 triliun atau 6,97%
- Saham Rp 13,14 triliun atau 6,06%
- Investasi langsung Rp 2,83 triliun atau 1,31%
- KIK EBA Rp 2,43 triliun atau 1,12%
- Investasi pada entitas asosiasi Rp 1,58 triliun atau 0,73%
- MTN Rp 550 miliar atau 0,25%
- Properti investasi Rp 115,87 miliar atau 0,05%



"Seluruh premi yang kami terima masuk pencadangan, THT [tunjangan hari tua] itu 100%. Dana yang ada terakumulasi, kami tempatkan di bidang investasi, nah hasil investasi itulah menjadi pendapatan Taspen. Dari sisi lain kami mendapat penggantian dana operasional, yang kita peroleh dari pembayaran pemerintah kepada Taspen sebagai pengelola dapen," katanya.

"Seluruh premi yang diterima dijadikan cadangan untuk bayar [klaim], pendapatan yang kami peroleh dari pengelolaan cadangan ini yang sudah terakumulasi kurang lebih Rp 250 triliun."

Iqbal menjelaskan ada beberapa hal yang menjadi pegangan dalam hal strategi alokasi investasi karena sudah menjadi arahan pemegang saham.

"Kami mengelola GCG secara optimal, misalnya SOP yang sudah dijalankan dengan baik dan tertata dengan baik. Prinsip CGC ini yakni disiplin terhadap aturan, kemudian tentu kita membuat GCG yang kuat, termasuk pemisahan fungsi yang jelas, tentu di dalamnya disiplin terhadap SOP, yang mengatur instrument apa yg kita beli, AUM, sekuritas yang mengelola, detail-detailnya, tentu kita sadar bahwa investasi harus dijaga dengan baik dan efeknya jangka panjang.


[Gambas:Video CNBC]







(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading