Analisis Teknikal Saham

Dikuasai Grup Salim, Begini Gerak Harga Saham Bank Ina

Market - Yazid Muamar, CNBC Indonesia
16 January 2020 13:54
Dikuasai Grup Salim, Begini Gerak Harga Saham Bank Ina Foto: Bank INA Perdana (Ist)

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA) telah resmi dikendalikan Grup Salim yang merupakan konglomerasi bisnis makanan di Indonesia melalui kepemilikan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF).

Informasi tersebut disampaikan dalam keterbukaan informasi yang disampaikan Direktur Utama Bank Ina Perdana pada Jumat (10/1/ 2020). Kepemilikan Grup Salim tersebut dilakukan melalui anak usahanya yakni PT Indolife Pensiontama yang menjadi pengendali, di mana sebelumnya dipegang oleh PT Philadel Terra Lestari milik Pieter Tanuri.

Saham Bank Ina bergerak stagnan pada penutupan pasar sesi I hari Kamis (16/1/2020) pada harga Rp 835/saham, volume transaksinya terbilang sepi hanya 251 ribu saham senilai Rp 211 juta.


Secara teknikal, tren harga saham Bank Ina sejak 5 bulan terakhir bergerak stagnan antara Rp 775/saham hingga Rp 900/saham. Harganya cenderung naik ketika mendekati level support pada harga Rp 800/saham, dan cenderung turun ketika mendekati level resistance pada Rp 900/saham.

Melalui pergerakan volume yang tercipta pada saham Bank Ina, belum terlihat potensi pergerakan kenaikan harga maupun penurunan harga.

Hold_HOLDSumber: Refinitiv, Chart: Tim Riset CNBC Indonesia

Setelah dikuasai Grup Salim, PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA) berencana akan meningkatkan status menjadi bank BUKU (bank umum kelompok usaha) III dengan modal inti Rp 5 triliun hingga di bawah Rp 30 triliun. Ada dua cara yang akan ditempuh perseroan untuk meningkatkan status perseroan.


Direktur Utama Bank Ina Perdana Daniel Budirahayu menyampaikan hal tersebut dalam wawancara dengan CNBC Indonesia pada September 2019. Rencana untuk jadi bank BUKU III tersebut ditargetkan direalisasikan dalam kurun waktu lima tahun atau pada 2024.

"Modalnya dari mana? Selain dari organik, dari return earning yang kita tahan. Tentunya mungkin dari capital market dan injeksi dari pemegang saham," kata Daniel, pada waktu itu dalam acar Closing Bell.

Manajemen sudah melakukan simulasi terkait penambahan modal tersebut. Skenarionya, kemungkinan dari penerbitan saham baru (rights issue) dan injeksi dari pemegang saham eksisting langsung.

"Kemungkinannya bisa kombinasi, dari capital market dan pemegang saham. Atau seluruhnya dari pemegang saham," tambah Daniel.

Bank Ina juga sedang mengajukan diri ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menjadi bank devisa. Berdasarkan peraturan OJK, untuk menjadi bank devisa, dalam 3 tahun berturut-turut harus punya good corporate governance (GCG) yang baik.

"Untuk menjadi bank devisa, kalau kita sudah ajukan sekarang. Mungkin tahun depanlah [2020] bisa diwujudkan," tambah Daniel.

Untuk meningkatkan kinerja pendapatan dari Bank Ina, Daniel menjelaskan, akan memanfaatkan jaringan bisnis Grup Salim. Salah satu bisnis model yang sedang dikembangkan Bank Ina melalui platform digital.

Layanan perbankan digital tersebut akan digunakan untuk menyalurkan kredit konsumsi, payroll, pendanaan mikro, dan transaksi. "Dengan digital platform yang sedang kita siapkan ini, kita mengharapkan nanti akan menjadi bank dengan transaction payment-nya kuat. Kita akan mendapatkan fee base-nya," jelas Daniel.


[Gambas:Video CNBC]





TIM RISET CNBC INDONESIA

(yam/yam)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading