AS-China Rujuk & Bursa Asia Hijau, IHSG Kok ke Zona Merah?

Market - Anthony Kevin, CNBC Indonesia
16 January 2020 09:22
Pada pukul 09:15 WIB, koreksi IHSG telah menjadi bertambah dalam yakni sebesar 0,36% ke level 6.260,96.
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan keempat di pekan ini, Kamis (16/1/2020), di zona merah.

Pada pembukaan perdagangan, IHSG terkoreksi 0,12% ke level 6.275,96. Pada pukul 09:15 WIB, koreksi IHSG telah menjadi bertambah dalam yakni sebesar 0,36% ke level 6.260,96.

Kinerja IHSG berbanding terbalik dengan seluruh bursa saham utama kawasan Asia yang justru kompak bergerak di zona hijau. Hingga berita ini diturunkan, indeks Nikkei terapresiasi 0,02%, indeks Shanghai naik 0,06%, indeks Hang Seng menguat 0,4%, indeks Straits Times terkerek 0,33%, dan indeks Kospi bertambah 0,03%.

Formalisasi kesepakatan dagang tahap satu antara AS dan China menjadi sentimen positif yang memantik aksi beli di bursa saham Benua Kuning. Kemarin waktu setempat, Rabu (15/1/2020), AS dan China menandatangani kesepakatan dagang tahap satu di Gedung Putih, AS.


Dari pihak AS, penandatanganan dilakukan langsung oleh Presiden Donald Trump, sementara pihak China mengirim Wakil Perdana Menteri Liu He.

Sesuati dengan yang diumumkan oleh Trump pada bulan Desember, melalui kesepakatan dagang tahap satu AS akan memangkas bea masuk sebesar 15% terhadap produk impor asal China senilai US$ 120 miliar menjadi setengahnya atau 7,5%.

Sebelumnya, AS telah membatalkan rencana untuk mengenakan bea masuk tambahan terhadap produk impor asal China pada tanggal 15 Desember. Untuk diketahui, nilai produk impor asal China yang akan terdampak oleh kebijakan ini sejatinya mencapai US$ 160 miliar.

Lebih lanjut, kesepakatan dagang tahap satu antara AS dan China memasukkan komitmen dari China untuk membeli produk asal AS senilai US$ 200 miliar dalam kurun waktu dua tahun.

Kemudian, kesepakatan dagang tahap satu AS-China juga akan membereskan komplain dari AS terkait pencurian hak kekayaan intelektual dan transfer teknologi secara paksa yang sering dialami oleh perusahaan-perusahaan asal Negeri Paman Sam.

Melalui kesepakatan dagang tahap satu, China diwajibkan untuk membuat proposal terkait lankah-langkah yang akan diadopsi untuk memperkuat perlindungan hak kekayaan intelektual. Proposal tersebut harus disampaikan ke AS dalam waktu 30 hari setelah kesepakatan dagang tahap satu resmi berlaku.

Terkait dengan transfer teknologi secara paksa yang sering dialami oleh perusahaan-perusahaan asal Negeri Paman Sam, di dalam kesepakatan dagang tahap satu disebutkan bahwa perusahaan-perusahaan harus bisa beroperasi di China "tanpa adanya paksaan atau tekanan dari pihak lain untuk mentransfer teknologinya ke pihak lain."

[Gambas:Video CNBC]



Dari dalam negeri, sejatinya ada juga sentimen positif bagi pasar saham Tanah Air yakni rilis data perdagangan internasional periode Desember 2019 oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Data tersebut dirilis oleh BPS kemarin siang (15/1/2020).

Sepanjang bulan lalu, BPS mencatat bahwa ekspor tumbuh sebesar 1,28% secara tahunan, lebih baik ketimbang konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia yang memperkirakan ekspor mengalami kontraksi sebesar 1,9% secara tahunan. Sementara itu, impor jatuh sebesar 5,62% secara tahunan, lebih dalam dibandingkan konsensus yang memperkirakan koreksi sebesar 4,4% saja.

Alhasil, neraca perdagangan Indonesia membukukan defisit sebesar US$ 28 juta, jauh di bawah konsensus yang memproyeksikan defisit hingga US$ 456,5 juta.

Sayang, formalisasi kesepakatan dagang AS-China dan rilis data perdagangan internasional yang terbilang menggembirakan gagal mendongkrak kinerja pasar saham Indonesia.

TIM RISET CNBC INDONESIA
(ank/ank)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading