2019 Neraca Dagang Defisit, Akhir Sesi I IHSG Melemah

Market - Anthony Kevin, CNBC Indonesia
15 January 2020 12:30
2019 Neraca Dagang Defisit, Akhir Sesi I IHSG Melemah Foto: Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan ketiga di pekan ini, Rabu (15/1/2020), di zona hijau.

Pada pembukaan perdagangan, IHSG menguat tipis 0,01% ke level 6.326,17. Sayang, per akhir sesi satu IHSG justru berada di zona merah. Per akhir sesi satu, indeks saham acuan di Indonesia tersebut terkoreksi 0,38% ke level 6.301,2.

Saham-saham yang berkontribusi signifikan dalam menekan kinerja IHSG di antaranya: PT HM Sampoerna Tbk/HMSP (-1,73%), PT United Tractors Tbk/UNTR (-3,74%), PT Telekomunikasi Indonesia TBk/TLKM (-0,76%), PT Bank Mandiri Tbk/BMRI (-0,65%), dan PT Astra International Tbk/ASII (-0,7%).


Kinerja IHSG senada dengan seluruh bursa saham utama kawasan Asia yang juga sedang bergerak di zona merah. Hingga berita ini diturunkan, indeks Nikkei turun 0,29%, indeks Shanghai terkoreksi 0,26%, indeks Hang Seng terpangkas 0,12%, indeks Straits Times melemah 0,03%, dan indeks Kospi berkurang 0,41%.

Pelaku pasar saham Benua Kuning kini menantikan formalisasi kesepakatan dagang tahap satu antara AS dan China. Melansir CNBC International, AS dan China dijadwalkan untuk menandatangani kesepakatan dagang tahap satu pada hari Rabu (15/1/2020) di AS.

Melansir Reuters, sebanyak lebih dari 200 undangan telah disebar untuk seremoni penandatanganan kesepakatan dagang tahap satu. Seremoni penandatanganan kesepakatan dagang akan digelar di Washington, tepatnya di Gedung Putih.

Menurut Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin, komitmen China terkait kesepakatan dagang tahap satu tidaklah berubah dalam proses penerjemahan teks kesepakatan dagang yang panjang.

"Itu (komitmen dari China) tidaklah berubah dalam proses penerjemahan," kata Mnuchin dalam acara "Sunday Morning Futures with Maria Bartiromo", seperti dilansir dari Reuters.

"Kami telah melalui proses penerjemahan yang saya rasa kita sebut sebagai permasalahan teknis."

Menurut Mnuchin, teks kesepakatan dagang kedua negara akan dirilis pada pekan ini, tepatnya pada hari penandatanganan.

"Dan orang-orang dapat melihatnya. Ini adalah kesepakatan yang sangat menyeluruh," sebut Mnuchin.

Sebelumnya pada pekan lalu, China mengumumkan bahwa Wakil Perdana Menteri Liu He akan berkunjung ke Washington pada pekan ini untuk meneken kesepakatan dagang tahap satu.

"Karena undangan dari AS, Liu He akan memimpin delegasi ke Washington dari tanggal 13 hingga 15 Januari untuk menandatangani perjanjian fase I," kata Juru Bicara Kementerian Perdagangan China Gao Feng, seperti dikutip dari AFP.

Menjelang formalisasi damai dagang antar kedua negara, justru ada perkembangan yang kurang mengenakan. Melansir Bloomberg, bea masuk yang dibebankan AS terhadap produk impor asal China kemungkinan akan tetap diberlakukan hingga pemilihan presiden di AS selesai dilakukan. Pemberitaan dari Bloomberg tersebut mengutip orang-orang yang mengetahui jalannya negosiasi dagang antar kedua negara.

Lebih lanjut, upaya untuk mengurangi bea masuk terhadap produk impor asal China akan bergantung kepada kepatuhan China terkait dengan komitmen yang mereka sepakati dalam kesepakatan dagang tahap satu.

Sebagai catatan, pemangkasan bea masuk untuk produk impor asal China senilai US$ 120 miliar (dari 15% menjadi 7,5%) tetap akan dieksekusi pasca kesepakatan dagang tahap satu diteken.

Penantian atas formalisasi kesepakatan dagang tahap satu antara AS dan China, berikut dengan pemberitaan negatif yang menyelimutinya, membuat pelaku pasar saham Asia memasang mode defensif.

Dari dalam negeri, sejatinya ada sentimen positif bagi pasar saham Tanah Air yakni rilis data perdagangan internasional periode Desember 2019 oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Data tersebut dirilis oleh BPS pada sekitar pada pukul 11:00 WIB.

Sepanjang bulan lalu, BPS mencatat bahwa ekspor tumbuh sebesar 1,28% secara tahunan, lebih baik ketimbang konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia yang memperkirakan ekspor mengalami kontraksi sebesar 1,9% secara tahunan. Sementara itu, impor jatuh sebesar 5,62% secara tahunan, lebih dalam dibandingkan konsensus yang memperkirakan koreksi sebesar 4,4% saja.

Alhasil, neraca perdagangan Indonesia membukukan defisit sebesar US$ 28 juta, jauh di bawah konsensus yang memproyeksikan defisit hingga US$ 456,5 juta.

Sayang, rilis data perdagangan internasional yang terbilang menggembirakan tersebut gagal mendongkrak kinerja pasar saham Indonesia.

TIM RISET CNBC INDONESIA (ank/ank)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading