Akhir Sesi I, IHSG Masih Berkutat di Zona Merah

Market - Anthony Kevin, CNBC Indonesia
16 January 2020 12:27
Akhir Sesi I, IHSG Masih Berkutat di Zona Merah Foto: Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan keempat di pekan ini, Kamis (16/1/2020), di zona merah.

Pada pembukaan perdagangan, IHSG terkoreksi 0,12% ke level 6.275,96. Per akhir sesi satu, IHSG masih berkutat di zona merah. Indeks saham acuan di Indonesia tersebut terkoreksi 0,1% ke level 6.276,98.

Saham-saham yang berkontribusi signifikan dalam menekan kinerja IHSG di antaranya: PT Telekomunikasi Indonesia Tbk/TLKM (-1,03%), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk/BBRI (-0,66%), PT Barito Pacific Tbk/BRPT (-3,03%), PT Bank Mandiri Tbk/BMRI (-0,98%), dan PT Astra International Tbk/ASII (-1,04%).




Kinerja IHSG berbanding terbalik dengan mayoritas bursa saham utama kawasan Asia yang justru sedang bergerak di zona hijau. Hingga berita ini diturunkan, indeks Nikkei terapresiasi 0,02%, indeks Straits Times naik 0,22%, dan indeks Kospi menguat 0,2%.

Formalisasi kesepakatan dagang tahap satu antara AS dan China menjadi sentimen positif yang memantik aksi beli di bursa saham Benua Kuning. Kemarin waktu setempat, Rabu (15/1/2020), AS dan China menandatangani kesepakatan dagang tahap satu di Gedung Putih, AS.

Dari pihak AS, penandatanganan dilakukan langsung oleh Presiden Donald Trump, sementara pihak China mengirim Wakil Perdana Menteri Liu He.

"Hari ini kami mengambil langkah penting yang belum pernah dilakukan sebelumnya dengan China, yang akan memastikan perdagangan yang adil dan saling menguntungkan," kata Trump saat seremoni penandatanganan di Gedung Putih, Washington, AS, seperti dikutip dari AFP.

"Bersama-sama, kita (akan) memperbaiki kesalahan masa lalu," kata Trump lagi.

"Negosiasi ini sulit bagi kami. Tapi ini terobosan yang sangat luar biasa."


Sesuai dengan yang diumumkan oleh Trump pada bulan Desember, melalui kesepakatan dagang tahap satu AS akan memangkas bea masuk sebesar 15% terhadap produk impor asal China senilai US$ 120 miliar menjadi setengahnya atau 7,5%.

Sebelumnya, AS telah membatalkan rencana untuk mengenakan bea masuk tambahan terhadap produk impor asal China pada tanggal 15 Desember. Untuk diketahui, nilai produk impor asal China yang akan terdampak oleh kebijakan ini sejatinya mencapai US$ 160 miliar.

Lebih lanjut, kesepakatan dagang tahap satu antara AS dan China memasukkan komitmen dari China untuk membeli produk asal AS senilai US$ 200 miliar dalam kurun waktu dua tahun.

Kemudian, kesepakatan dagang tahap satu AS-China juga akan membereskan komplain dari AS terkait pencurian hak kekayaan intelektual dan transfer teknologi secara paksa yang sering dialami oleh perusahaan-perusahaan asal Negeri Paman Sam.

Melalui kesepakatan dagang tahap satu, China diwajibkan untuk membuat proposal terkait lankah-langkah yang akan diadopsi untuk memperkuat perlindungan hak kekayaan intelektual. Proposal tersebut harus disampaikan ke AS dalam waktu 30 hari setelah kesepakatan dagang tahap satu resmi berlaku.

Terkait dengan transfer teknologi secara paksa yang sering dialami oleh perusahaan-perusahaan asal Negeri Paman Sam, di dalam kesepakatan dagang tahap satu disebutkan bahwa perusahaan-perusahaan harus bisa beroperasi di China "tanpa adanya paksaan atau tekanan dari pihak lain untuk mentransfer teknologinya ke pihak lain."

Dari dalam negeri, sejatinya ada juga sentimen positif bagi pasar saham Tanah Air yakni rilis data perdagangan internasional periode Desember 2019 oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Data tersebut dirilis oleh BPS kemarin siang.

Sepanjang bulan lalu, BPS mencatat bahwa ekspor tumbuh sebesar 1,28% secara tahunan, lebih baik ketimbang konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia yang memperkirakan ekspor mengalami kontraksi sebesar 1,9% secara tahunan. Sementara itu, impor jatuh sebesar 5,62% secara tahunan, lebih dalam dibandingkan konsensus yang memperkirakan koreksi sebesar 4,4% saja.

Alhasil, neraca perdagangan Indonesia membukukan defisit sebesar US$ 28 juta, jauh di bawah konsensus yang memproyeksikan defisit hingga US$ 456,5 juta.

Ketika defisit neraca perdagangan relatif tipis, maka ada harapan bahwa current account deficit (CAD) akan membaik.

Pada kuartal I-2019, Bank Indonesia (BI) mencatat CAD berada di level 2,51% dari PDB, jauh lebih dalam ketimbang CAD pada kuartal I-2018 yang berada di level 1,94% dari PDB. Kemudian pada kuartal II-2019, CAD membengkak menjadi 2,93% dari PDB. Pada kuartal III-2019, CAD membaik menjadi 2,66% dari PDB. CAD pada kuartal III-2019 juga lebih baik dari yang sebelumnya 3,22% pada kuartal III-2018.

Sayang, formalisasi kesepakatan dagang AS-China dan rilis data perdagangan internasional yang terbilang menggembirakan gagal mendongkrak kinerja pasar saham Indonesia.


TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]



(ank/ank)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading