Analisis

Trump Teken Trade Deal Fase I Hari Ini, Emas Siap Menguat?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
15 January 2020 14:55
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dunia menguat pada perdagangan Rabu (15/1/2020) menjelang ditandatanganinya kesepakatan dagang fase I antara Amerika Serikat (AS) dengan China. Pada pukul 14:35 WIB, emas diperdagangkan di level US$ 1.551,22/troy ons, menguat 0,33% di pasar spot, melansir data Refinitiv.

AS dan China hari ini akan menandatangani kesepakatan dagang fase I pada Rabu waktu Washington. Dalam kesepakatan dagang fase I, Presiden Trump mengatakan bahwa bea masuk sebesar 15% terhadap produk impor asal China senilai US$ 120 miliar nantinya akan dipangkas menjadi 7,5% saja sebagai bagian dari kesepakatan dagang tahap satu.

Sementara dari pihak China, Trump menyebut bahwa China akan segera memulai pembelian produk agrikultur asal AS yang jika ditotal akan mencapai US$ 50 miliar.




Sebelum kesepakatan tersebut diteken, kabar kurang menyenangkan dari AS membuat harga emas menguat pada hari ini. Bloomberg News melaporkan jika AS baru akan meninjau kembali dan menghilangkan bea importasi paling tidak 10 bulan ke depan.

Departemen Keuangan AS juga menegaskan hal tersebut, memang benar.

"Tidak ada kesepakatan untuk pengurangan tarif di masa depan. Setiap rumor yang bertentangan adalah palsu," kata Departemen Keuangan dan kantor Perwakilan Dagang AS (USTR) dalam sebuah pernyataan bersama, Selasa (14/1/2020), sebagaimana dilaporkan AFP.

Setelah rilis tersebut, harapan pelaku pasar akan adanya kesepakatan dagang fase II antara AS dan China dalam waktu dekat menjadi pupus. Sentimen pelaku pasar sedikit memburuk, sebagian bursa saham global masuk ke zona merah, dan emas pun menguat.

Harga emas saat ini sepertinya sudah menakar (price in) terhadap kesepakatan dagang fase I, sehingga ketika ada susuatu yang mengganjal di benak pelaku pasar maka harga emas akan langsung menguat.

Selain itu, data ekonomi AS sekali lagi dirilis mengecewakan. Selasa kemarin, data inflasi bulan Desember dirilis sebesar 0,2% sesuai dengan prediksi Reuters, tetapi lebih rendah dari pertumbuhan bulan sebelumnya 0,3%.

Sementara inflasi inti, yang tidak memasukkan sektor energi dan makanan, hanya tumbuh 0,1% lebih rendah dari prediksi Reuters dan pertumbuhan bulan sebelumnya 0,2%.



Untuk diketahui data inflasi dan tenaga kerja merupakan dua acuan utama bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) dalam menetapkan suku bunga. Data tenaga kerja AS sudah dirilis pada Jumat (10/1/2020) pekan lalu, hasilnya juga mengecewakan.

Pada akhir tahun lalu, The Fed mengatakan tidak akan menaikkan suku bunga di tahun ini, setelah memangkas suku bunga sebanyak tiga kali di 2019. Sikap tersebut membuat emas mampu menguat di penghujung tahun hingga mengakhiri perdagangan di atas US$ 1.500/troy ons di penutupan perdagangan 2019. 

Melihat data tenaga kerja dan inflasi yang masih lemah, ada kemungkinan The Fed akan kembali memangkas suku bunga di tahun ini. The Fed yang berencana tidak menaikkan suku bunga di tahun ini sudah mampu membuat emas menguat, apalagi jika kembali membuka peluang pemangkasan.
Arah angin sebenarnya masih memihak kepada emas.

Analisis Teknikal
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading