Malaysia Kritik Invasi Kashmir, Siap-siap Harga CPO Melesat!

Market - Tirta Widi Gilang Citradi & Yazid Muamar, CNBC Indonesia
13 January 2020 12:37
Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran yang terjadi sepanjang pekan lalu cukup membuat harga komoditas bergejolak.

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran yang terjadi sepanjang pekan lalu cukup membuat harga komoditas bergejolak, baik komoditas perkebunan maupun pertambangan.

Rata-rata harga komoditas seperti minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), batu bara dan emas mengalami kenaikan, sementara hanya minyak mentah (crude oil) yang tertekan karena mengimbangi kenaikan tinggi pada sepekan sebelumnya.

Seperti diketahui Iran melakukan serangan balasan atas terbunuhnya Jenderal Qasem Soleimani, Iran melakukan tembakan peluru kendali (rudal) ke Bandara Ain al-Asad yang menjadi salah satu basis tentara AS di Irak pada Rabu pagi (8/1/2020).


Hal ini turut memicu kenaikan harga minyak karena pelaku pasar khawatir jalur dan infrastruktur produksi minyak di kawasan timur tengah akan terganggu, dampaknya pasokan akan terganggu sementara permintaan stabil sehingga harga minyak melonjak.

Ketegangan tersebut akhirnya mereda pada setelah Trump mengatakan lebih memilih pendekatan secara ekonomi dari pada militer pada Rabu (8/1/2020) waktu AS. Ia juga mengatakan "segera menjatuhkan sanksi hukuman ekonomi tambahan pada rezim Iran.".


Trump juga terbuka untuk melakukan negosiasi dengan Republik Islam tersebut. "Kita semua harus bekerja sama untuk membuat kesepakatan dengan Iran yang membuat dunia menjadi tempat yang lebih aman dan damai," ucap Trump.



Pergerakan Komoditas (emas, batu bara, CPO, dan minyak) dalam sepekan:

Hold_HOLDSumber: Refinitiv


Khusus CPO, pada Jumat (10/1/2020), harganya berada di level RM 3.095 atau turun 0,48% dibanding posisi penutupan hari sebelumnya. Saat ini sentimen yang membuat harga CPO kembali naik sepekan ialah larangan impor minyak sawit olahan Malaysia oleh India.

Reuters, melaporkan bahwa menteri perdagangan dan perindustrian India baru-baru ini telah mengeluarkan pengumuman yang mengubah status impor minyak sawit olahan dari "free" menjadi "restricted".

Upaya itu dilakukan untuk melarang impor minyak sawit olahan dan hanya bisa mengimpor CPO. Langkah ini juga dilakukan untuk memberi hukuman kepada Malaysia atas kritik yang dilancarkan Perdana Menteri (PM) Malaysia Mahathir Mohammad, terhadap India.

Pada Oktober 2019, PM Malaysia tersebut melontarkan kritik keras kepada India soal konflik yang terjadi di Kashmir, wilayah yang dihuni mayoritas muslim yang juga diklaim oleh Pakistan. Mahathir mengatakan India telah "menginvasi dan menduduki" Kashmir, wilayah di utara sub-benua India.

Foto: Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad mendengarkan Perdana Menteri Cina Li Keqiang pada KTT ASEAN-China di Singapura pada 14 November 2018. REUTERS / Edgar Su


Dengan larangan impor minyak sawit olahan tersebut, maka produk CPO Malaysia harus bersaing dengan CPO Indonesia. Ada potensi terjadi perang harga mengingat harga CPO Indonesia masih lebih kompetitif, melansir Reuters.




Adapun pada hari ini, Senin (13/1/2020), harga CPO melemah pada perdagangan hari ini. Walau terkoreksi, harga CPO masih berada di rentang harga tertingginya.

Senin ini, harga CPO kontrak di Bursa Malaysia Derivatif (BMD) ditransaksikan di level RM 3.101/ton. Jika dibanding posisi penutupan pekan lalu harga CPO kontrak turun 33 ringgit atau terkoreksi 1,05%.

Harga CPO kembali menguat pekan lalu juga ditopang sentimen Dewan Minyak Sawit Malaysia (MPOB) merilis data persediaan minyak sawit yang menggembirakan. Menurut data MPOB persediaan minyak sawit bulan Desember berada di posisi 2,01 juta ton atau level terendah sejak 27 bulan terakhir.

"Faktor yang mendongkrak harga adalah perbaikan dari sisi ekspor juga terkait pasokan yang lebih ketat di Malaysia dan Indonesia setidaknya sampai bulan Maret" kata Marcello Culterra, Manager Penjualan Institusional di Phillip Futures, melansir Reuters.


[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya

Banjir Kabar Baik, Harga CPO Melesat 2% Lebih di Awal Pekan


(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading