Hari ini, Emas Hadapi Ujian Pertama Menuju US$ 1.700/oz

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
10 January 2020 15:30
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dunia melemah diperdagangan Jumat (10/1/2020), melanjutkan pelemahan dua hari sebelumnya.

Pada Rabu (8/1/2020) emas mengalami antiklimaks. Saat itu di awal perdagangan, harga logam mulia ini melesat 2,35% ke level US$ 1,610,9/troy ons. Level tersebut merupakan harga emas tertinggi sejak Maret 2013. Tetapi di akhir perdagangan kemarin, emas justru melemah 1,15% ke US$ 1.555,71/troy ons melansir data Refinitiv.

Pelemahan emas berlanjut Kamis (9/1/2020) sebesar 0,22%, dan pada hari ini 0,14% ke level US$ 1,550,05/troy ons pada pukul 15:18 WIB.


Penguatan tajam emas pada perdagangan Rabu kemarin berkat "bantuan" dari Iran yang menyerang pangkalan militer AS dengan rudal. Hal tersebut dilakukan sebagai balasan atas tewasnya Jenderal Qassim Soleimani lewat serangan pesawat tanpa awak AS di Bandara International Baghdad.



Dunia menjadi cemas akan pecahnya perang antara AS dengan Iran, dampaknya pelaku pasar mengamankan kekayaannya di emas, harganya pun melesat naik melewati US$ 1.600/troy ons.

Tetapi, Presiden AS, Donald Trump, mendinginkan suasana. Dalam pidatonya pada Rabu (8/1/2020) Trump mengindikasikan tidak akan menggunakan kekuatan militer. Presiden AS ke-45 ini juga mengatakan membuka peluang bernegosiasi dengan Iran.

"Kita semua harus bekerja sama untuk mencapai kesepakatan dengan Iran yang membuat dunia menjadi tempat yang lebih aman dan damai" kata Trump sebagaimana dilansir CNBC International.

Risiko terjadinya perang menjadi mengecil, sentiment investor kembali pulih dan mulai masuk ke aset berisiko, dampaknya emas pun jeblok lagi.

Diluar "bantuan" dari Iran tersebut, emas sebenarnya sudah menunjukkan tanda-tanda penguatan sejak akhir tahun lalu kala bursa saham AS (Wall Street) terus mencetak rekor tertinggi. Emas yang seharusnya mengalami tekanan justru menguat, bahkan mengakhiri tahun 2019 di atas level US$ 1.500/troy ons.

Kinerja tersebut menjadi langkah awal bagi emas untuk terus di tahun ini Setelah berhasil mencicipi level US$ 1.600/troy ons, tentunya akan memudahkan bagi emas untuk kembali menembus level tersebut, dan naik lebih tinggi lagi.



Hari ini, emas akan menghadapi ujian pertama bagi emas untuk kembali menguat. Ujian datang dari data tenaga kerja AS, yang merupakan salah satu acuan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) dalam menetapkan suku bunga. Data tersebut dirilis malam ini pukul 20:30 WIB. 

Salah satu alasan emas masih kuat hingga saat ini adalah sikap The Fed akhir tahun lalu yang menyatakan suku bunga tidak akan dinaikkan di tahun ini.

[Gambas:Video CNBC]



Tetapi sikap tersebut masih tergantung pada rilis data ekonomi, jika membaik maka sikap tersebut akan terkonfirmasi atau bahkan akan membuka peluang untuk menaikkan suku bunga, emas bisa mengalami tekanan.

Sebaliknya, jika data ekonomi AS malam memburuk, The Fed tentunya akan mempertimbangkan lagi untuk memangkas suku bunga di tahun ini, emas bisa melesat lagi, dan membuka jalur menuju US$ 1.700/troy ons, yang menurut Bloomberg Intelligence merupakan titik resistennya di tahun 2020.

Analisis Teknikal
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading