Ekonomi AS Tumbuh 2,1%, Emas Masih Saja Ogah Berayun

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
20 December 2019 21:23
Ekonomi AS Tumbuh 2,1%, Emas Masih Saja Ogah Berayun
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas global benar-benar cuek terhadap semua isu sepanjang pekan ini. Mulai dari kesepakatan dagang fase I antara Amerika Serikat (AS) dengan China, risiko hard Brexit, sampai pemakzulan Presiden AS Donald Trump yang tidak membuat harga emas bergerak jauh.

Terbaru, rilis pertumbuhan ekonomi atau produk domestik bruto (PDB) final AS juga tak membuat logam mulia ini bergerak jauh, entah itu menguat atau melemah. Padahal, rilis yang bernada positif seperti itu biasanya membuat harga emas tertekan.

Departemen Perdagangan AS melaporkan PDB kuartal-III-2019 tumbuh sebesar 2,1% secara kuartalan yang disetahunkan (quarterly annualized), tidak ada perubahan dengan rilis pembacaan kedua.


Data tersebut menunjukkan perekonomian AS masih cukup kuat meski sedang perang dagang dengan China dalam 18 bulan terakhir. PDB tersebut sekaligus mengkonfirmasi sikap optimistis bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) terhadap perekonomian Paman Sam. Dengan demikian, suku bunga di AS kemungkinan tidak akan lagi diturunkan.



Harga emas juga biasanya sangat sensitif dengan outlook suku bunga The Fed. Ketika The Fed diprediksi kuat akan memangkas suku bunga emas cenderung menguat, sebaliknya jika bank sentral paling powerful di dunia ini diproyeksikan tidak memangkas suku bunga atau bahkan malah menaikkannya emas merespon dengan melemah.

Namun kali ini emas cuek, dan tidak bergerak jauh dari pola pergerakan yang sudah terjadi sejak awal pekan. Sepanjang pekan ini rentang pergerakan emas hanya di kisaran US$ 1.469-1.481/troy ons, sementara pada Jumat (20/12/2019) emas nyaris stagnan pada US$ 1.479.22/troy ons dibandingkan penutupan Kamis di pasar spot, menurut data Refinitiv.



Di awal pekan, isu pertama yang seharusnya bisa membuat harga emas bergerak dengan rentang lebar yakni Perang dagang AS-China yang sudah memasuki babak baru dengan kesepakatan dagang fase I pada Jumat (13/12/2019) lalu.

Kepala Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer, Kamis kemarin mengatakan kesepakatan dagang fase I akan ditandatangani pada awal Januari, ia menambahkan meski masih beberapa pekan ke depan tetapi sudah tidak ada lagi negosiasi.

Hal senada diungkapkan Penasihat Ekonomi Gedung Putih Lawrence Kudlow di awal pekan ini yang menyebut kesepakatan fase I sudah sepenuhnya selesai, sebagaimana diwartakan Reuters.

Kudlow berharap Presiden Trump dan Presiden Xi Jinping dari China akan menandatangani perjanjian tersebut pada awal Januari. Selepas itu, AS-China akan memulai negosiasi damai dagang fase II. Meski demikian, kabar bagus tersebut belum sanggup menjungkalkan harga emas.

Beralih ke Inggris, risiko terjadinya hard Brexit yang meningkat seharusnya juga bisa "melecut" harga emas. Setelah Partai Konservatif pimpinan Perdana Menteri (PM) Boris Johnson memenangi Pemilihan Umum (Pemilu), kini Johnson dikabarkan akan merevisi undang-undang keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Withdrawal Agreement Bill).


CNBC International mengutip media lokal mewartakan PM Johnson akan merevisi undang-undang tersebut yang menghalangi diperpanjangnya masa transisi keluarnya Inggris dari Uni Eropa. Dengan singkatnya masa transisi, pembahasan perjanjian dagang pun harus dipercepat sehingga PM Johnson bakal melakukan pendekatan lebih keras.

Hal ini memicu kekhawatiran tidak akan ada kesepakatan dagang antara Inggris dan Uni Eropa alias hard Brexit yang bisa mengancam perekonomian Inggris. Hal tersebut semestinya membuat daya tarik emas kembali meningkat. Namun nyatanya, harga emas masih bebal.

Selanjutnya Presiden AS, Donald Trump, resmi dimakzulkan oleh House of Representative (DPR) pada hari Rabu waktu setempat. Meski demikian, proses pemakzulan Trump masih belum selesai.

Pengadilan pemakzulan Trump akan digelar Senat AS, yang akan menentukan apakah Presiden AS ke-45 ini harus keluar dari Gedung Putih atau membebaskannya dari dakwaan penyalahgunaan kekuasaan dan menghalangi penyelidikan Kongres AS atas dirinya. Dua dakwaan tersebut membuat Presiden Trump dimakzulkan di DPR AS. 



Berbeda dari DPR yang dikuasai Partai Demokrat selaku oposisi, Senat AS dikuasai oleh Partai Republik tempat Trump bernaung. Dari 100 kursi Senat, Partai Republik menguasai 53 kursi, dan untuk memakzulkan Trump dibutuhkan setidaknya 67 suara.

Melihat komposisi Senat AS tersebut, kecil kemungkinannya Trump akan lengser dari kursi AS 1. Tetapi tetap saja dinamika yang terjadi sempat membuat gejolak di pasar. Dengan banyaknya isu tersebut, emas masih saja cuek dan tetap bergerak di situ-situ saja.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading