Turki Lepas dari Jerat Hantu Resesi, Karena Presiden Erdogan?

Market - Arif Budiansyah, CNBC Indonesia
08 December 2019 07:16
Turki Lepas dari Jerat Hantu Resesi, Karena Presiden Erdogan?
Ankara, CNBC Indonesia - Perekonomian Turki di bawah kepemimpinan Presiden Recep Tayyip Erdogan sempat terjerat resesi pada tahun ini. Ada sejumlah indikator yang menandai hal tersebut.

Pada kuartal I-2019, ekonomi Turki berkontraksi 2,6% (year on year). Sementara di kuartal II-2019, ekonomi Turki juga turun 1,5%.

Namun, saat ini, bayang-bayang resesi mulai menjauh dari negara yang beribu kota di Ankara itu. Di kuartal ketiga ini, ekonomi Turki tumbuh positif.


Ekonomi Turki tumbuh 0,9% secara tahunan pada kuartal III-2019. Hal itu diumumkan Badan Statistik Turki (Turkish Statistical institute/TurkStat), Senin (2/12/2019).

Nilai PDB per kuartal III-2019 mencapai 1,15 triliun Lira (US$ 201,9 miliar). Ekspor barang dan jasa naik 5,1% secara tahunan, sementara impor tumbuh 7,6%.

"Pertumbuhan sektor jasa, yang terdiri dari perdagangan, transportasi, akomodasi dan layanan makanan juga naik. Angkanya mencapai 0,6%," demikian laporan TurkStat.
Laporan pertumbuhan ekonomi itu menghentikan kontraksi yang telah terjadi selama tiga kuartal berturut-turut. Artinya Turki berhasil lepas dari jerat resesi yang ditimbulkan krisis mata uang tahun lalu.

Membaiknya ekonomi, mendorong inflasi ke satu digit di Oktober. Kemudian pertumbuhan kredit juga meningkat karena pemangkasan suku bunga yang dilakukan bank sentral. Bank Sentral Turki memangkas suku bunga menjadi 14%, lebih rendah dari level 24% pada Juli.

Lembaga pemeringkat kredit Fitch mengatakan ekonomi Turki bakal lebih stabil di 2020. Fitch menyebut salah satu alasan yang memungkinkan keadaan Turki lebih stabil di antaranya, yaitu tidak adanya gejolak politik seperti pemilihan umum.

Turki baru akan mengadakan Pemilu 2023. Oleh karena itu, pada 2020 Turki berpeluang untuk menjalankan reformasi ekonomi semaksimal mungkin.

"Fitch memproyeksikan pemulihan dan penyeimbangan kembali ekonomi akan berlanjut, di mana akan ada peningkatan pertumbuhan, inflasi turun dan defisit transaksi berjalan terkendali," tulis Fitch seperti dikutip Hurriyet Daily News.

"Risiko tetap beragam. Lemahnya kredibilitas kebijakan moneter, kebijakan ekonomi, politik, geopolitik dan risiko sanksi dapat memicu serangan volatilitas harga aset. Meskipun kebijakan suku bunga global seharusnya bisa menjaga kondisi pembiayaan eksternal tetap baik," jelas Fitch.

[Gambas:Video CNBC]

(miq/miq)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading