Katanya Kesepakatan Dagang Sudah Dekat, Emas Jadi Galau

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
04 December 2019 20:48
Katanya Kesepakatan Dagang Sudah Dekat, Emas Jadi Galau Foto: Emas Batangan dan Koin dalam brankas Pro Aurum di Munich, Jerman pada 14 Agustus 2019. (REUTERS/Michael Dalder)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas global bergerak tak tentu arah pada perdagangan Rabu (4/12/2019) akibat isu-isu terkait perang dagang Amerika Serikat (AS) dengan China.

Harga emas sempat menguat 0,46% ke level US$ 1.484/troy ons, sebelum berbalik melemah ke 0,33% ke US$ 1.472,3/troy ons sore tadi. Kini pada pukul 20:02 WIB emas berada di level US$ 1.477,80/troy ons, nyaris stagnan dibandingkan penutupan perdagangan Selasa kemarin.

Perang dagang yang terlihat akan meluas dan berlangsung dalam waktu lama membuat harga emas melesat naik.


Selasa kemarin, Presiden Trump dalam sebuah wawancara saat menghadiri pertemuan NATO di London menyatakan sebaiknya kesepakatan dagang dengan China dilakukan setelah Pemilihan Umum (Pemilu) AS 2020.



"Dalam beberapa hal, saya menyukai gagasan menunda kesepakatan dengan China sampai Pemilu selesai, tapi mereka ingin membuat kesepakatan sekarang dan kita akan melihat apakah kesepakatan itu akan benar terjadi," kata Trump, sebagaimana dilansir CNBC International.

Pemilu AS akan dilangsungkan November 2020. Jika benar Trump menunda kesepakatan tersebut, perekonomian global berisiko kembali melambat. Apalagi Washington masih berencana menaikkan bea masuk importasi barang dari China. Sehari sebelumnya, Presiden AS ke-45 ini mengobarkan perang dagang dengan Brasil dan Argentina.



"Brasil dan Argentina telah melakukan devaluasi besar-besaran terhadap mata uang mereka, dan hal itu tidak bagus untuk petani kita. Oleh karena itu, efektif secepatnya, saya akan menerapkan lagi bea masuk semua baja dan aluminum yang masuk ke AS dari dua negara tersebut," kata Trump melalui akun Twitternya, sebagaimana dilansir CNBC International.

Belum cukup sampai di sana, Washington juga berencana menaikkan bea masuk importasi produk dari Prancis. Tidak tanggung-tanggung, bea masuk tersebut bisa mencapai 100% dengan total nilai produk US$ 2,4 miliar. Perwakilan Dagang AS mengatakan kenaikan bea masuk tersebut bisa terjadi pada akhir Januari nanti. 



Namun, kabar terbaru berhembus jika AS-China sudah dekat mencapai kesepakatan. Bloomberg mengutip sumber yang mengetahui perundingan dagang kedua negara mengabarkan jika AS dan China sedikit lagi mencapai kata sepakat untuk membatalkan sebagian bea masuk dalam kesepakatan dagang fase satu.

Sumber yang tidak mau disebutkan namanya itu menjelaskan bahwa perkataan Presiden Donald Trump kemarin bukan berarti perundingan dagang buntu, karena dia hanya berbicara spontan. Sumber tersebut juga menambahkan para negosiator dari AS memperkirakan kesepakatan dengan China akan tercapai sebelum tanggal 15 Desember.

Simpang siurnya pemberitaan mengenai kesepakatan dagang AS-China tersebut membuat harga emas seakan kehilangan arah hari ini: menguat tak sanggup, turun dalam juga belum mau. 

Emas mendapat tenaga menguat lagi setelah rilis data tenaga kerja AS versi Automatic Data Processing Inc. (ADP). Data ini kerap dijadikan acuan rilis data tenaga kerja AS versi pemerintah (non-farm payroll) yang akan dirilis pada hari Jumat (6/12/2019) nanti.

ADP melaporkan sepanjang di bulan November perekonomian AS menyerap tenaga kerja (di luar sektor pertanian) hanya sebanyak 67.000 orang, jauh di bawah konsensus Dow Jones sebanyak 150.000 orang.

Akibatnya, pasar cemas pasar tenaga kerja AS melemah. Akibatnya, emas kembali diburu. Beberapa saat setelah data ini dirilis, emas menguat 0,31% ke US$ 1.481,80/troy ons, sebelum diperdagangkan di level US$ 1.477,77/troy ons pada pukul 20:28 WIB, nyaris stagnan dibandingkan penutupan perdagangan Selasa kemarin. 

Sekali lagi, kabar mengenai perundingan dagang AS-China lebih mempengaruhi harga emas pada hari ini.

TIM RISET CNBC INDONESIA 

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading