Dewi Fortuna Belum Berpihak pada Batu Bara, Harga Masih Turun

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
28 November 2019 10:38
Harga batu bara melemah setelah mengalami technical rebound pekan lalu dan tidak dibarengi dengan katalis positif.
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara kembali ditutup melemah kemarin. Setelah mengalami technical rebound pekan lalu dan tidak dibarengi dengan katalis positif, harga rawan terkoreksi lebih dalam.

Harga batu bara kontrak futures ICE Newcastle ditutup di US$ 68,9/ton atau turun 0,51% pada perdagangan kemarin, Rabu (27/11/2019).

Hingga tanggal 21 November pekan lalu, harga batu bara telah mencatatkan kenaikan lebih dari 7% secara point to point (technical rebound).




Harga batu bara memang belum mendapatkan katalis positif sampai saat ini. Kabar terbaru menyebutkan penggunaan batu bara untuk pembangkit listrik diperkirakan turun tahun ini.

Penggunaan batu bara untuk pembangkit listrik secara global diperkirakan turun 3% atau setara dengan daya 3 terawatt hours (TWh) seperti yang ditulis dalam jurnal online Carbon Brief, mengutip Reuters.

Penurunan ini merupakan penurunan yang paling besar yang diakibatkan oleh penurunan output listrik menggunakan tenaga batu bara di kawasan Eropa dan Amerika.

Konsumsi batu bara untuk pembangkit listrik di India juga turun untuk pertama kali setidaknya setelah tiga dekade terakhir.

Konsumsi batu bara China cenderung meningkat dibanding tahun lalu. Namun kebijakan pengetatan impor batu bara China di akhir tahun ini jadi sentimen negatif yang memberatkan harga batu bara.

Berdasarkan data Refinitiv, dalam 10 bulan terakhir pengiriman batu bara melalui jalur laut mencapai 1,19 miliar ton. Dengan asumsi dua bulan terakhir jumlahnya akan relatif sama, maka total pengiriman batu bara melalui jalur laut untuk tahun ini mencapai 1,43 miliar ton.

Harga batu bara ICE Newcastle masih berpotensi bergerak mendekati titik supportnya di level US$ 66/ton - US$ 67/ton.

Sementara itu dari dalam negeri, DPR RI meminta pemerintah untuk menaikkan volume domestic market obligation (DMO) dari saat ini 25% menjadi 60%.


"DMO harus bisa di up ke 60%," kata anggota DPR dari Komisi VII Ratna Juwita saat rapat dengan pendapat berlangsung antara DPR dengan Kementerian ESDM, Rabu (27/11/2019).

"DMO 60% harus segera direalisasikan. (Itu) amanah UU dan juga problem solving di bidang energi."

Berdasarkan data Kementerian ESDM sampai pertengahan November 2019 realisasi DMO Batubara sebesar 85,47 juta ton atau 66,75% dari target keseluruhan 128,04 juta ton.

Produksi batu bara nasional sendiri dalam Rencana Kegiatan dan Anggaran Biaya (RKAB) 2019 ditetapkan mencapai 530 juta ton hingga akhir 2019. Bulan ini, harga acuan batu bara (HBA) RI berada di level US$ 66,27 per metrik ton.




TIM RISET CNBC INDONESIA

(twg/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading