Analisis

Emas Melempem Saat AS-China Memanas, Ini Penyebabnya

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
21 November 2019 14:41
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dunia melemah pada perdagangan Kamis ini (21/11/19), padahal hubungan Amerika Serikat (AS) dengan China sedang memanas.

Pada pukul 14:13 WIB, emas melemah 0,14% ke level US$ 1,469,67/troy ons di pasar spot, berdasarkan data Refinitiv.

Perundingan dagang AS-China semakin jelas mengalami kebuntuan. Reuters melaporkan penandatanganan kesepakatan dagang tahap satu antara AS dan China dapat mundur hingga tahun 2020 lantaran China berusaha untuk mendapatkan penghapusan bea masuk yang lebih agresif dari AS.


Di sisi lain, dari pihak China menyatakan banyak orang menyakini kesepakatan dalam waktu dekat, tetapi Pemerintah Beijing juga sudah siap dengan skenario perang dagang berkepanjangan.

"Beberapa orang China percaya bahwa China dan AS dapat mencapai kesepakatan segera. China menginginkan kesepakatan tetapi siap untuk skenario terburuk, perang dagang yang berkepanjangan" kata Hu Xijin, editor tabloid China Global Times yang terafiliasi dengan pemerintah, melalui Twitter, Rabu.



Sebelumnya di pada hari Selasa, Presiden AS Donald Trump mengatakan jika China tidak menandatangani kesepakatan dagang, maka bea masuk akan dinaikkan lagi.

"Jika kita tidak membuat kesepakatan dengan China, saya akan menaikkan bea masuk, bahkan lebih tinggi lagi" kata Trump sebagaimana dilansir CNBC International.

Sampai saat ini, Trump masih berencana akan menaikkan bea masuk lagi pada tanggal 15 Desember nanti. Jika tidak ada penandatanganan kesepakatan hingga tanggal itu, maka AS akan menaikkan bea masuk produk China senilai US$ 156 miliar.



Jika hal tersebut terjadi, tentunya perang dagang AS-China akan kembali memanas dan berdampak buruk bagi perekonomian global. Dalam kondisi seperti ini, harga emas harusnya bisa menguat. Statusnya sebagai aset aman (safe haven) akan membuat emas kembali menjadi alternatif investasi pelaku pasar, sebagai antisipasi memburuknya perekonomian global.

Tapi nyatanya harga emas belum mampu menguat lagi, kesepakatan dagang AS-China masih belum pasti bisa terjadi sebelum 15 Desember atau malah mundur hingga 2020.

Tetapi ada satu hal yang pasti yang membuat harga emas mengalami tekanan, yakni bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) yang akan tidak akan memangkas suku bunga lagi, kecuali ekonomi AS memburuk.

Berdasarkan notula rapat kebijakan moneter yang dirilis dini hari tadi, keputusan memangkas suku bunga 25 basis poin (bps) menjadi 1,5-1,75% tidak mendapat dukungan penuh dari anggota voting Federal Open Market Committee (FOMC). Sebanyak dua dari sepuluh anggota memilih suku bunga dipertahankan, sisanya memilih suku bunga di pangkas.

Selain itu, The Fed juga terlihat lebih optimis menatap ekonomi AS dibandingkan beberapa pekan sebelumnya, sehingga tidak akan terburu-buru dalam merubah sikap menghentikan periode pemangkasan suku bunga.



The Fed di tahun ini sudah memangkas suku bunga sebanyak tiga kali, yang menjadi salah satu penyebab harga emas bisa melesat naik hingga ke level tertinggi lebih dari enam tahun US$ 1.557/troy ons di awal September lalu.

Ketika The Fed berhenti untuk memangkas suku bunga, maka emas kehilangan satu pijakan untuk terus melangkah maju, kini tinggal menanti perkembangan nasib kesepakatan dagang AS-China.


Analisis Teknikal Harga Emas Dunia
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading