Membedah Kemampuan Hanson Lunasi Pinjaman Individual

Market - Rahajeng Kusumo Hastuti, CNBC Indonesia
20 November 2019 19:32
PT Hanson International Tbk (MYRX) harus membayar pinjaman individual dengan total Rp 2,5 triliun hingga Oktober 2020.
Jakarta, CNBC Indonesia- PT Hanson International Tbk (MYRX) harus membayar pinjaman individual dengan total Rp 2,5 triliun hingga Oktober 2020. Sementara hingga Desember 2019, jumlah pinjaman individual yang harus dibayarkan senilai Rp 1,01 triliun.

Hanson pun telah berkomitmen membayar semua pinjaman individual tersebut sesuai arahan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Selama ini pembayaran pinjaman individual pun tidak ada yang gagal bayar.

Usai pertemuan dengan OJK, Direktur Utama Hanson Benny Tjokrosaputro mengatakan ada tiga opsi yang bisa dilakukan perusahaan. Pertama menjual aset perusahaan, baik dalam bentuk anak usaha ataupun aset lainnya.


Kedua, Benny Tjokro akan melakukan konsolidasi sejumlah perusahaan yang dimilikinya sehingga modal semakin kuat untuk melunasi kewajiban. Adapun ketiga adalah mencari mitra bisnis yang baru guna menyelesaikan kewajiban.

Berdasarkan ketiga opsi tersebut apakah Hanson mampu untuk melunasi pinjaman individual tersebut sesuai komitmen di Oktober 2020?

Berdasarkan informasi dari perseroan, perusahaan ini sebenarnya mencatatkan penjualan yang cukup baik pada periode Januari-Oktober 2019. Tidak kurang Rp 1,04 triliun dikantongi Hanson hingga Oktober 2019, yang didominasi oleh proyek Citra Maja Raya dan Millenium City.


Citra Maja Raya, kota baru terpadu dari Hanson dan Grup Ciputra, mencatatkan total penjualan Rp 388 miliar pada periode Januari-September 2019. Lebih rinci Citra Maja Raya 1 mencatat marketing sales sebesar Rp 124 miliar, sementara itu Citra Maja Raya 2 mencatatkan marketing sales Rp 264 miliar.

Hanson juga mengembangkan Proyek Millenium City mencatatkan marketing sales sebesar Rp 550,5 miliar dengan jumlah unit yang terjual sebanyak 596 unit.

Selain itu, Hanson juga memiliki kas sebesar Rp 220,78 miliar dan jumlah aset lancar senilai Rp 1,19 triliun yang tercatat pada laporan keuangan 30 September 2019.

Opsi selanjutnya adalah mencari mitra bisnis yang baru guna menyelesaikan kewajiban. Direktur Hanson Hartono mengatakan perusahaan tengah mengupayakan pinjaman atau kerja sama dari pihak lain.

"Tapi masih belum difinalkan dan dalam pembahasan," kata Hartono.

Manajemen optimistis, sebagai perusahaan properti yang masih muda, Hanson memiliki peluang dan potensi secara jangka panjang. Hal ini tercermin pada uang muka untuk pembelian tanah hingga 30 September 2019 mencapai Rp 3,61 triliun, dan tanah untuk pengembangan (landbank) senilai Rp 6,51 triliun.


Perusahaan juga berinvestasi pada sejumlah entitas asosiasi atau anak-anak usahanya senilai Rp 308,05 miliar.

Direktur Perusahaan Rony Agung Suseno mengatakan industri properti bukan hanya persoalan tanah, melainkan juga infrastrukturnya. Selain itu return investasinya pun besar, bahkan lebih dari 100%. Nilai tanah pun selalu naik setiap tahunnya, apalagi Hanson membangun hunian di sekitar Jakarta sehingga memberikan nilai tambah bahkan naik 10 kali lipat dibandingkan investasi awal.

"Kami sudah bangun 10-15% lahan kami. Kalau sudah mencapai 30-40% secara ekonomis saham harus naik," kata Rony.

[Gambas:Video CNBC]


(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading