MISSI: Kualitas IPO Berkurang, Goreng Saham Diminta Ditindak

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
12 November 2019 16:04
MISSI: Kualitas IPO Berkurang, Goreng Saham Diminta Ditindak

Jakarta, CNBC Indonesia - Masyarakat Investor Sekuritas Indonesia (MISSI) menilai pencatatan saham baru alias initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) saat ini kualitasnya berkurang sehingga beberapa saham baru justru ambles ke level terendah padahal baru tercatat di papan perdagangan.

Bahkan, beberapa di antaranya justru terkena pengawasan khusus karena harga sahamnya dan volume perdagangan naik dan turun signifikan di luar kebiasaan (unusual market activity/UMA).

"Pasar parah sekali, berapa puluh saham IPO dalam beberapa tahun terakhir, 20 tahun saya di pasar modal, tapi nilai transaksi harian berapa? sekitar Rp 5-6 triliun terus," kata Ketua MISSI Sanusi, dalam talkshow di CNBC Indonesia, Selasa (12/11/2019).



Dia mengatakan selain persoalan kualitas IPO, masih banyak persoalan yang menjadi pekerjaan rumah Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di tengah rendahnya penegakan aturan terkait dengan perdagangan semu di pasar.

Padahal, dalam UU Nomor 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal, Pasal 91 disebutkan bahwa setiap pihak dilarang melakukan tindakan langsung maupun tidak langsung dengan tujuan untuk menciptakan gambaran semu atau menyesatkan mengenai kegiatan perdagangan, keadaan pasar atau harga efek di bursa efek.

Pasal 104 juga menyebutkan setiap pihak yang melanggar Pasal 91 diancam dengan hukuman pidana penjara paling lama 10 tahun dan juga denda sebesar Rp15 miliar.

"Ada p
erdagangan semu, ada denda, tapi low enforcement, aturan itu tidak dipakai. Kami sudah pernah diundang juga, membahas hal ini. Jadi sebetulnya yang terpenting penegakan aturan sehingga tidak merugikan investor.


Para regulator juga harus berani mengambil tindakan tegas untuk para pihak yang terdapat menggoreng saham. Hal ini mengintat aktivitas goreng-menggoreng' saham di pasar modal Indonesia sangat meresahkan para investor ritel dan merugikan para investor di tengah kampanye Yuk Nabung Saham.

"Masa ada saham sebulan naik 30 kali? Kami meyakini itu transaksi semu, tidak real, dan itu bukan satu saham. Bahkan orangnya [bandarnya] itu-itu saja," tegasnya.

Foto: Ketua MISSI Sanusi


Sebagai catatan, hingga Jumat pekan lalu (8/11/2019), jumlah emiten baru pada tahun ini sudah mencapai 44 perusahaan setelah dua emiten tercatat atau listing yakni PT Singaraja Putra Tbk (SINI) dan PT Ginting Jaya Energi Tbk (WOWS).

Bursa Efek Indonesia (BEI) bahkan menyatakan, pada tahun ini jumlah perusahaan tercatat atau emiten hingga akhir tahun berpotensi kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa. Otoritas bursa optimistis target 75 perusahaan tercatat sepanjang tahun 2019 akan tercapai.

Mengacu data perdagangan, pekan lalu, saham SINI langsung mengalami auto reject atas atau naik 69,44% ke Rp 183/saham saat pencatatan perdananya, dibuka di harga Rp 108 per saham, sementara saham WOWS juga menguat 13,33% ke Rp 510/saham saat pencatatan perdana, dibuka di harga Rp 450 per saham.

Namun di balik jumlah 44 emiten baru ini, tidak seluruhnya menguat. Bahkan ada emiten yang baru tercatat 2 bulan, sudah ambles ke level terendah Rp 50/saham.

Emiten tersebut adalah PT Bhakti Agung Propertindo Tbk (BAPI) yang tercatat di papan pengembangan BEI pada Senin (16/9/2019). Saat listing kala itu, saham emiten properti ini melesat 20% ke Rp 180/saham saat pencatatan perdana, sahamnya dibuka di harga Rp 150/saham.

Data perdagangan BEI mencatat, pada penutupan Selasa ini (12/11/), saham BAPI stagnan di level Rp 50/saham atau ambles 67% dari harga IPO. Bahkan tak ada transaksi dalam sebulan terakhir di saham ini menurut catatan perdagangan BEI. Saham ini terakhir diperdagangkan di level Rp 50/saham, dengan kapitalisasi pasar Rp 279,59 miliar.

Simak deretan saham tidur di BEI

[Gambas:Video CNBC]

(tas/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading