Bos DBS Bicara Soal Akuisisi, Benarkah Permata jadi Target?

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
10 November 2019 12:58
Bos DBS Bicara Soal Akuisisi, Benarkah Permata jadi Target? Foto: Muhammad Luthfi Rahman
Jakarta, CNBC Indonesia - DBS Group, bank terbesar di Singapura, tampaknya mulai mengkalkulasi ulang rencana untuk melakukan aksi korporasi dengan melakukan akuisisi. Bank yang juga tercatat sebagai terbesar di Asia Tenggara ini, akan fokus pada akusisi yang nilainya tak lebih dari 5% dari kapitalisasi pasar perseroan dan akan fokus pada pengembangan bisa yang akan menjadi "pertempuran di masa depan".

CEO DBS Piyush Gupta mengatakan dalam wawancara dengan The Business Times, mengatakan "Tesis umum bagi kami adalah kami masih berpikir bahwa transformasi digital memerlukan energi dan kapasitas."

"Jika saya melakukan kesepakatan yang lebih besar, saya akan kehilangan dua tahun untuk mengembangkan bisnis di bidang teknologi ... itu akan menjadi biaya yang harus dibayar," kata Gupta seperti dilansir dari The Busines Times, Minggu (10/11/2019).

DBS pernah batal membeli Bank Danamon pada tahun 2013, setelah Indonesia mengubah peraturan dan membatasi kepemilikan tunggal pada bank domestik.


Tolak ukur akuisisi yang jadi patokan Gupta adalah pembelian unit bisnir ritel bank milik ANZ senialĀ  S $ 110 juta. Diumumkan pada tahun 2016, kesepakatan tersebut memungkinkan DBS untuk meraih "pengembalian sangat cepat", sebagian karena produktivitas para bankir yang diambil oleh DBS dari akuisisi melonjak hampir dua kali, katanya.

Pembelian ini memberi DBS akses ke hampir satu juta pelanggan ritel ANZ di Indonesia dan Taiwan. Meski begitu, kesepakatan ANZ hanya membutuhkan waktu satu tahun untuk menyelesaikannya.

"Kami menyadari bahwa jika Anda mendapatkan basis pelanggan inti dengan harga yang masuk akal, dan kemudian melakukan overlay kemampuan dan alat digital kami di atas itu, itu sebenarnya dapat menjadi sangat cepat," kata Mr Gupta.

Nah belakang, DBS dikabarkan serius mengakuisisi saham PT Bank Permata Tbk (BNLI) yang digenggam oleh Standard Chartered dan PT Astra International Tbk (ASII). Hal ini sejalan dengan fokus DBS meningkatkan pasar di Asia Tenggara.

Rumor ini sudah santer terdengar di kalangan pelaku pasar sejak awal Oktober lalu. Perkembangan terbaru, Tan Shu Shan, Head of Institutional Banking Group DBS, dalam wawancara dengan Business Times Singapura mengakui, DBS sedang berupaya meningkatkan cakupan pasar Asia Tenggara.

"Yang pasti, DBS ingin meningkatkan fokus ASEAN-nya," tulis laporan tersebut, Minggu (10/11/2019).

Kantor berita Reuters pada Kamis (7/11/2019) juga melaporkan, DBS tetap menjadi salah satu pihak yang tertarik untuk mengakuisisi Bank Permata Indonesia yang valuasinya diperkirakan bernilai sekitar US $ 2,7 miliar atau sekitar Sin $ 3,7 miliar.

Saat ini, saham Bank Permata digenggam masing-masing sebanyak 45% saham BNLI dimiliki Grup Astra dan Standard Chartered Bank Plc (Stanchart) asal Inggris.

DBS Berencana Caplok Bank Permata

[Gambas:Video CNBC]


Dalam laporan tersebut, Reuters menyebutkan, DBS masih akan bersaing dengan dua kandidat kuat yakni Oversea-Chinese Banking Corp (OCBC) yang juga asal Singapura dan Sumitomo Mitsui Financial Group Inc (SMBC) asal Jepang.

DBS Group saat ini adalah bank dengan kapitalisasi pasar SIN$ 62,84 miliar atau setara US$ 45,51 miliar tersebut, pernah menawar PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) tetapi berakhir pada 2013 silam. Batalnya rencana pembelian disebabkan azas resiprokal yang diminta Bank Indonesia saat itu kepada otoritas perbankan Singapura yang tidak kunjung terpenuhi.

Saat ini, kapitalisasi pasar DBS merupakan yang terbesar di antara perbankan lain yang tercatat di bursa Singapura yaitu OCBC senilai SIN$ 46,73 miliar dan United Oversea Bank Ltd (UOB) senilai SIN$ 42,31 miliar. (hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading