TLKM, EXCL, FREN, Siapa Berkinerja Terbaik di September 2019?

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
03 November 2019 09:02
TLKM, EXCL, FREN, Siapa Berkinerja Terbaik di September 2019?

Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) telah merilis laporan keuangan untuk periode yang berakhir pada September 2019 atau 9 bulan sebagaimana tenggat berakhir 31 Oktober 2019. Tak terkecuali untuk para emiten provider telekomunikasi.

Hingga saat ini tercatat tiga emiten telekomunikasi yakni PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), PT XL Axiata Tbk. (EXCL) dan PT Smartfren Telecom Tbk. (FREN). Sementara untuk provider PT Indosat Tbk. (ISAT) berencana melakukan penelaahan terbatas atas laporan keuangan di periode tersebut sehingga pelaporan akan dilakukan setelah proses telaah selesai.


Jadi bagaimana kinerja para emiten ini?


Foto: Grapari Telkomsel (detikFoto/Rachman Haryanto)


Telkom
Kinerja paling memuaskan ditorehkan oleh emiten telekomunikasi pelat merah, Telkom, induk dari Telkomsel. Setelah sektor ini mengalami masa yang berat di tahun lalu, akhir September ini alias 9 bulan Telkom berhasil mencetak pertumbuhan laba 15,64% year on year (YoY).

Jumlah laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk menjadi Rp 16,44 triliun, naik dari Rp 14,42 triliun yang dibukukan per September 2018.

Peningkatan laba bersih ini didorong dengan naiknya pendapatan perusahaan, meski tak terlalu signifikan yakni sebesar 3,45% di periode tersebut. Nilai pendapatan ini naik menjadi Rp 102 triliun dari sebelumnya Rp 99,20 triliun.


Pendapatan ini paling besar dikontribusikan oleh pendapatan data, internet, dan jasa teknologi informatika ini yang nilainya mencapai Rp 66,06 triliun atau mencapai 64,37% dari total pendapatan perusahaan. Pendapatan di pos ini juga mengalami kenaikan dari sebelumnya senilai Rp 58,57 triliun.

Pendapatan terbesar kedua berasal dari pendapatan telepon yang terdiri dari telepon bergerak dan tidak bergerak dengan total pendapatan mencapai Rp 23,14 triliun, turun dari Rp 23,32 triliun. Pendapatan ini memiliki eksposur sebesar 22,55%.

Foto: Kantor pusat Axiata di Malaysia/REUTERS/Samsul Said/Files



XL Axiata
EXCL pada akhir September 2019 atau 9 bulan tahun ini juga berhasil membukukan laba bersih senilai Rp 498,41 miliar. Membaik dari rugi bersih senilai Rp 144,81 miliar yang diderita pada periode yang sama tahun lalu.

Laba bersih ini terjadi seiring dengan pendapatan anak usaha Axiata Berhad ini yang berhasil naik 10,82% menjadi Rp 18,83 triliun, dari sebelumnya Rp 16,89 triliun.

Dari penjualan itu, pendapatan terbesar EXCL berasal dari pendapatan bisnis data yang naik 32% menjadi Rp Rp 14,20 triliun dari sebelumnya Rp 10,75 triliun.


Pendapatan terbesar kedua yakni dari bisnis non-data sebesar Rp 2,86 triliun, kendati turun dari periode yang sama 2018 yakni Rp 3,99 triliun.

Pendapatan dari bisnis jasa interkoneksi juga turun menjadi Rp 854,08 miliar, dari sebelumnya Rp 994,98 miliar. Adapun pendapatan sewa menara juga terkoreksi menjadi Rp 229,56 miliar dari sebelumnya Rp 242,73 miliar.

Foto: Smartfren (Adi Fida Rahman/detikINET))



Smartfren
Selanjutnya, emiten telekomunikasi milik Grup Sinar Mas, FREN sayangnya masih menderita kerugian yang sudah hampir 12 tahun.

Perusahaan ini mencatatkan rugi bersih Rp 1,64 triliun pada 9 bulan pertama tahun ini atau hingga September 2019, turun 34% dari rugi bersih periode yang sama tahun lalu Rp 2,50 triliun. Rugi bersih ini terjadi seiring dengan masih dialaminya rugi usaha sebesar Rp 1,76 triliun, kendati berkurang dari rugi bersih sebelumnya Rp 1,92 triliun.

Meski merugi, pendapatan perusahaan sebetulnya naik 26% menjadi Rp 4,98 triliun dari Rp 3,95 triliun. Pendapatan terbesar dari lini bisnis data sebesar Rp 4,72 triliun, naik dari sebelumnya Rp 3,76 triliun, dan bisnis non-data yang juga naik menjadi Rp 211,37 miliar dari sebelumnya Rp 159,51 miliar.


Hanya saja, beban perusahaan pada periode 9 bulan hingga kuartal III-2019 ini masih berat. Beban paling besar dari beban operasi, pemeliharaan dan jasa telekomunikasi yakni mencapai Rp 2,67 triliun, naik dari sebelumnya Rp 2,19 triliun.

Beban penjualan dan pemasaran juga naik menjadi Rp 638,59 miliar dari sebelumnya Rp 473,90 miliar.

Indosat
Kinerja kuartal III-2019 memang belum dirilis, tapi sebagai gambaran, pada semester I-2019, ISAT masih membukukan kerugian sebesar Rp 331,9 miliar, turun 52,2% dari periode yang sama di tahun sebelumnya Rp 693,7 miliar. Emiten dengan kode saham ISAT ini berhasil membukukan pendapatan Rp 12,29 triliun, naik 11,1% dari tahun sebelumnya Rp 11,06 triliun.


Simak analisis saham telco

[Gambas:Video CNBC]

 

(tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading