Ekspektasi Bunga BI Turun, Harga Obligasi Reli 9 Hari

Market - Irvin Avriano Arief, CNBC Indonesia
23 October 2019 20:42
Harga obligasi rupiah pemerintah ditutup semakin menguat pada perdagangan hari ini, serta menggenapkan penguatan beruntun sejak 9 hari terakhir.
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga obligasi rupiah pemerintah ditutup semakin menguat pada perdagangan hari ini, serta menggenapkan penguatan beruntun sejak 9 hari transaksi terakhir.

Penguatan terjadi seiring dengan meningkatkan probabilitas penurunan suku bunga acuan domestik besok dan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS) yaitu Fed Fund Rate pada akhir bulan ini, serta bertepatan juga dengan pelantikan kabinet pemerintahan baru untuk periode 5 tahun ke depan, hari ini (23/10/19).

Naiknya harga surat utang negara (SUN) itu seiring dengan apresiasi yang terjadi di pasar surat utang pemerintah negara lain.


Data Refinitiv menunjukkan menguatnya harga SUN itu tercermin dari empat seri acuan (benchmark) yang sekaligus menurunkan tingkat imbal hasilnya (yield).

Pergerakan harga dan yield obligasi saling bertolak belakang di pasar sekunder, sehingga ketika harga naik maka akan menekan yield turun, begitupun sebaliknya. Yield yang menjadi acuan hasil investasi yang didapat investor juga lebih umum dijadikan acuan transaksi obligasi dibanding harga karena mencerminkan kupon, tenor, dan risiko dalam satu angka.

SUN adalah surat berharga negara (SBN) konvensional rupiah yang perdagangannya paling ramai di pasar domestik, sehingga dapat mencerminkan kondisi pasar obligasi secara umum. Keempat seri yang menjadi acuan pasar adalah FR0077 bertenor 5 tahun, FR0078 bertenor 10 tahun, FR0068 bertenor 15 tahun, dan FR0079 bertenor 20 tahun.

Seri acuan yang paling menguat adalah FR0068 yang bertenor 15 tahun dengan penurunan yield 4,3 basis poin (bps) menjadi 7,52%. Besaran 100 bps setara dengan 1%.

Saat ini, probabilitas penurunan suku bunga AS berdasarkan survei pelaku pasar oleh CME Fedwatch menunjukkan kenaikan menjadi 94,6% dari posisi kemarin 89,8%. Potensi penurunan Fed Fund Rate kedua hingga akhir tahun ini, tepatnya pada 11 Desember, juga naik menjadi 30,4% dari posisi kemarin 27,8%.

 

Yield Obligasi Negara Acuan 23 Okt'19

Seri


Jatuh tempo

Yield 22 Okt'19 (%)

Yield 23 Okt'19 (%)

Selisih (basis poin)

Yield wajar IBPA 23 Okt'19 (%)

FR0077

5 tahun

6.58

6.559

-2.10

6.5113

FR0078

10 tahun

7.098

7.084

-1.40

7.0522

FR0068

15 tahun

7.566

7.523

-4.30

7.4999

FR0079

20 tahun

7.788

7.763

-2.50

7.7387

Sumber: Refinitiv

 

Penguatan SBN hari ini juga membuat selisih (spread) yield obligasi rupiah pemerintah tenor 10 tahun dengan yield surat utang pemerintah AS (US Treasury) tenor serupa mencapai 534 bps, melebar dari posisi kemarin 533 bps. Yield US Treasury 10 tahun turun 2,3 bps hingga 1,74% dari posisi kemarin 1,76%.

Terkait dengan pasar US Treasury, saat ini masih terjadi inversi pada yield pasangan seri 3 bulan-5 tahun, yang lumrah terjadi sejak perang dagang China-AS memanas pada April lalu.

Saat ini pelaku pasar global lebih menantikan inversi yang terjadi pada yield tenor lain yaitu 2 tahun-5 tahun, 3 tahun-5 tahun, 3 bulan-10 tahun, dan 2 tahun-10 tahun yang mulai mereda dan menghilang, karena menjadi indikator yang lebih menegaskan kembali bahwa potensi resesi AS semakin dekat dibanding inversi tenor lain. Inversi adalah kondisi lebih tingginya yield seri lebih pendek dibanding yield seri lebih panjang.

Inversi tersebut membentuk kurva yield terbalik (inverted yield curve), yang menjadi cerminan investor yang lebih meminati US Treasury seri panjang dibanding yang pendek karena menilai akan terjadi kontraksi jangka pendek, sekaligus indikator adanya potensi tekanan ekonomi bahkan hingga krisis.

 


Yield US Treasury Acuan 2 Okt'19

Seri

Benchmark

Yield 22 Okt'19 (%)

Yield 23 Okt'19 (%)

Selisih (Inversi)

Satuan Inversi

UST BILL 2019

3 Bulan

1.659

1.656

3 bulan-5 tahun

9

UST 2020

2 Tahun

1.591

1.564

2 tahun-5 tahun

-0.2

UST 2021

3 Tahun

1.588

1.561

3 tahun-5 tahun

-0.5

UST 2023

5 Tahun

1.592

1.566

3 bulan-10 tahun

-8.7

UST 2028

10 Tahun

1.766

1.743

2 tahun-10 tahun

-17.9

Sumber: Refinitiv

 

Terkait dengan porsi investor di pasar SBN, data Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu (DJPPR) terakhir menunjukkan investor asing menggenggam Rp 1.039,55 triliun SBN, atau 38,88% dari total beredar Rp 2.673 triliun berdasarkan data per 22 Oktober.

Angka kepemilikannya masih positif Rp 146,3 triliun dibanding posisi akhir Desember Rp 893,25 triliun, sehingga persentasenya masih naik dari 37,71% pada periode yang sama. Sejak akhir pekan lalu, investor asing tercatat masuk ke pasar SUN senilai Rp 900 miliar, sedangkan sejak awal bulan masih surplus Rp 10,16 triliun.

Penguatan di pasar surat utang hari ini juga terjadi di pasar ekuitas dan rupiah di pasar valas, yang masing-masingnya naik 0,52% dan 0,09%. Dari pasar surat utang negara berkembang dan maju, mayoritas mengalami penguatan harga sehingga yield mayoritas obligasi negara turun.

Hal tersebut mencerminkan investor global sedang memburu obligasi pemerintah karena sedang dibekap sentimen negatif dari kinerja emiten di AS terkait dengan sifat instrumen utang yang dinilai lebih aman dibanding pasar ekuitas yang sedang dilanda koreksi.

 

Yield Obligasi Tenor 10 Tahun Negara Maju & Berkembang

Negara

Yield 22 Okt'19 (%)

Yield 23 Okt'19 (%)

Selisih (basis poin)

Brasil

6.595

6.6

0.50

China

3.233

3.234

0.10

Jerman

-0.37

-0.396

-2.60

Prancis

-0.068

-0.091

-2.30

Inggris

0.712

0.684

-2.80

India

6.7

6.678

-2.20

Jepang

-0.138

-0.133

0.50

Malaysia

3.403

3.425

2.20

Filipina

4.679

4.626

-5.30

Rusia

6.5

6.48

-2.00

Singapura

1.732

1.695

-3.70

Thailand

1.59

1.585

-0.50

Amerika Serikat

1.766

1.743

-2.30

Afrika Selatan

8.205

8.2

-0.50

Sumber: Refinitiv

 

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]




(irv/irv)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading