Ambisi Holding BUMN A la Jokowi, Efektifkah?

Market - Anthony Kevin, CNBC Indonesia
20 October 2019 12:41

Jakarta, CNBC Indonesia - Periode satu Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan segera berakhir dan periode dua dari pemerintahan mantan Walikota Solo tersebut akan segera dimulai.

Di periode satu, berbagai kebijakan ambisius coba dieksekusi oleh Jokowi, salah satunya adalah terkait pembentukan perusahaan induk (holding) bagi para BUMN. Untuk diketahui, holding atau perusahaan induk merupakan sebuah perusahaan yang membawahi beberapa perusahaan lain yang berada dalam naungan grup perusahaan. 

Diharapkan, pembentukan holding akan membuat BUMN yang begitu banyak jumlahnya bisa fokus ke dalam lini bisnis yang memang merupakan spesiaslisasi dari masing-masing BUMN tersebut. Dengan hal ini, diharapkan kontribusi dari BUMN terhadap perekonomian bisa semakin besar dan kinerja keuangannya masing-masing akan lebih oke, yang pada akhirnya akan mendongkrak penerimaan negara melalui penyaluran dividen yang lebih besar.

Di era Jokowi, ada beberapa sektor bisnis yang ditargetkan untuk dibentuk holding-nya, seperti perbankan dan jasa keuangan, pertambangan, minyak dan gas (migas), perumahan dan konstruksi, serta pangan.

Pada tahun 2018, pemerintah telah membentuk holding migas. Dalam holding BUMN migas, PT Pertamina ditunjuk sebagai induk. PT Pertamina membawahi dua BUMN lain yakni PT Pertamina Gas (Pertagas) dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (kode saham: PGAS)

Pada tahun yang sama, pemerintah juga telah membentuk holding BUMN tambang. Dalam holding BUMN tambang, PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum) didapuk sebagai induk dan membawahi PT Antam Tbk (ANTM), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), dan PT Timah Tbk (TINS).

Sebelumnya, pemerintah tercatat telah membentuk holding semen, perkebunan, perhutani, dan juga pupuk.

Guna melihat efektivitas dari pembentukan holding BUMN, Tim Riset CNBC Indonesia membedah kinerja keuangan dari perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam pembentukan holding tersebut, baik perusahaan yang ditunjuk menjadi holding maupun yang menjadi anak usaha.

PT Pertamina (Persero) mengklaim membukukan lonjakan perolehan laba bersih sebesar 120% secara tahunan (year-on-year) pada semester I-2019. Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Keuangan Pertamina Pahala Mansury kepada awak media.

Dihubungi terpisah, VP Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman mengatakan bahwa pertumbuhan laba tersebut didorong oleh perbaikan biaya.

"Karena adanya penurunan harga minyak mentah/ICP," kata Fajriyah pada bulan Agustus silam.

Di kesempatan lain, Fajriyah menegaskan bahwa perolehan laba Pertamina tersebut murni berasal dari pengurangan beban operasional dan produksi perusahaan.

"Selain karena faktor ICP, ada juga faktor lain yang tidak terkait dengan ICP, misalnya efisiensi di kontrak jasa, efisiensi di pengurangan dry hole, efisiensi di cost of logistics dan sebagainya. COGS itu banyak komponen di dalamnya," jelas Fajriyah saat dihubungi CNBC Indonesia pada akhir Agustus silam.

Beralih ke PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), sepanjang semester I-2019 perusahaan membukukan penurunan laba bersih hingga 69,9% secara tahunan menjadi US$ 54 juta, dari yang sebelumnya US$ US$ 179,4 juta.

Namun, penurunan laba diketahui bukan berasal dari adanya tekanan di penjualan perusahaan. Memang, penjualan PGAS tercayat turun sepanjang semester I-2019 secara tahunan, yakni sebesar 6,7%. Namun, penurunannya terbilang sangat tipis jika dibandingkan penurunan di pos laba bersih sehingga tak bisa dikatakan bahwa kegiatan operasional merupakan faktor utama dari anjloknya laba bersih.

Beralih ke PT Antam Tbk (ANTM), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), dan PT Timah Tbk (TINS) yang menjadi anggota dari holding BUMN tambang, penjualan masing-masing perusahaan dalam enam bulan pertama tahun ini terbilang oke. Sepanjang semester-I 2019, perusahaan membukukan pertumbuhan penjualan secara tahunan masing-masing sebesar 22,1%, 1,2%, dan 120,5%.

Di sini, terbukti bahwa pembentukan holding membawa dampak positif bagi perusahaan-perusahaan yang terlibat.

BERLANJUT KE HALAMAN 2 -> Yang Paling Penting Malah Belum Beres





Yang Paling Penting Malah Belum Beres
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading