Terungkap, Ini Penyebab Resesi Ekonomi Global

Market - Houtmand P Saragih, CNBC Indonesia
11 October 2019 13:51
Terungkap, Ini Penyebab Resesi Ekonomi Global
Jakarta, CNBC Indonesia - Kabar mengejutkan kembali hadir di pasar keuangan dunia. Kali ini, Hong Kong, yang merupakan salah satu pusat keuangan dunia disebut-sebut mulai memasuki fase resesi.

Sebagaimana ditulis Bloomberg, sejumlah data menunjukan bahwa di kuartal ketiga ini, negara itu terkonfirmasi mengalami resesi teknikal. Bahkan media ini menulis Hong Kong tengah masuk ke resesi pertamanya setelah krisis keuangan.

Kota ini pun disebut cuma memiliki prospek perbaikan yang sangat minim karena demonstrasi berkepanjangan yang terus terjadi.

Kontraksi ekonomi yang terjadi di kuartal II-2019 lalu, diperkirakan juga akan terjadi di kuartal ketiga ini. Sejumlah ekonom percaya, data-data yang ada masih menunjukkan penurunan.


Sebelumnya, ekonomi Hong Kong diprediksi tumbuh 2-3% di 2019. Namun Agustus lalu, pertumbuhan dipangkas 0-1%. Banyak ekonom juga memperkirakan pertumbuhan bisa saja di bawah 1%.

Bahkan dalam riset JP Morgan Chase & Co pertumbuhan ekonomi wilayah ini hanya 0,3%.

"Saya tidak melihat adanya indikator yang kuat yang dapat mengubah situasi ini," kata ekonom Asia Pictet Wealth Management, Dong Chen.

Sebelumnya sinyal resesi juga sudah terdeteksi di negara dengan kekuatan ekonomi terbesar dunia, Amerika Serikat (AS). Demikian pula dengan Jerman dan Inggris yang juga sudah mengalami nasib serupa menyusul Turki yang sudah divonis lebih awal mengalami risiko.

Hasil survei National Association for Business Economics (NABE) menyebutkan risiko resesi meningkat dan menjadi ancaman utama terhadap ekonomi dunia. Pemicunya adalah perang dagang yang dilancarkan pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

"Peningkatan proteksionisme, ketidakpastian kebijakan perdagangan yang meluas, dan pertumbuhan global yang lebih lambat dianggap sebagai risiko utama penurunan aktivitas ekonomi AS," kata ketua survei NABE, Gregory Daco, yang juga merupakan kepala ekonom di Oxford Economics AS.

Mayoritas hasil survei yang dilakukan asosiasi para ekonom bisnis yang berbasis di Washington itu, memproyeksikan Bank Sentral AS atau The Federal Reserve tidak akan memangkas suku bunga lagi hingga 2019, sementara 40% dari kelompok itu mengatakan mereka memproyeksikan Fed setidaknya akan melakukan satu lagi penurunan suku bunga tahun ini.

Hasil dari survei yang dilakukan pada minggu 9-16 September itu dirilis tepat ketika banyak analis melihat ada tanda-tanda peringatan dalam indikator ekonomi AS terbaru, termasuk penurunan aktivitas manufaktur ke level terendah 10-tahun pada bulan September dan pelambatan tajam dalam pertumbuhan di sektor industri jasa ke level terlemah sejak 2016. Laporan-laporan minggu lalu itu meningkatkan kekhawatiran bahwa ekonomi mungkin akan terjerat resesi.

Sekitar 80% dari 54 ekonom NABE yang disurvei mengatakan ekonomi dunia berisiko melambat lebih lanjut, naik dari 60% pada Juni. Dalam survei terbaru mereka, panelis NABE mengatakan mereka memproyeksikan produk domestik bruto (PDB) nyata akan terus tumbuh pada tingkat rata-rata 2,3% tahun ini tetapi akan melambat menjadi 1,8% pada tahun 2020. Itu lebih lemah dari perkiraan terakhir kelompok ini pada Juni.

Panel ini juga memperkirakan produksi industri melambat tajam dari 4% pada 2018 menjadi hanya 0,9% pada 2019. Itu merupakan revisi turun besar dari perkiraan sebelumnya 2,4% dalam survei Juni. Dan kelompok itu memproyeksikan laba perusahaan tumbuh hanya 1,7% tahun ini, turun tajam dari perkiraan 4,6% pada Juni.

Pesimisme yang meningkat tentang laba perusahaan dan perlambatan ekonomi yang lebih luas telah mengguncang pasar saham. Pekan lalu, indeks utama Wall Street mengalami penurunan besar satu hari setelah data ketenagakerjaan dan manufaktur menunjukkan bahwa perang perdagangan AS-China semakin merugikan ekonomi AS. Hal ini diperparah keputusan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) Rabu lalu yang memberikan izin ke AS untuk mengenakan tarif impor pada barang Eropa senilai US$ 7,5 miliar.

Akibat hal ini, dalam survei NABE, sebanyak lebih dari setengah panel menyebut perdagangan sebagai risiko penurunan utama bagi perekonomian sampai 2020. Kekhawatiran tentang perlambatan telah tumbuh karena perang dagang dengan China menunjukkan tanda-tanda peningkatan dan semakin luas dampaknya. Perang dagang juga telah mengikis kepercayaan bisnis, mendorong perusahaan untuk menarik kembali investasi.

Panelis NABE memperkirakan investasi bisnis akan terus melemah hingga tahun depan, dengan perkiraan investasi tetap nonresidensial naik 2,9% pada 2019 dan 2,1% pada 2020, lebih lemah daripada dalam survei kelompok pada Juni.

Terlepas dari kerugian ekonomi yang ditimbulkan oleh perang dagang pemerintah Trump, para panelis NABE juga mengatakan tidak percaya kebijakan tersebut berhasil mengurangi defisit perdagangan AS. Mereka justru melihat defisit perdagangan melebar secara signifikan, dari US$ 920 miliar pada 2018 menjadi US$ 981 miliar pada 2019 dan menjadi US$ 1,022 triliun pada 2020.

Para panelis menyebut penyebab utamanya adalah pertumbuhan ekspor yang lebih lambat, yang turun dari 3% pada 2018 menjadi 0,1% pada 2019. Angka itu merupakan penurunan besar dari perkiraan mereka pada bulan Juni untuk tahun 2019, di mana pertumbuhan ekspor diperkirakan 2,5%. Dan meski kelompok itu memproyeksikan ekonomi akan mempertahankan momentum untuk 12 bulan ke depan, namun peluang resesi diperkirakan akan meningkat tahun depan.

Panelis memproyeksikan peluang resesi langsung tahun ini di hanya 7%, dan 24% dari mereka memproyeksikan resesi akan dimulai pada pertengahan 2020. Sementara untuk peluang resesi dimulai pada pertengahan 2021 adalah sebesar 69%. (hps/wed)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading