Ekonomi Dunia di Ambang Resesi, Bagaimana Nasib RI?

Market - Lidya Julita Sembiring, CNBC Indonesia
07 September 2019 06:33
Indonesia harus bersiap dengan segala kemungkinan dengan memperkuat fondasi perekonomiannya.
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Joko Widodo (Jokowi) beberapa waktu lalu bicara mengenai resesi atau perlambatan ekonomi global yang mulai mengancam negara-negara maju. Menurutnya, Indonesia harus bersiap dengan segala kemungkinan dengan memperkuat fondasi perekonomiannya.

Lalu seberapa mengkhawatirkan kah ancaman resesi ini kepada Indonesia?

Ekonom Josua Pardede mengatakan, ancaman resesi memang semakin dekat, tapi itu akan berdampak lebih besar terhadap negara yang kontribusi net ekspornya cenderung lebih tinggi ke perekonomian. Ia mencontohkan, negara yang rentan terkena adalah Singapura yang juga bisa terkena ke Indonesia.

Namun, ia menilai hal ini tidak perlu terlalu dikhawatirkan, karena ketahanan ekonomi Indonesia yang kuat. Meski begitu, pemerintah harus tetap waspada.


"Ketahanan ekonomi Indonesia cenderung terus membaik terindikasi dari kondisi keseimbangan eksternal yang terus membaik seperti rasio utang luar terhadap PDB yang tetap stabil," ujar Josua kepada CNBC Indonesia, Jakarta, Jumat (6/9/2019).

Selain itu, kata Josua, cadangan devisa Indonesia cenderung meningkat seiring peningkatan investasi baik portofolio dan PMA (Penanaman Modal Asing). Hal ini sejalan dengan perbaikan peringkat utang pemerintah yang saat ini sudah layak investasi.

"Perekonomian Indonesia diperkirakan akan tetap stabil dan akan dapat bertahan terhadap perlambatan ekonomi global mengingat ekonomi domestik masih menjadi pendorong utama perekonomian," kata dia.

Bank Indonesia (BI) melaporkan cadangan devisa nasional naik pada Agustus dibandingkan bulan sebelumnya. Penerimaan devisa yang meningkat menopang kenaikan cadangan devisa.

Pada Jumat (6/9/2019), cadangan devisa Indonesia tercatat US$ 126,4 miliar. Naik dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar US$ 125,9 miliar.

"Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 7,4 bulan impor atau 7,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan," demikian sebut keterangan tertulis BI.

Menurut BI, kenaikan cadangan devisa didorong oleh penerimaan devisa migas dan penerimaan valas lainnya. "Ke depan, Bank Indonesia memandang cadangan devisa tetap memadai dengan didukung stabilitas dan prospek ekonomi yang tetap baik," lanjut keterangan BI.

Cadangan devisa Agustus merupakan yang tertinggi sejak Februari 2018. Data ini bisa menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan Indonesia, karena ada keyakinan BI punya amunisi yang semakin memadai untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Waspada! Ekonomi Dunia Melambat, Sinyal Bakal Resesi

[Gambas:Video CNBC]

Untuk itu, tambah Josua, pemerintah dan BI harus bisa membuat kombinasi kebijakan yang efekif untuk meredam gejolak.

"Selain itu, kombinasi kebijakan dari otoritas moneter dan fiskal yang prudent dan kredibel juga diperkirakan akan tetap menjaga iklim investasi dalam negeri," tegasnya.


(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading