Sedih, Harga Batu Bara Amblas 6% Pekan Lalu

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
07 October 2019 13:10
Akhir pekan lalu, harga batu bara ditutup menguat.
Jakarta, CNBC Indonesia - Akhir pekan lalu, harga batu bara ditutup menguat. Apresiasi harga batu bara disebabkan oleh dua sentimen utama yaitu permintaan dan pelemahan indeks dolar Amerika Serikat (AS).

Pada Jumat (4/10/2019), harga batu bara kontrak berjangka ICE Newcastle ditutup menguat 0,97% ke US$ 67,45/ton. Kenaikan harga batu bara tersebut mengakhiri tren koreksi sejak Senin. Sepanjang pekan lalu, lalu harga batu bara tertekan 5,99% secara point-to-point.




Banyak pelaku pasar di China berharap bahwa permintaan batu bara masih akan stabil pada November dan Desember mengingat tahun depan kebijakan kuota impor batu bara mulai diberlakukan.

Pemerintah Australia melalui laporannya menyatakan bahwa impor batu bara China masih belum dapat diprediksikan. Namun dengan terus terjadinya perlambatan ekonomi global yang terjadi akhir-akhir ini menjadi faktor risiko yang perlu dipertimbangkan.

Menurut estimasi pemerintah Australia, impor batu bara metalurgi China akan mencapai 68 juta ton tahun ini atau naik 4,8% dibanding tahun lalu yang sebanyak 65 juta ton saja. Namun impor batu bara metalurgi jenis kokas diprediksi akan turun tahun depan menjadi 63 juta ton.

Australia berharap India akan mengambil alih peran China sebagai importir batu bara metalurgi terbesar di dunia tahun depan. Pemerintah Australia mengestimasi impor batu bara kokas India mencapai 63 juta ton dan berharap naik menjadi 67 juta ton tahun depan.

Selain masih ada harapan terhadap permintaan yang stabil, pelemahan indeks dolar greenback terhadap 6 mata uang lainnya juga menyebabkan harga batu bara yang dibanderol dalam mata uang tersebut menjadi relatif lebih murah untuk pemegang mata uang asing. Hal ini memicu aksi beli sehingga harga naik.

TIM RISET CNBC INDONESIA


(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading