Bank Artos Jadi Gojek Bank Berpotensi Terwujud! Ini Alasannya

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
07 October 2019 12:20
Harga saham PT Bank Artos Indonesia Tbk (ARTO) sudah melesat lebih dari 1.300%.
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga saham PT Bank Artos Indonesia Tbk (ARTO) sudah melesat lebih dari 1.300% dari awal tahun hingga Senin ini (7/10/2019). Rumor bank ini akan bertransformasi menjadi Gojek Bank atau GoBank membuat harga saham ARTO terus bergerak liar.

Bahkan pada perdagangan hari ini, saham kena batas atas penolakan sistem perdagangan alias auto reject atas ketika sahamnya menyentuh kenaikan 24,64% di level Rp 2.630/saham. Suspensi saham ARTO mulai dibuka pada sesi I ini setelah Jumat pekan lalu disuspensi atau dihentikan sementara oleh Bursa Efek Indonesia (BEI).

Analis PT RHB Sekuritas Indonesia Henry Wibowo mengatakan saham bank ini naik karena sentimen merger dan akuisisi (M&A). Ditambah lagi calon pembeli Bank Artos adalah dua nama yang dianggap mumpuni dalam mengembangkan bank digital, yakni Jerry NG dan Patrick Walujo.


Gojek Bank Berpotensi Terealisasi, Begini AnalisanyaFoto: Patrick Walujo - Jerry Ng (CNBC Indonesia)

"Jerry NG kita tahu sebelumnya direksi PT Bank BTPN Tbk, yang membuat Jenius, aplikasi digital bank dan sukses. Kapasitas beliau berhubung baik, dan track record ini dilihat investor. Satu lagi Patrick Walujo dari Northstar, investor Gojek," kata Henry dalam program talkshow di CNBC Indonesia, Jumat lalu (4/10/2019).


"Tidak menutup kemungkinan Bank Artos [menjadi GoBank] bisa jadi kenyataan," prediksinya.

Dia mengalisis bahwa bisnis Gojek saat ini setengahnya disumbang dari Gopay dan peraturan perbankan soal pembayaran digital atau dompet digital ini masih abu-abu.

"Jadi dia plan mereka ini a head [lebih dahulu dari regulasi]. Jadi jika ada transaksi harus besar [menarik dana Gopay besar] harus ada izin perbankan, maka arahnya ke sana [sudah lebih dahulu siap]."


Dia mengatakan payment fintech dinilai lebih naik signifikan dibandingkan dengan peer to peer lending (P2P) di Indonesia. "Ini kita belum KWC [know your customer], itu kalau enggak salah masukin Gopay itu bisa Rp 2 juta, kalau sudah KWC, nilai top up bisa naik menjadi Rp 10 juta, tapi limit Rp 20 juta, jadi seandainya go beyond that [lebih dari angka itu], itu harus ada izin perbankan," jelasnya.

"Tren fintech payment akan bisa banyak ke depan. Riset Google, ekonomi digital itu nilainya US$ 100 miliar di Asia Tenggara, dan setengahnya US$ 40-50 miliar itu dari Indonesia, part of digital itu, fintech payment, bukan P2P lending, ada LinkAja, Dana, Gopay, dan Ovo."

Pada Agustus lalu, Bank Artos mengumumkan akan mendapatkan pemegang saham baru. Kala itu, bankir senior Jerry Ng dan pengusaha Patrick Walujo berkongsi akan mencaplok 51% saham Bank Artos.

Akuisisi tersebut dilakukan oleh perusahaan milik Jerry Ng bernama PT Metamorfosis Ekosistem Indonesia (MEI), dan entitas milik Patrick Walujo, yakni Wealth Track Technology Limited (WTT) yang berbasis di Hong Kong.

Sumber CNBC Indonesia membisikkan Bank Artos nantinya akan menjadi bank digital yang menangani transaksi Gojek kemudian ditransformasikan menjadi GoBank atau milik Gojek.


"Semua transaksi Gojek akan diurus oleh Gobank. Jadi biaya transaksi bisa ditekan tetapi pendapatan dari transaksi masuk ke Gojek. Transformasi ini akan terjadi dalam beberapa tahun ke depan setelah core bisnis bank digital berjalan stabil," ujarnya, seperti dikutip Kamis (3/10/2019).

Sumber tersebut menambahkan aksi ini diprakarsai oleh Patrick Walujo yang merupakan salah satu investor awal Gojek. Patrick Walujo masuk ke Gojek melalui NSI Ventures, anak usaha Northstar Group. Mereka pertama kali masuk ke Gojek pada 2014.

Merespons hal tersebut, Direktur Utama sekaligus Sekretaris Perusahaan Bank Artos, Deddy Triyana, mengatakan informasi bank tersebut berubah menjadi Bank Gojek bukan dari perusahaan.

"Dalam pemberitaan di atas juga dikutip pernyataan Dirut MEI [PT Metamorfosis Ekosistem Indonesia, pembeli Bank Artos] bahwa saat ini tidak ada rencana bagi Bank Artos nantinya untuk melakukan kerja sama eksklusif dengan platform teknologi atau ekosistem mana pun," tegas Deddy dalam surat jawaban kepada BEI, dikutip CNBC Indonesia, Jumat (4/10).

Dalam surat tersebut, Deddy juga menjelaskan, sehubungan dengan rencana pengambilalihan saham perseroan (akuisisi), pihaknya sudah menyampaikan informasi sesuai dengan pengumuman ringkasan rancangan pengambilalihan yang telah diumumkan oleh Bank Artos pada 22 Agustus 2019.

Adapun perubahan informasi dan pernyataan kembali atas ringkasan rancangan pengambilalihan atau akuisisi tersebut juga sudah disampaikan kepada otoritas bursa pada 26 September 2019.

"Metamorfosis Ekosistem Indonesia atau MEI dan Wealth Track Technology [WTT] bermaksud untuk mengambilalih saham yang mewakili tidak kurang dari 51% yang terdiri dari 37,65% akan diambilalih oleh MEI dan 13,55% akan diambil oleh WTT," jelasnya.

"Sampai saat ini sih saya tidak mendengar informasi tentang hal tersebut [GoBank]. Jadi tidak tahu juga asalnya dari mana," kata Deddy kepada CNBC Indonesia, Jumat sore (4/10/2019).

"Prinsipnya kami akan komunikasi intensif dengan Bursa. Jika Bursa ada meminta penjelasan kami akan segera memenuhinya," tegasnya.


(tas/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading