GGRP Gandeng China Investasi Rp 10 T untuk Lawan Baja China

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
19 September 2019 12:54
GGRP Gandeng China Investasi Rp 10 T untuk Lawan Baja China
Jakarta, CNBC Indonesia - PT Gunung Raja Paksi Tbk (GGRP) dalam waktu beberapa tahun ke depan akan berinvestasi dengan nilai mencapai hampir Rp 10 triliun untuk mengembangkan project pengolahan baja baru. Untuk pengembangan ini perusahaan akan bekerja sama dengan perusahaan baja asal China dalam hal operasional dan manajemen.

Direktur Utama Gunung Raja Paksi Alouisius Maseimilian mengatakan nilai investasi ini diperkirakan mencapai Rp 9,74 triliun. Terdiri dari investasi mesin senilai 220 juta euro dan investasi konten lokal dan sebagainya mencapai US$ 450 juta.

"Ini baru berupa master plan yang akan dikerjakan bersama partner dari China. Bulan depan sepertinya akan signing," kata Alouisius di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (19/9/2019).


Dia menjelaskan, perusahaan akan mengembangkan beberapa jenis pengolahan baja, secara total terdapat tujuh rencana yang akan dilaksanakan. Beberapa diantaranya seperti Corrugated Steel Plate (CSP), light and medium section mill dan piping IRW.

Dari segi kinerja di tahun ini, Alouisius memperkirakan akan terjadi peningkatan volume penjualan baja sebesar 3,3% dibanding tahun lalu menjadi 1,25 juta ton. Dengan prediksi harga baja US$ 724 per ton, diperkirakan pendapatan perusahaan di tahun ini mencapai US$ 906,64 juta.

Dia menjelaskan, selama ini mayoritas penjualan atau sebesar 96% masih diserap oleh pasar dalam negeri. 45% diantaranya adalah penjualan langsung ke proyek-proyek infrastruktur, sedangkan sisanya penjualan biasa.

Tahun ini penjualan untuk proyek-proyek infrastruktur tahun ini menjadi lebih rendah dari tahun sebelmnya sebab sepinya pembangunan proyek pemerintah sejak awal tahun. Tahun depan, dengan kembali meningkatnya pembangunan infrastruktur apalagi dengan ibu kota baru dinilai akan bisa mendongkrak kembali penjualan perusahaan.

Di 2020 perusahaan memperkirakan akan terjadi peningkatan produksi menjadi 1,3 juta ton baja yang sejalan dengan langkah perusahaan untuk upgrading mesin-mesin yang sudah ada saat ini. Sedangkan dari segi pendapatan diperkirakan akan terjadi peningkatan menjadi US$ 950 juta.

Sebelumnya Alouisius menjelaskan tahun lalu kebutuhan baja dalam negeri mencapai 15,08 juta ton, namun suplai dari dalam negeri hanya bisa menutupi 49% dari total kebutuhan tersebut. Tak ayal, pasar baja dalam negeri dibanjiri oleh baja impor.

"Karena kalau kita lihat supply and demand, demand begitu tinggi tapi supply-nya masih rendah. Artinya harus dilakukan fokus investasi di industri baja ini," kata Alouisius.

Dia menyebutkan, perkembangan pembangunan infrastruktur di Indonesia sangat cepat sehingga kebutuhan baja makin tinggi.

Di sisi lain, China yang terdampak perang dagang dengan AS terus membanjiri pasar Asia untuk menyerap produksi baja dalam negerinya yang berlebih atau oversupply.

"Infrastruktur kita cepat kan, tentu kebutuhan baja naik cepat. Nah kalau di China waktu mereka ada olympic [Olimpiade] kebutuhan baja kan besar, industri bajanya berkembang cepat, BUMN-nya berkembang," katanya.

"Sekarang mereka overcapacity mereka keluar. Nah, kita di Indonesia pertumbuhannya agak pelan tidak seimbang dengan pertumbuhan investment di infrastruktur itu," jelasnya lagi.

(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading