Harga Minyak Lanjutkan Koreksi, Saham Emiten Migas Amblas

Market - Dwi Ayuningtyas, CNBC Indonesia
18 September 2019 10:16
Harga Minyak Lanjutkan Koreksi, Saham Emiten Migas Amblas
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga saham emiten pemain besar di industri pengolahan minyak terlihat menduduki jajaran top losers atau deretan saham dengan pelemahan terbesar, pada perdagangan Rabu ini (18/9/2019) seiring dengan harga minyak dunia yang terus menunjukkan tren penurunan.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, pada pukul 09:50 WIB PT Elnusa Tbk (ELSA) mantap menduduki posisi jawara top losers karena harga saham ELSA anjlok 3,93% ke level Rp 342/saham dengan total nilai transaksi mencapai Rp 12,1 miliar.

Selain itu, volume perdagangan saham perusahaan juga telah menyentuh 35,36 juta unit, di atas rata-rata volume transaksi harian yang hanya 25,64 juta unit.



Adapun harga saham PT Medco Energi International Tbk (MEDC) terkoreksi 3,18% menjadi Rp 760/saham, di mana nila transaksi tercatat sebesar Rp 11,02 miliar. Selain itu, harga saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) juga tercatat melemah 3,28% ke Rp 59/saham.

Uniknya, meskipun harga sahamnya anjlok, investor asing masing aktif memburu saham kedua produsen minyak Tanah Air ini. Investor asing tercatat membukukan aksi beli bersih atas saham ELSA dan MEDC masing-masing senilai Rp 80,24 juta dan Rp 1,13 miliar.

Sebagai informasi, pada penutupan perdagangan Selasa kemarin harga minyak dunia kontrak berjangka jenis Brent ditutup melemah hingga 6,48% menjadi US$ 64,55/barel dan pada perdagangan hari ini kembali terkoreksi ke level US$ 64,37/barel.

Sementara harga minyak jenis Light Sweet kemarin ditutup terkoreksi 5,66% ke level US$ 59,34/barel dan pagi hari ini kembali melemah menjadi US$ 58,91/barel.




Harga minyak dunia perlahan mengalami koreksi karena Pangeran Abdulaziz bin Salman, Menteri Energi Arab Saudi, menegaskan pemerintah akan mengeluarkan stok untuk menjaga pasokan di pasar.

Saat ini cadangan minyak mentah Arab Saudi mencapai 193,4 juta barel. Jumlah ini dirasa cukup untuk menstabilkan harga sembari menunggu produksi kembali normal.

"Kabar ini membuat kami tidak ingin terburu-buru mengubah proyeksi harga minyak yang saat ini di US$ 60/barel pada akhir 2019. Namun dengan masih banyaknya pertanyaan yang belum terjawab seputar serangan pada akhir pekan lalu, risiko perubahan proyeksi tetap besar," kata Caroline Bain, Chief Commodities Economist di Capital Economics, seperti diberitakan Reuters.

Koreksi teknikal dan jaminan keamanan pasokan di Arab Saudi membuat harga minyak kembali turun hari ini. Bahkan kalau melihat kenaikan yang luar biasa pada awal pekan ini, ruang untuk koreksi lanjutan masih sangat terbuka.

TIM RISET CNBC INDONESIA

(dwa/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading