Newsletter

Awas! Harga Minyak Mentah Bikin "Hantu" Resesi Kian Mendekat

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
17 September 2019 06:26

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar finansial Indonesia memerah pada perdagangan Senin (16/9/19) kemarin. Memburukya persepsi pelaku pasar setelah serangan pesawat nirawak atau drone di dua fasilitas minyak Arab Saudi berdampak negatif ke pasar finansial global.

Rupiah yang pekan lalu perkasa dengan menguat hampir 1% ke level Rp 13.960, Senin kemarin kembali ke atas Rp 14.000/US$. Mata Uang Garuda melemah 0,54%, menjadi pelemahan harian terbesar sejak 1 Agustus lalu.


Sementara itu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 1,82% ke level 6.219,28, menjadi penurunan terbesar sejak 5 Agustus.

Sejatinya, mayoritas bursa saham utama kawasan Asia juga ditransaksikan melemah. Namun, koreksi hingga 1,8% lebih yang dibukukan IHSG menjadikannya indeks saham dengan kinerja terburuk di kawasan Asia.


Selain tekanan dari eksternal, tekanan bagi IHSG juga datang dari kenaikan cukai tembakau sebesar 23% mulai tahun 2020 yang memukul emiten rokok. Saham PT Gudang Garam Tbk (GGRM) amblas 20,64% dan PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) anjlok 18,21%.

Dari pasar obligasi, imbal hasil (yield) obligasi seri acuan tenor 10 tahun naik 0,35 bps. Sebagai informasi, pergerakan yield obligasi berbanding terbalik dengan harganya. Ketika yield turun, berarti harga sedang naik. Sebaliknya, ketika yield naik, berarti harga sedang turun. Dengan demikian, berarti terjadi aksi jual di pasar obligasi.



Serangan drone ke fasilitas minyak mentah Arab Saudi menjadi headline di awal pekan. Pada akhir pekan lalu, sekitar 10 drone menyerang salah satu ladang minyak terbesar Arab Saudi di Hijra Khurais dan fasilitas pemrosesan minyak mentah di dunia di Abqaiq.

Pemberontak Houthi mengklaim serangan tersebut, tetapi Amerika Serikat (AS) justru mengatakan Iran ada di balik serangan tersebut. Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo menuduh Iran meluncurkan serangan terhadap pasokan energi dunia yang belum pernah terjadi sebelumnya, melansir CNBC International.

Tuduhan dari AS tersebut tentunya kembali meningkatkan ketegangan dengan Iran. Hubungan dua negara ini sebelumnya sudah memburuk sejak Presiden AS Donald Trump menarik diri dari perjanjian nuklir dengan Iran. Trump malah menerapkan sanksi ekonomi kepada Iran.

Presiden Trump kini menyatakan bersiap untuk memberikan serangan balasan, tapi masih menunggu Pemerintah Arab Saudi memastikan siapa pelakunya.

Teheran tentu tidak terima atas tuduhan tersebut. Abbas Mousavi, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, menyatakan bahwa tudingan AS dan sekutunya tidak berdasar.

Bahkan Iran siap apabila harus berperang dengan AS dan sekutunya. Amarali Hajizadeh, Kepala Staff Angkatan Udara Garda Revolusioner Iran, mengungkapkan pangkalan AS di Timur Tengah masuk dalam jangkauan misil mereka.


"Semua orang harus tahu bahwa seluruh basis pangkalan AS dan kapal induk mereka dalam jarak lebih dari 2.000 km di sekitar Iran masuk dalam cakupan misil kami. Iran selalu siap untuk perang dalam skala penuh," tegasnya, seperti diwartakan Reuters.

AS dan Iran sudah bersiap angkat senjata. Kalau situasi memburuk dan ada pemantik lebih lanjut, bukan tidak mungkin Perang Teluk Jilid III bakal meletus, dan sentimen pelaku pasar pun memburuk.

Akibat buruknya sentimen pelaku pasar, kabar cukup bagus dari dalam negeri. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis laporan ekspor dan impor pada Agustus 2019. Ekspor tercatat US$ 14,28 miliar sementara impor mencapai US$ 14,20 miliar. Dengan demikian surplus pada Agustus 2019 untuk neraca dagang mencapai US$ 85,1 juta, membaik dari defisit US$ 60 juta di bulan Juli.


(BERLANJUT KE HALAMAN 2)

(pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading