Babak Belur, Saham HMSP & GGRM Sempat Anjlok Lebih 20%

Market - Houtmand P Saragih, CNBC Indonesia
16 September 2019 09:15
Pelaku pasar pun mulai merubah rekomendasi mereka terhadap saham-saham rokok.
Jakarta, CNBC Indonesia - Saham dua produsen rokok terbesar Indonesia, PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) dan PT Gudang Garam Tbk (GGRM) langsung terhempas pada perdagangan pagi ini.

Kebijakan pemerintah yang menaikkan cukai rokok atau cukai hasil tembakau (CHT) jadi sentimen negatif bagi investor. Pelaku pasar pun mulai merubah rekomendasi mereka terhadap saham-saham rokok.

Harga saham HMSP pada saat pembukaan langsung anjlok 21,07% ke level Rp 2.210/unit. Volume perdagangan mencapai 46,78 juta unit senilai Rp 106,84 miliar.


Demikian pula saham GGRM anjlok 19,37% ke level harga Rp 55.475/unit. Volume mencapai 1,66 juta unit senilai Rp 95,44 miliar.


Trimegah Sekuritas salah satu perusahaan sekuritas yang sudah mengeluarkan riset dan analisis dampak dari kebijakan tersebut terhadap saham rokok. Rekomendasi broker ini berubah dair overweight menjadi neutral.

Analis Trimega Heribertus Ariando dan Darien Sanusi dalam risetnya memperkirakan dampak dari kebijakan tersebut akan mempengaruh pertumbuhan pendapatan emiten rokok, khususnya PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) dan PT Gudang Garam Tbk (GGRM).

"Kami percaya pertumbuhan pendapatan 2020 akan mengalami tren turun, dimana HMSP turun 14% dan GGRM turun 18%. Nam kami berharap para produsen rokok akan menaikkan harga untuk sisa tahun ini...Kami menurunkan peringkat HMSP dan GGRM menjadi Netral, tetapi jika kami memilih di antara keduanya, kami yakin penghasilan HMSP akan lebih defensif dan lebih visible," kata kedua analis tersebut dalam risetnya yang dipublikasi akhir pekan lalu, Jumat (13/9/2019).

Pakan lalu, pemerintah memutuskan untuk menaikkan tarif cukai hasil tembakau (CHT) sebesar 23% mulai 1 Januari 2020. Keputusan tersebut dikemukakan Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, usaimenggelar rapat secara tertutup di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (13/9/2019).
"Kami sudah sampaikan kepada Pak Presiden, dan mendapat pandangan dari Menko Perekonomian, Menko PMK, Menperin, Mentan, dan Pak Wapres, dan Menaker," kata Sri Mulyani.

"Kita semua akhirnya memutuskan untuk kenaikan cukai rokok ditetapkan sebesar 23%," tegas Sri Mulyani di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.

Informasi kenaikan cukai rokok ini tidak berdampak signifikan atas gerak saham emiten rokok Jumat kemarin karena diumumkan setelah perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) sudah ditutup pada pukul 16.00 WIB.

Namun ke depannya saham emiten rokok diperkirakan akan mengalami tekanan dalam jangka pendek.

Analis PT FAC Sekuritas Wisnu Prambudi Wibowo menilai kenaikan tarif cukai ini akan menjadi sentimen yang mempengaruhi pergerakan saham perusahaan rokok. Sebab, ada kemungkinan penjualan perusahaan emiten rokok akan tertekan, jika kenaikan tarif cukai ini tidak dibebankan ke pembeli.

"Dalam jangka pendek berpeluang adanya tekanan pada harga saham emiten rokok, merespons berita tersebut," kata Wisnu kepada CNBC Indonesia, Jumat (13/9/2019).

Dia menilai, tarif sebesar 23% ini cukup besar nilainya dan akan sangat membebani perusahaan. "Mau tidak mau perseroan harus menaikkan harga jual rokok di atas kenaikan tarif cukai rokok untuk menjaga pertumbuhan kinerja agar tetap bagus," kata dia.
(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading