Bos HM Sampoerna Blak-blakan Respons Kenaikan Cukai Rokok

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
17 December 2020 16:22
Presiden Direktur Sampoerna, Mindaugas Trumpaitis dalam paparan publik HMSP, 18 September 2020.

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Direktur PT HM Sampoerna Tbk (HMSP), Mindaugas Trumpaitis memberikan tanggapan ihwal kebijakan cukai rokok yang akan naik mulai tahun depan.

Mindaugas menilai, saat ini industri rokok masih tertekan akibat pandemi Covid-19 serta dampak oleh kenaikan tarif cukai yang tertinggi selama 10 tahun terakhir. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati telah mengambil keputusan, tarif cukai rata-rata naik 12,5% mulai Februari tahun depan.

Menurutnya, kebijakan pemerintah menaikkan tarif cukai telah mempertimbangkan berbagai faktor sebelum memutuskan untuk menetapkan kebijakan dan kenaikan tarif.


"Sehubungan dengan kebijakan cukai tahun 2021 yang telah diumumkan, kami sangat mengapresiasi keputusan Pemerintah untuk tidak menaikkan tarif cukai bagi segmen SKT yang merupakan segmen padat karya untuk melindungi para pekerja," kata Mindaugas, dalam keterangan resmi yang diperoleh CNBC Indonesia, Kamis (17/12/2020).

Sementara pada segmen sigaret mesin (SKM dan SPM), Sampoerna akan mengantisipasi tantangan di tahun mendatang, pasalnya, kenaikan tarif cukai pada kedua segmen ini jauh di atas tingkat inflasi dan pertumbuhan ekonomi, masing-masing sebesar 16,9% dan 18,4% untuk SKM Golongan 1 dan SPM Golongan 1, utamanya terkait tren perpindahan pembelian (downtrading) dari segmen rokok dengan tarif cukai yang lebih tinggi dari Golongan 1 ke tarif cukai lebih rendah di Golongan 2 dan 3.

"Sampoerna tetap berkomitmen untuk mendukung upaya Pemerintah dalam menanggulangi pandemi COVID-19 dan program Pemulihan Ekonomi Nasional dengan melakukan berbagai inisiatif yang ditujukan kepada para pemangku kepentingan, termasuk karyawan, mitra bisnis, dan masyarakat luas," kata dia.

Sekadar gambaran, sampai dengan periode September 2020, emiten bersandi HMSP ini mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 32,25% menjadi Rp 6,91 triliun dari periode sama di tahun sebelumnya Rp 10,20 triliun.

Pendapatan produsen rokok Dji Sam Soe dan Sampoerna Mild ini turun 12,55% menjadi Rp 67,78 triliun dari periode yang sama tahun lalu Rp 77,51 triliun. Secara rinci, penjualan terbesar yakni pasar lokal untuk sigaret kretek mesin sebesar Rp 45,28 triliun, turun dari sebelumnya Rp 54,66 triliun.

Beban pokok sebetulnya berhasil ditekan menjadi Rp 53,54 triliun dari sebelumnya Rp 58,62 triliun, sementara beban umum dan administrasi juga turun menjadi Rp 1,49 triliun dari Rp 1,77 triliun.

Manajemen HMSP, dalam penjelasan di laporan keuangan itu mengatakan dampak negatif ekonomi akibat dari Covid-19 dan adanya kebijakan PSBB (pembatasan sosial berskala besar) dari pemerintah telah menyebabkan penurunan daya beli masyarakat dan perubahan prioritas belanja konsumen.

Efeknya, berdampak pada penurunan volume industri rokok dan perubahan preferensi rokok konsumen dewasa ke produk-produk yang lebih terjangkau di Indonesia.

"Pandemi Covid-19 juga telah mengakibatkan terganggunya kegiatan operasional perusahaan, seperti adaptasi kegiatan manufaktur, pengadaan barang, periklanan dan promosi, untuk memastikan keselamatan pemangku kepentingan Perusahaan dan mematuhi peraturan pemerintah," tulis manajemen HMSP, dikutip Rabu (18/11/2020).


[Gambas:Video CNBC]

(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading