Yen, Mata Uang yang "Benci" Kabar Bagus

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
05 September 2019 08:32
Yen, Mata Uang yang

Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang yen Jepang melemah melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (4/9/19) kemarin setelah meredanya ketegangan geopolitik global.

Yen merupakan mata uang yang menyandang status aset aman (safe haven) sehingga akan menjadi incaran pelaku pasar ketika terjadi gejolak geopolitik maupun gejolak di pasar finansial.

Ketika tensi geopolitik mereda, pasar finansial stabil, maka pelaku pasar akan meninggalkan yen dan beralih ke aset-aset berisiko yang memberikan imbal hasil tinggi. Oleh karena itu, yen menjadi mata uang yang "tidak suka" dengan kabar bagus.

Pada perdagangan hari ini, Kamis (5/9/19) pukul 8:16 WIB berada di level 106,4/US$ atau melemah tipis 0,02% di pasar spot, melansir data Refinitiv. Pada Rabu kemarin, yen melemah 0,43%.


Meredanya tensi geopolitik di Hong Kong, Italia, dan Inggris membuat sentimen pelaku pasar membaik dan bursa saham menghijau, sebaliknya yen melemah.

Pemimpin Hong Kong Carrie Lam secara resmi menarik kembali RUU ekstradisi yang telah memicu aksi massa selama berbulan-bulan, dilansir CNBC International.

Pembatalan RUU Ekstradisi tersebut menjadi sentimen positif karena protes yang terjadi di Hong Kong sempat dikhawatirkan bakal menjadi fakto penghambat tambahan dalam sejarah hubungan ekonomi AS dan China.


Dari Italia, kisruh politik terjadi setelah muncul rencana pemilu dari Wakil Perdana Menteri, Matteo Salvini berujung pada pengunduran diri Perdana Menteri Giuseppe Conte.

Pecah kongsi antara dua pimpinan tersebut memberikan ketidakjelasan akan nasib Italia. Kini hal tersebut mulai mereda setelah Partai 5 Stars Movement pimpinan Matteo Salvini mencapai kesepakatan dengan Partai Demokratis untuk membentuk pemerintahan baru, sebagaimana dilansir CNBC International.

Sementara itu dari Inggris, aliansi anggota parlemen lintas partai sukses mengalahkan Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson, sehingga menjegal rencananya mengeluarkan Negeri Monarki tersebut dari Uni Eropa tanpa kesepakatan (no deal Brexit) pada 31 Oktober, dilansir CNBC International.

Membaiknya faktor politik di beberapa negara tentunya memberikan angin segar bagi pelaku pasar di tengah isu resesi yang terus menggentayangi.

Bursa saham AS mencatat penguatan pada perdagangan Rabu, jika menjalar ke Asia pada hari ini, mata yen berpotensi melemah kembali.

TIM RISET CNBC INDONESIA



 

(pap/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading