Bukan DMO Pemicunya, Ini Sebab Liarnya Saham Tambang!

Market - Yazid Muamar, CNBC Indonesia
16 August 2019 15:07
Bukan DMO Pemicunya, Ini Sebab Liarnya Saham Tambang! Foto: Tambang batubara Maules Creek Whitehaven Coal di New South Wales, Australia (Whitehaven Coal Ltd/Handout via REUTERS)
Jakarta, CNBC Indonesia - Rumor pencabutan kewajiban Domestic Market Obligation (DMO) batu bara cukup menjadi perhatian pelaku pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat ini (16/8/2019). Kabar ini sontak membuat saham emiten pertambangan tampak 'digoreng' sehingga kompak melesat.

Namun Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sudah menegasksan bahwa kabar tersebut hanya hoaks.

"Tidak betul itu," kata Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Bambang Gatot dalam pesan singkatnya kepada CNBC Indonesia, Jumat (16/8/2019).


DMO adalah kewajiban badan usaha untuk menyerahkan sebagian minyak dan gas bumi dari bagiannya kepada negara melalui Badan Pelaksana dalam rangka penyediaan migas untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri yang besarnya diatur di dalam Kontrak Kerja Sama (KKS).


Hingga penutupan perdagangan bursa saham sesi I, indeks sektor pertambangan di BEI menguat 1,19%.

Namun faktanya penguatan tersebut semata-mata bukan didorong saham-saham yang bergerak di industri batu bara, melainkan saham-saham dari industri lain di sektor pertambangan yang menguat, khususnya mineral. Apalagi harga komoditas khususnya emas masih terus mencatatkan penguatan.

Beberapa emiten tersebut yakni PT Vale Indonesia Tbk/INCO (+4,07%), PT Aneka Tambang Tbk/ANTM (+2,23%), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Merdeka Copper Gold Tbk/MDKA (+2,23%), dan PT Indika Energy Tbk/INDY (+5,58%).

Sebelumnya beredar kabar pemerintah berencana untuk mencabut DMO batu bara yang di patok sebesar 25% hingga akhir 2019.

Menurut artikel tersebut, DMO dicabut atas desakan kalangan pelaku pengusaha batu bara. Dalam info yang beredar di pasar ini, disebutkan pencabutan DMO ini juga bisa membantu pemerintah mengurangi CAD (defisit neraca transaksi berjalan) dan menambah ekspor.

Tim Riset CNBC Indonesia menilai secara umum, bursa saham Indonesia yang sedang menguat sebetulnya terimbas faktor eksternal yang membaik sehingga memulihkan "mood" pelaku pasar untuk mengoleksi saham.

Selain imbal hasil obligasi AS yang sudah normal, artinya yield tenor pendek lebih tinggi dibanding tenor panjang, sentimen positif lain yakni perkembangan hubungan geopolitik antara AS-China yang masih cukup positif.

"Sepengetahuan saya, pertemuan pada September masih terjadwal. Namun yang lebih penting dari pertemuan itu, kami (AS dan China) terus berkomunikasi melalui telepon. Pembicaraan kami sangat produktif," ungkap Presiden AS Donald Trump, dikutip dari Reuters.

Dari dalam negeri, defisit neraca dagang yang hanya US$ 63,5 juta dinilai positif oleh para pelaku pasar. Angka tersebut jauh lebih kecil dibandingkan konsensus para ekonom yang dihimpun Tim Riset CNBC Indonesia yang memprediksi akan terjadi defisit sebesar US$ 384,5 juta.

Berbagai sentimen positif dari dalam maupun secara global tersebut tidak hanya membuat bursa saham menguat, tetapi membuat rupiah juga menguat. Pada pukul 13:00 WIB, US$ 1 dibanderol Rp 14.225. Rupiah menguat 0,25% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Di sisi lain, harga batu bara global saat ini masih dalam tren melemah. Bahkan pada sesi perdagangan Kamis kemarin (15/8/2019), harga batu bara Newcastle kontrak pengiriman September anjlok 4,23% ke level 65,7 dan merupakan level terendah sejak 6 Agustus 2016.


Pergerakan Indeks Sektor Pertambangan:

DMO Batu Bara Dicabut Hoax, Ini Penggerak Sektor TambangSumber: Refinitiv

TIM RISET CNBC INDONESIA


(yam/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading