Walau Neraca Dagang Oke, IHSG Tetap Tak Bisa Bangkit

Market - Anthony Kevin, CNBC Indonesia
15 August 2019 11:45
Walau Neraca Dagang Oke, IHSG Tetap Tak Bisa Bangkit
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tetap terpuruk pasca Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data perdagangan internasional periode Juli 2019.

Sepanjang Juli 2019, BPS mencatat bahwa ekspor jatuh sebesar 5,12% secara tahunan (year-on-year/YoY), lebih baik dari konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia yang memperkirakan kontraksi hingga 11,59%. Sementara itu, impor tercatat jatuh 15,21% YoY, juga lebih baik ketimbang konsensus yakni koreksi sebesar 17,76% YoY. Alhasil, neraca dagang tercatat membukukan defisit senilai US$ 63,5 juta, lebih baik dibandingkan konsensus yang sebesar US$ 384,5 juta.


Sebelum data perdagangan internasional dirilis, IHSG ditransaksikan melemah 0,97% ke level 6.206,52. Kini, koreksi yang dibukukan IHSG adalah sebesar 0,95% ke level 6.207,56. Memang ada perbaikan, namun sangat minim. IHSG masih saja tepuruk.


Rilis data perdagangan internasional periode Juli 2019 menjadi sangat penting lantaran akan mempengaruhi posisi transaksi berjalan pada kuartal III-2019. Pada Juli 2018, neraca dagang Indonesia membukukan defisit senilai US$ 2,01 miliar, sementara defisit transaksi berjalan/current account deficit (CAD) pada kuartal III-2018 tercatat sebesar 3,3% dari PDB.

Jika ternyata neraca dagang Indonesia membukukan defisit yang lebih dalam dari ekspektasi pada periode Juli 2019, maka akan ada kekhawatiran bahwa transaksi berjalan akan kembali membengkak pada kuartal III-2019.


Untuk diketahui, pada kuartal II-2019 Bank Indonesia (BI) mencatat bahwa CAD menembus level 3% dari PDB, tepatnya 3,04%. Padahal pada kuartal I-2019, CAD hanya berada di level 2,6% dari PDB. Secara nominal, CAD pada kuartal II-2019 adalah senilai US$ 8,44 miliar.

Dengan defisit neraca dagang pada Juli 2019 yang jauh lebih kecil dari ekspektasi, maka ada harapan bahwa CAD di kuartal III-2019 akan menyempit sehingga mendukung aksi beli di pasar saham tanah air.

Sayang, kondisi eksternal yang begitu tak kondusif membuat aksi jual tetap dilakukan di pasar saham tanah air. Sinyal resesi yang digaungkan oleh pasar obligasi AS membuat pelaku pasar bermain aman dengan melepas instrumen berisiko seperti saham.

Pada perdagangan kemarin (14/8/2019), imbal hasil (yield) obligasi AS tenor 2 tahun sempat melampaui yield obligasi AS tenor 10 tahun. Fenomena ini disebut sebagai inversi.

Inversi merupakan sebuah fenomena di mana yield obligasi tenor pendek lebih tinggi dibandingkan tenor panjang. Padahal dalam kondisi normal, yield tenor panjang akan lebih tinggi karena memegang obligasi tenor panjang pastilah lebih berisiko ketimbang tenor pendek.

Jika berkaca kepada sejarah, inversi pada yield obligasi tenor 2 dan 10 tahun merupakan pertanda datangnya resesi di AS. Kali terakhir inversi pada yield obligasi tenor 2 dan 10 tahun terjadi adalah pada akhir tahun 2005. Dua tahun setelahnya, AS mengalami resesi yang dipicu oleh krisis subprime mortgage.

TIM RISET CNBC INDONESIA (ank/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading