Harga Obligasi Pemerintah Naik, Asing Borong SUN Rp 112 T

Market - Irvin Avriano Arief, CNBC Indonesia
14 August 2019 12:57
Harga Obligasi Pemerintah Naik, Asing Borong SUN Rp 112 T
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga obligasi rupiah pemerintah terangkat pada sesi awal perdagangan Rabu ini (14/8/2019) akibat sikap lunak Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dalam menyikapi perang dagang dengan China.

Naiknya harga surat utang negara (SUN) itu tidak senada dengan koreksi yang terjadi di pasar surat utang pemerintah negara lain.
 

Data Refinitiv menunjukkan menguatnya harga SUN itu tercermin dari empat seri acuan (benchmark) yang sekaligus menurunkan tingkat imbal hasilnya (yield).  

Pergerakan harga dan yield obligasi saling bertolak belakang di pasar sekunder, sehingga ketika harga naik maka akan menekan yield turun, begitupun sebaliknya.

Yield
yang menjadi acuan hasil investasi yang didapat investor juga lebih umum dijadikan acuan transaksi obligasi dibanding harga karena mencerminkan kupon, tenor, dan risiko dalam satu angka.
 



SUN adalah surat berharga negara (SBN) konvensional rupiah yang perdagangannya paling ramai di pasar domestik, sehingga dapat mencerminkan kondisi pasar obligasi secara umum. Keempat seri yang menjadi acuan pasar adalah FR0077 bertenor 5 tahun, FR0078 bertenor 10 tahun, FR0068 bertenor 15 tahun, dan FR0079 bertenor 20 tahun.  

Seri acuan yang paling menguat adalah FR0077 yang bertenor 5 tahun dengan penurunan yield 7,7 basis poin (bps) menjadi 6,83%. Besaran 100 bps setara dengan 1%.  

Semalam, Trump berniat menunda pengenaan bea impor tambahan terhadap US$ 300 miliar barang China, yang diikuti dengan dimulainya lagi diskusi petinggi pemerintahannya dengan Beijing melalui sambungan telepon.  

Sentimen positif itu seakan menutup ancaman koreksi pasar keuangan global yang dipengaruhi menangnya pihak oposisi di Argentina yang berpotensi melemahkan stabilitas ekonomi di negara tersebut, sekawasan Amerika Selatan, serta dunia.



Yield Obligasi Negara Acuan 14 Aug'19
SeriJatuh tempoYield 13 Aug'19 (%)Yield 14 Aug'19 (%)Selisih (basis poin)Yield wajar IBPA 13 Aug'19 (%)
FR00775 tahun6.9146.837-7.706.8761
FR007810 tahun7.467.437-2.307.4499
FR006815 tahun7.7667.8154.907.8226
FR007920 tahun7.9187.9240.607.9193
Avg movement-1.12
Sumber: Refinitiv   


Dari pasar global, yield US Treasury 10 tahun turun hingga 0,4 bps menjadi 1,67% dari posisi kemarin 1,68%. Terkait dengan pasar US Treasury, saat ini masih terjadi inversi pada beberapa seri terutama seri 3 bulan-10 tahun, yang lumrah terjadi sejak perang dagang China-AS memanas pada April lalu. 

Saat ini pelaku pasar global lebih menantikan inversi yang terjadi pada tenor 3 bulan-10 tahun yang mulai terjadi pada awal tahun tetapi timbul dan tenggelam, sebagai indikator yang lebih menegaskan kembali bahwa potensi resesi AS semakin dekat dibanding inversi tenor lain.

Inversi pada kedua seri tersebut sudah mencapai 33 bps.
 Inversi adalah kondisi lebih tingginya yield seri lebih pendek dibanding yield seri lebih panjang. 

Inversi tersebut membentuk kurva yield terbalik (inverted yield curve), yang menjadi cerminan investor yang lebih meminati US Treasury seri panjang dibanding yang pendek karena menilai akan terjadi kontraksi jangka pendek, sekaligus indikator adanya potensi tekanan ekonomi bahkan hingga krisis.  


Yield US Treasury Acuan 14 Aug'19
SeriBenchmarkYield 13 Aug'19 (%)Yield 14 Aug'19 (%)Selisih (Inversi)Satuan Inversi
UST BILL 20193 Bulan2.0082.013 bulan-5 tahun46.4
UST 20202 Tahun1.6691.632 tahun-5 tahun8.4
UST 20213 Tahun1.6041.573 tahun-5 tahun2.4
UST 20235 Tahun1.5681.5463 bulan-10 tahun33.4
UST 202810 Tahun1.681.6762 tahun-10 tahun-4.6
Sumber: Refinitiv  


Terkait dengan porsi investor di pasar SBN, data Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu (DJPPR) terakhir menunjukkan investor asing menggenggam Rp 1.005,15 triliun SBN, atau 38,06% dari total beredar Rp 2.598 triliun berdasarkan data per 12 Agustus.  

Angka kepemilikannya masih positif atau bertambah Rp 111,92 triliun dibanding posisi akhir Desember Rp 893,25 triliun, sehingga persentasenya masih naik dari 37,71% pada periode yang sama. Meskipun demikian, dibanding akhir pekan lalu, posisi itu masih menunjukkan adanya arus keluar dana asing Rp 470 miliar. 

Penguatan di pasar surat utang hari ini juga terjadi di pasar ekuitas dan rupiah di pasar valas, yang masing-masingnya naik 0,55% dan 0,61%. 

Dari pasar surat utang negara berkembang, penguatan hanya terjadi di Thailand, sedangkan untuk negara maju yang menguat adalah pasar bunds Jerman, gilts Inggris, serta US Treasury di AS. Hal tersebut mencerminkan investor melepas obligasi pemerintah karena sedang mengalihkan dananya ke instrumen yang dianggap lebih memberikan return tinggi meskipun risikonya juga besar.  


Yield Obligasi Tenor 10 Tahun Negara Maju & Berkembang
NegaraYield 13 Aug'19 (%)Yield 14 Aug'19 (%)Selisih (basis poin)
Brasil7.2057.2050.00
China3.0233.0280.50
Jerman-0.609-0.612-0.30
Prancis-0.316-0.3130.30
Inggris 0.4930.489-0.40
India6.5186.6038.50
Jepang-0.234-0.2241.00
Malaysia3.4333.4471.40
Filipina4.2784.291.20
Rusia7.327.353.00
Singapura1.6481.6742.60
Thailand1.511.5-1.00
Amerika Serikat1.681.676-0.40
Afrika Selatan8.418.4251.50
Sumber: Refinitiv  



TIM RISET CNBC INDONESIA


(irv/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading