Pendapatan Susut, Laba Berlian Laju Tanker Merosot 83%

Market - Dwi Ayuningtyas, CNBC Indonesia
02 August 2019 14:28
pendapatan dan laba bersih perusahaan kompak membukukan pertumbuhan negatif. Foto: Doc.Berlian Laju Tanker
Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten pelayaran, PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA) menorehkan kinerja yang mengecewakan sepanjang paruh pertama tahun ini. Pasalnya, pendapatan dan laba bersih perusahaan kompak turun pada periode tersebut.

Hingga akhir Juni 2019, total pemasukan (top line) BLTA anjlok 16,61% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi US$ 10,57 juta atau setara Rp 149,53 miliar. Padahal pada semester I-2018, top line perusahaan mencapai US$ 12,68 juta atau Rp 179,22 miliar. (Asumsi kurs Rp 14.141/US$).

Melansir laporan keuangan perusahaan, penurunan pendapatan BLTA pada paruh pertama ini disebabkan pemasukan dari jasa kapal kimia terkontraksi 19,8% secara tahunan menjadi US$ 8,71 juta.


Lebih lanjut, kinerja perusahaan semakin tertekan karena bagian atas laba entitas ventura bersama merosot 58,52% YoY menjadi US$ 1,73 juta, dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$ 4,18 juta. Mayoritas (99%) penurunan laba ventura bersama berasal dari BLT Corporation (Teekay).

Untuk diketahui, Teekay merupakan ventura bersama yang didirikan pada tahun 2005 dan berbasis di Marshall Island. Usaha ventura bersama ini dibentuk untuk menyewakan kapal dalam sebuah proyek konsorsium diantara berbagai perusahaan internasional yang berhubungan dengan ekstraksi cadangan gas dari ladang gas Tangguh di Papua, Indonesia.

Sementara itu, pos lainnya yang turut mengikis keuntungan BLTA adalah kerugian atas selisih kurs mata uang asing sebesar US$ 179.197. Padahal sebelumnya, pada pos yang sama perusahaan membukukan keuntungan atas selisih kurs sebesar US$ 626.645. Ini berarti keuntungan yang hilang mencapai Rp 11,4 miliar.


Penurunan pada entitas ventura bersama dan rugi selisih kurs adalah pemicu utama yang mengakibatkan laba bersih BLTA anjlok 82,67% YoY. Sepanjang semester I-2019, keuntungan yang dapat dikantongi perusahaan sebesar US$ 697.829 atau setara Rp 9,87 miliar. Sedangkan keuntungan pada semester I-2018 mencapai US$ 4,03 juta atau setara Rp 56,95 miliar.

Sebagai informasi tambahan, bulan lalu BLTA mendapatkan notifikasi penghapusan pencatatan saham (delisting) oleh Otoritas Singapore Exchange Limited (SGX).

Hal ini dikarenakan perusahaan belum menyampaikan permohonan pembukaan kembali perdagangan saham kepada SGX sejak suspense saham dalam waktu 12 bulan sejak penghentian sementara perdagangan saham dimulai, yaitu tanggal 15 Januari 2012.


Dalam keterbukaan informasi, BLTA menyampaikan sedang mencari penasihat keuangan dan hukum guna memberikan saran atas notifikasi delisting ini dan perseroan juga masih berkomunikasi dengan SGX tentang hal tersebut. Hingga detik ini belum ada informasi terkait perkembangan terbaru isu tersebut.

BLTA tercatat di Bursa Singapura pada 2006 setelah sebelumnya pada 1990 tercatat di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya (kini BEI). Situs resmi perseroan mengungkapkan, BLTA melakukan amandemen PKPU yang disetujui oleh kreditor pada 14 Agustus 2015.

Saat ini BEI sudah membuka perdagangan saham BLTA sejak 29 Maret lalu. Tapi sampai saat ini harga sahamnya masih bersemayam di level Rp 50/saham alias saham gocap.

TIM RISET CNBC INDONESIA
Artikel Selanjutnya

Setelah Merugi, Berlian Laju Tanker Cetak Laba Rp 76 M


(dwa/hps)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading