Naik 2 Hari, Emas Dunia Hari Ini Turun ke Rp 641.458/gram

Market - Putu Agus Pransuamitra & Houtmand P Saragih, CNBC Indonesia
30 July 2019 09:07
Harga emas masih
Jakarta, CNBC Indonesia - Setelah menguat dua hari beruntun hingga Senin kemarin, harga emas dunia melemah pada pagi ini Selasa (30/7/19). Harga emas masih "galau" menunggu pengumuman suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) pada 31 Juli (1 Agustus waktu Indonesia).

Pada pukul 8:23 WIB, emas dunia diperdagangkan di level US$ 1.423,24/troy ounce atau Rp 641.458/gram (kurs: 1 US$ = Rp 14.015) di pasar spot, melansir data Refintiv. Posisi tersebut melemah di dibandingkan penutupan perdagangan Senin US$ 1.426,69/troy ounce atau Rp 642.927/gram.




"Terlihat jelas, pasar emas sedang menanti pernyataan The Fed pada hari Rabu (Kamis dini hari waktu Indonesia). Kita tahu suku bunga akan dipangkas sebesar 25 basis poin. Tapi pada Rabu nanti, pertanyaannya adalah apa yang kita dapat (berapa kali pemangkasan selanjutnya) dari sana" kata David Meger, direktur trading logam di High Ridge Futures, sebagaimana dikutip CNBC International.

Sampai saat ini pelaku pasar melihat The Fed berpeluang memangkas suku bunga sebanyak tiga kali di tahun ini, yakni di pekan ini, di bulan September, dan satu lagi Desember, dengan masing-masing sebesar 25 basis poin (bps).

Hal tersebut tercermin di piranti FedWatch milik CME Group yang menunjukkan probabilitas suku bunga The Fed sebesar 1,50%-1,75% di bulan Desember sebesar 37,2% berdasarkan data pukul 8:30 WIB. Persentase tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan probabilitas suku bunga lainnya. Tingkat suku bunga The Fed saat ini berada di level 2,25%-2,50%.



The Fed akan mengumumkan suku bunga pada 31 Juli (1 Agustus waktu Indonesia), Jerome Powell dan kolega pasti akan memangkas suku bunganya, begitulah ekspektasi para pelaku pasar yang juga terlihat di piranti FedWatch.

Data pagi ini menunjukkan pasar melihat ada probabilitas sebesar 75% The Fed akan memangkas suku bunga 25 bps menjadi 2,00%-2,225%, dan probabilitas sebesar 25% suku bunga dipangkas 50 bps menjadi 1,75%-2,00%.

Jika ditotal, probabilitas tingkat suku bunga acuan dipangkas (baik itu 25 bps maupun 50 bps) sudah mencapai 100%, yang berarti pelaku pasar melihat suku bunga pasti akan dipangkas, tinggal realisasinya berapa basis poin.

Mantan ketua The Fed sebelum Jerome Powell yakni Janet Yellen pada Senin kemarin menyatakan dukungan untuk memangkas suku bunga sebesar 25 bps. Yellen menjelaskan fokus AS seharusnya mempertahankan kondisi untuk pertumbuhan ekonomi yang kuat, yang bisa mempertahankan laju ekspansi.

"saya pikir terkait dengan risikonya (pelambatan ekonomi), saya cenderung untuk memangkas (suku bunga) sedikit. Saya tidak melihat ini sebagai awal dari siklus pelonggaran moneter, kecuali terjadi perubahan kondisi ekonomi" kata Yellen, sebagaimana dikutip CNBC International.

Pernyataan Ketua The Fed yang mengakhiri masa jabatannya selama empat tahun pada Februari 2018 lalu itu juga menunjukkan peluang Powell tidak akan agresif dalam memangkas suku bunga di tahun ini.



European Central Bank (ECB) saat mengumumkan suku bunga pada Kamis pekan lalu bersikap tidak terlalu dovish, dan terlihat tidak akan agresif dalam melonggarkan kebijakan moneter. Sementara Bank of Japan (BOJ) akan mengumumkan kebijakan moneternya pada hari ini, jika tidak terlalu dovish juga maka spekulasi The Fed tidak akan agresif akan semakin menguat, dan menjadi kabar buruk bagi emas.

Emas merupakan aset tanpa imbal hasil, sehingga semakin rendah suku bunga di AS dan secara global akan memberikan keuntungan yang lebih besar dalam memegang aset ini, begitu juga sebaliknya.

Harga Emas Terus Melesat, Setinggi Apa?
[Gambas:Video CNBC]

TIM RISET CNBC INDONESIA 




(pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading