Agar Akurat, Pefindo Biro Kredit Ramu Data dari Multi Sektor

Market - Rahajeng Kusumo Hastuti, CNBC Indonesia
11 July 2019 16:30
Agar Akurat, Pefindo Biro Kredit Ramu Data dari Multi Sektor
Jakarta, CNBC Indonesia- Pefindo Biro Kredit menegaskan seiring dengan perkembangan teknologi digital, pihaknya tidak bisa lagi hanya memanfaatkan data tradisional tunggal berupa data kredit. Biro kredit dinilai harus bisa memanfaatkan perkembangan data dari sektor lain sebagai alternatif.

"Kalau dulu hanya mengandalkan satu data, kalau sekarang banyak sumber data yang bisa digunakan sehingga keputusannya lebih komprehensif," kata Direktur Utama PT Pefindo Biro Kredit Yohannes Arts Abimanyu di sela Asia Credit Reporting Forum 2019, Kamis (11/07/2019).


Data lain yang bisa digunakan untuk pemberian seperti daya telekomunikasi, data tagihan listrik dan telepon, ataupun data sosial media.
Meski demikian, Yohannes menyebutkan data sosial media hingga kini masih digunakan sebagai alternatif untuk menganalisa kebiasaan dari calon debitur.


Data alternatif digunakan sebagai analisa karakter, di luar data kredit yang sudah ada. Jika calon debitur belum memiliki data kredit, maka bisa menggunakan data alternatif. Dengan begitu diharapkan masyarakat yang sebelumnya belum terjamah kredit, bisa mendapatkan fasilitas tersebut.

"Profil seseorang bisa dilihat dari behaviornya, bukan hanya dari data kredit. Ini juga bisa menjadi faktor memperoleh kredit. Setelah memperoleh kredit, maka datanya akan masuk ke sistem keuangan di Indonesia," jelasnya.

Saat ini yang sudah menggunakan data alternatif sebagai acuan untuk memberikan kredit adalah fintech, yang memang tidak memiliki basis data kredit.

"Fintech sudah memulai hal tersebut, sebagai biro kredit kita tidak boleh ketinggalan juga. Jadi tidak boleh menutup diri terhadap data-data yang memungkinkan membantu," kata Yohannes.


Langkah ini juga bisa meningkatkan inklusi keuangan, terutama dengan adanya data telekomunikasi. Yohannes menyebutkan meski belum terjamah bank, masyarakat bisa memiliki ponsel. Ada sekitar 160 juta orang Indonesia yang memiliki ponsel, meski diantaranya belum terjamah bank. Dengan memanfaatkan data tersebut, harusnya bisa membuka akses kredit dari yang sebelumnya tidak bisa dilakukan.

"Data telekomunikasi penting, kalau bisa memanfaatkan data tersebut apa yang menjadi target pemerintah inklusi keuangan 75% itu bisa tercapai," tegasnya.


(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading