Bak Roller Coaster; Harga Minyak Melesat Lagi, Gegara OPEC?

Market - Taufan Adharsyah, CNBC Indonesia
03 July 2019 09:08
Bak Roller Coaster; Harga Minyak Melesat Lagi, Gegara OPEC?
Jakarta, CNBC Indonesia - Setelah ditutup melemah lebih dari 4% pada perdagangan Selasa kemarin (2/7/2019), harga minyak mulai berbalik arah menguat. Anjloknya harga minyak kemarin disebabkan oleh data aktivitas industri manufaktur yang buruk di sejumlah negara.

Namun rencana negara-negara pengekspor minyak (OPEC) dan sekutunya untuk memperpanjang masa pemangkasan pasokan selama 9 bulan masih memberi dorongan ke atas pada harga si emas hitam.

Pada perdagangan hari Rabu (3/7/2019) pukul 08:30 WIB, harga minyak Brent kontrak pengiriman September naik 0,88% ke level US$ 62,95/barel. Adapun harga light sweet (WTI) menguat 0,78% menjadi US$ 56,68/barel.


Sehari sebelumnya, Brent dan WTI ditutup amblas masing-masing sebesar 4,09% dan 4,81%.




Awal pekan ini, berbagai lembaga merilis data Purchasing Manager's Indeks (PMI) manufaktur periode Juni di sejumlah negara. Data tersebut menggambarkan gairah industri manufaktur.

Sayangnya, data-data tersebut mengindikasikan industri manufaktur secara global makin tidak bergairah.


Di Amerika Serikat (AS), PMI manufaktur bulan Juni dibacakan sebesar 51,7 oleh INstitute Supply Management (IHS). Meskipun angka di atas 50 berarti masih terjadi ekspansi, namun capaian bulan Juni merupakan yang paling rendah sejak Oktober 2016.

Kabar dari China lebih buruk lagi, yang mana PMI manufaktur bulan Juni versi Caixin hanya 49,4 dan merupakan yang paling rendah sejak Januari 2019. Bahkan aktivitas industri manufaktur di China tengah mengalami kontraksi.

Sama halnya di Jepang, di mana pembacaan awal PMI manufaktur bulan Juni versi NIkkei yang sebesar 49,5 telah direvisi menjadi 49,3. Angka tersebut menunjukkan kontraksi yang paling parah dalam 3 bulan terakhir.

Sementara di Korea Selatan, PMI manufaktur bulan Juni jatuh ke posisi 47,5 dari 48,4 di bulan sebelumnya.

Nikkei menyebutkan bahwa penurunan angka PMI tersebut merupakan yang paling tajam dalam empat bulan terakhir. Sementara posisi bulan Juni merupakan kontraksi paling parah sejak Juni 2015.

Data-data tersebut membuat pelaku pasar ketakutan akan banjir pasokan yang bisa terjadi di tahun ini. Keseimbangan fundamental bisa sangat timpang dan membawa harga minyak lebih rendah lagi. Alhasil aksi jual kontrak pembelian minyak marak dilakukan.

Akan tetapi setidaknya masih ada sentimen positif yang memberi dorongan pada harga minyak, sehingga bisa berbalik arah menguat. Meskipun tipis.

Berdasarkan hasil pertemuan yang telah berlangsung selama dua hari di Wina, Austria, OPEC+ (OPEC dan sekutunya) sepakat untuk terus menahan pasokan di level yang sekarang hingga Maret 2020.

Seperti yang telah diketahui, awal Desember 2018, OPEC+ sepakat untuk memangkas produksi minyak hingga 1,2 juta barel/hari sepanjang Januari-Juni 2019. Jumlah tersebut setara dengan 1,2% permintaan global.

Dengan berlanjutnya kebijakan tersebut, maka setidaknya pasokan minyak mentah dunia tidak akan mengalami lonjakan dalam waktu dekat.

TIM RISET CNBC INDONESIA

(taa/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading