Reverse Stock, Upaya Bakrieland yang tak Tuntas Lunasi Utang

Market - Houtmand P Saragih, CNBC Indonesia
26 June 2019 13:45
Reverse Stock, Upaya Bakrieland yang tak Tuntas Lunasi Utang
Jakarta, CNBC Indonesia - Upaya PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) menyelesaikan masalah utang tahun lalu terhadang oleh penolakan investor. Ini membuat kinerja keuangan perseroan tak kunjung mengalami perbaikan.

Ujung-ujungnya perseroan tak bisa menyampaikan laporan keuangan 2018 secara tepat waktu. Hingga berita ini ditulis, Rabu (26/6/2019), di situs Bursa Efek Indonesia (BEI) tak ada laporan keuangan Bakrieland tahun buku 2018 dan kuartal I-2019.

Upaya perseroan untuk menyelesaikan masalah utang tersebut sudah dilakukan tahun lalu. Pada rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) sempat diagendakan rencana reverse stock split dalam sebagai bagian dari rencana restrukturisasi utang.



Namun RUPST tersebut batal digelar karena jumlah kehadiran pemegang saham tidak mencukupi atau tidak kuorum.

Lalu RUPST kedua dilaksanakan, jumlah suara sudah memenuhi syarat kuorum dengan kehadiran 34,01% dari jumlah kuorum yang ditetapkan 33,3%.

Namun, RUPST kedua kali ini diwarnai dengan berbagai aksi kecaman hingga protes keras dari pemegang saham dan sempat menunjukkan kartu merah kepada jajaran dewan direksi ELTY.

Para pemegang saham berkeras meminta keterbukaan dari manajemen terkait rencana restrukturisasi utang serta menyebar ke rencana penggabungan nilai saham (reverse stock perseroan).

Tahun lalu, Manajemen PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) menuturkan latar belakang dan tujuan jangka panjang penggabungan saham (reverse stock).

Direktur Utama dan CEO ELTY Ambono Janurianto menuturkan restrukturisasi utang yang akan dilakukan perseroan pasca-reverse stock, diharapkan bisa berkontribusi pada performa keuangan perseroan. Menurut Ambono opsi reverse stock lebih baik dibanding menjual aset perseroan.

Selain itu, reverse stock juga menjadi syarat utama perseroan jika ingin melakukan kembali aksi korporasi pendanaan ke depannya. Pasalnya harga saham Rp 50/saham, membuat saham Bakrieland tak banyak lagi ditransaksikan investor.

"Orang bilang reverse stock itu mempercantik harga saham, tapi kami melakukannya untuk mengoptimalisasi harga saham ke dalam trading range yang baik. Kalau jual aset sama saja, utang lunas namun aset tidak ada akhirnya kami tidak bisa melakukan pengembangan dan tidak ada pertumbuhan kan," ujar Ambono di Hotel Aston Rasuna, Jumat (22/6/2018).

Saat ini, rasio utang (debt) per EBITDA ( Earning Before Interest, Taxes, Depreciation dan Amortization) perseroan memiliki rasio mencapai 1:14. Menurut Ambono, reverse stock dapat mendorong restrukturisasi utang perseroan menjadi menurun hingga single digit dibandingkan dengan EBITDA.

Melansir laporan keuangan kuartal III-2018, total utang ELTY mencapai Rp 4,17 triliun.

Perusahaan memiliki utang yang cukup tinggi kepada PT Bank Mayapada Internasional Tbk (Bank Mayapada) dan PT Geo Link Indonesia (GLI) dengan nilai masing-masing sebesar Rp 671,48 miliar dan Rp 313,5 miliar.

Jaminan atas pinjaman Bank Mayapada adalah sertifikat hak guna bangunan, sedangkan jaminan ke GLI adalah 2,22 milar lembar saham PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk yang merupakan pengelola Jungleland.

Sedangkan untuk aset tanah (land bank), perseroan menyatakan memiliki sekitar 1.500 hektar di wilayah Bogor hingga Sidoarjo yang akan digunakan perseroan untuk pengembangan bisnis utamanya yaitu sektor properti.

"Cost of debt terakhir kami di atas 12%, jika reverse stock maka kami akan merestrukturisasi bayar bunga dan pokok utang dan di sisi lain kami meningkatkan performa dengan pembangunan pada aset yang telah ada," tambah Ambono.

Selaku pimpinan tertinggi pada perseroan, Ambono mengatakan penolakan rencana reverse stock dari pemegang saham perseroan menjadi tantangan tersendiri bagi dirinya dan juga manajemen. Pihaknya saat ini terus berusaha untuk mengimbangi keinginan dari bond holder yaitu PT Geo Link Indonesia dan para pemegang saham untuk bisa sepakat dengan rencana tersebut.

Dirinya menambahkan, reverse stock menjadi satu-satunya pilihan bagi perseroan dan tetap akan dilanjutkan hingga persetujuan lewat kuorum pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) ketiga yang akan dilakukan perseroan.

Reverse Stock, Upaya Bakrieland Lunasi Utang yang Tak TuntasFoto: Investor berikan kartu merah kepada Direksi Bakriland saat RUPST tahun lalu. (CNBC Indonesia/Tito Bosnia).

"Awalnya saya tidak mau reverse stock tapi karena deadlock ya harus dilakukan. Reverse stock itu memang sakit di awalnya, namun belajar dari perusahaan lainnya seperti Citibank dulu yang reverse hingga 20 kali rasionya bisa menjamin pertumbuhan perusahaan," ujar Ambono.

Pada 2018 Bakrieland mengembangkan proyek properti Kahuripan Nirwana Sidoarjo sektor 2 di atas tanah seluas 219 hektar. Saat ini properti di sektor satu sudah didirikan dan dilakukan penjualan di atas lahan sebesar 83 hektar dari total land bank 600 hektar.

Selain itu, perseroan juga berencana untuk melakukan proyek utilisasi dan redevelopment Gedung Bakrie Tower 2 menjadi 29 lantai seluas 32.000 meter persegi.

Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tak memberikan kepastian terkait restu untuk PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) yang ingin melaksanakan penggabungan nilai saham (reverse stock split). Menurut pejabat OJK perlindungan investor publik jadi pertimbangan utama terkait keputusan tersebut.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen mengatakan meski ELTY sudah mengajukan proposal pelaksanaan reverse stock. Namun OJK masih mempelajari permohonan perusahaan tersebut.

"Jadi kan terkait kemarin saya sampaikan sudah diperiksa proposalnya sebetulnya kepentingan emiten ke kita adalah untuk meminta kuorum RUPS ke tiga tapi kan kita bukan cuma lihat persetujuan kuorumnya tapi juga substansinya dari reverse stock yang dilakukan intinya issue-nya adalah concern untuk perlindungan investor publik kan," kata Hoesen di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (26/11/2018). (hps/prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading