Gali Lubang Tutup Lubang, Siasat Bakrieland Terhindar Pailit

Market - Dwi Ayuningtyas & Dwi Ayuningtyas, CNBC Indonesia
26 June 2019 16:35
Gali Lubang Tutup Lubang, Siasat Bakrieland Terhindar Pailit
Jakarta, CNBC Indonesia - 'Gali lubang tutup lubang', frase inilah yang kerap kali terlintas dalam benak pelaku pasar ketika menggambarkan metode yang diambil anak usaha Grup Bakrie dalam menangani utangnya, tidak terkecuali PT Bakrieland Development Tbk (ELTY).

Mari kita tilik lebih dalam bagaimana manuver ELTY untuk dapat melunasi pembayaran kewajiban tanpa mendapat surat cinta berupa gugatan pailit dari kreditur? Kata kuncinya adalah restrukturisasi.

Grafik di bawah ini menunjukkan bahwa total utang ELTY sempat menyentuh Rp 8,02 triliun di akhir tahun 2015. Setelah ditilik lebih rinci komponen terbesar yang membuat utang perusahaan menggunung periode itu adalah equity-linked bonds atau obligasi konversi dengan nilai mencapai Rp 3,19 triliun.




Obligasi konversi tersebut merupakan obligasi yang diterbitkan oleh anak usaha ELTY yang berbasis di Singapura BLD Investment Ltd (BLDI) dengan nominal awal US$ 155 juta dan suku bunga tahunan 8,625%/tahun.

ELTY berkedudukan sebagai penjamin obligasi, dimana jika anak usaha gagal memenuhi kewajibannya ELTY wajib untuk melunasi utang tersebut yang jatuh tempo pada 2015.

Pada tahun 2013 perusahaan bahkan sempat digugat pailit oleh The Bank Of New York Mellon cabang London karena pemegang obligasi menuntut pembayaran dipercepat. Proses persidangan berlangsung hingga akhir tahun 2017, dimana beban obligasi konversi ini terus menekan kinerja perusahaan.

Selanjutnya pada kuartal III-2018 tidak ada sisa beban di pos obligasi konversi. Pasalnya ELTY telah melakukan pembayaran kewajiban melalui penerbitan waran dan penyerahan 37,9% atau setara 8,56 miliar saham milik Entitas Anak dalam PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk (JGLE).

Kemelut lainnya adalah terkait pelunasan pinjaman investasi dari PT Geo Link Indonesia (GLI) dengan nilai pagu pinjaman mencapai Rp 500 miliar.

Melansir public expose perusahaan November 2018, perusahaan menggunakan Rp 313,5 miliar pinjaman dari GLI untuk melunasi sebagian utang ELTY ke Bank Bukopin dan Bank BRI. Padahal pinjaman GLI jatuh tempo pada Desember 2018.

Nah, bagaimana perusahaan melunasi utang ke GLI?

Manajemen perusahaan menawarkan metode restrukturisasi utang dengan dikonversi menjadi kepemilikan saham. Namun pihak GLU mengajukan persyaratan bahwa perusahaan harus menggabungkan saham terlebih dahulu agar nilainya lebih baik.

Oleh karena itu, pada kuartal IV-2018 pasar sempat dihebohkan atas niat ELTY untuk melakukan penggabungan saham atau reverse stock split dengan skala 10:1.

Sayangnya, rencana penggabungan saham tersebut ditolak kuorum. Hal ini sungguh wajar lantaran harga saham ELTY selalu stagnan di level Rp 50/unit saham. Apabila dilakukan reverse stock menjadi Rp 500/unit saham, bisa saja nilainya langsung turun.

Sementara itu, utang jangka pendek lainnya yang harus segera dilunasi perusahaan adalah utang ke PT Bank Mayapada Internasional Tbk sebesar Rp 671,48 miliar, PT Bank Bukopin Tbk senilai Rp 9,59 miliar, dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk senilai US$ 1,07 juta.

Sebagai informasi tambahan, metode umum lainnya yang dilakukan perusahaan untuk melunasi utang atau membiayai modal usaha termasuk menjual kepemilikan lahan atau melepas investasi atas kepemilikan saham.

Melansir laporan keuangan perusahaan kuartal III-2018, kepemilikan saham atau aset yang siap dijual perusahaan mencakup hak milik perusahaan atas PT Bakrie Nirwana Semesta dan PT Dwi Makmur Sedaya.

Kedua entitas anak tersebut sudah dalam keadaan siap untuk dilepaskan dengan tujuan membayar utang yang dimiliki perusahaan.

Mari kita terus cermati manuver apalagi yang akan dilakukan perusahaan untuk melunasi kewajibannya.

TIM RISET CNBC INDONESIA (hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading